Logo
>

Reli Greenback Kendor, Rupiah Dekati Level Psikologi

Dolar AS melemah di tengah harapan perdamaian AS-Iran, sementara rupiah menguat 0,84 persen dalam sepekan berkat kebijakan BI dan derasnya arus modal asing.

Ditulis oleh Yunila Wati
Reli Greenback Kendor, Rupiah Dekati Level Psikologi
Kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bergerak di level 99,75. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat berlindung investor, mulai kehilangan sebagian tenaganya. Sementara, rupiah justru menunjukkan performa yang semakin meyakinkan.

Harapan damai Amerika Serikat dan Iran membuat pelaku pasar mulai berani meninggalkan aset-aset safe haven dan kembali memburu instrumen berisiko di negara berkembang, termasuk Indonesia.

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia bergerak di level 99,75 setelah sebelumnya menyentuh titik terendah dalam sepekan. Euro bertahan di sekitar USD1,157 per euro, sementara poundsterling dan mata uang utama lainnya juga relatif stabil.

Meski demikian, pelemahan dolar masih berlangsung secara terbatas. Investor memilih bersikap hati-hati karena pekan depan Federal Reserve akan menggelar rapat kebijakan moneter pertama di bawah kepemimpinan Kevin Warsh.

Pasar memperkirakan suku bunga akan tetap berada pada kisaran 3,50 hingga 3,75 persen. Namun pelaku pasar masih melihat peluang lebih dari 50 persen bahwa bank sentral Amerika Serikat akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Ekspektasi tersebut membuat dolar belum kehilangan daya tarik sepenuhnya. Data inflasi dan harga produsen Amerika Serikat yang lebih tinggi dari perkiraan masih memberikan alasan bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

BI: Sepekan Rupiah Menguat 0,84 Persen

Di tengah dinamika global tersebut, rupiah justru mencatatkan performa yang jauh lebih kuat.

Bank Indonesia mencatat rupiah ditutup di level Rp17.865,75 per dolar AS pada Jumat, 12 Juni 2026. Dalam satu pekan, mata uang Garuda menguat sekitar 0,84 persen dibandingkan posisi 5 Juni yang berada di level Rp18.010,20 per dolar AS.

Penguatan tersebut bukan hanya dipengaruhi oleh pelemahan dolar global, tetapi juga didorong oleh kombinasi kebijakan domestik yang dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor.

Bank Indonesia telah menaikkan BI Rate menjadi 5,50 persen sekaligus memperkuat struktur suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, insentif hedging swap bagi investor asing, pembukaan akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan, serta intensifikasi operasi moneter di pasar rupiah dan valuta asing turut memperkuat stabilitas pasar keuangan nasional.

Strategi tersebut langsung mendapat respons positif dari investor global.

Pada 10 Juni 2026, arus modal asing yang masuk ke instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara mencapai Rp15,11 triliun. Sehari kemudian, aliran dana asing kembali bertambah sebesar Rp3,91 triliun.

Minat investor juga terlihat pada obligasi internasional Danantara yang berhasil menghimpun dana sekitar Rp26,9 triliun melalui penjualan perdana. Angka tersebut menjadi sinyal bahwa kepercayaan terhadap aset-aset Indonesia mulai kembali meningkat setelah sempat mengalami tekanan akibat gejolak global.

Kerja Sama dengan China dan Hong Kong

Dari sisi eksternal, Bank Indonesia juga memperkuat fondasi stabilitas rupiah melalui kerja sama dengan People's Bank of China dan Hong Kong Monetary Authority. Kesepakatan tersebut mencakup penguatan Bilateral Currency Swap Agreement serta perluasan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui skema Local Currency Transaction.

Langkah ini dinilai penting karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan internasional sekaligus memperkuat ketahanan nilai tukar ketika volatilitas global meningkat.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti, optimistis kombinasi kebijakan moneter, derasnya aliran modal asing, serta koordinasi erat dengan pemerintah akan membawa rupiah bergerak menuju nilai fundamentalnya.

Prospek tersebut semakin menarik jika sentimen global terus membaik. Apabila kesepakatan damai Amerika Serikat dan Iran benar-benar terwujud, tekanan terhadap harga minyak dapat mereda sehingga risiko inflasi global ikut menurun. Kondisi itu berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Meski begitu, pasar masih akan menghadapi ujian besar pada pekan depan melalui keputusan Federal Reserve. Jika bank sentral Amerika memilih mempertahankan sikap hawkish, penguatan dolar bisa kembali terjadi. Sebaliknya, apabila The Fed memberikan sinyal yang lebih lunak, ruang penguatan rupiah akan semakin terbuka.

Untuk saat ini, arah pergerakan pasar mulai menunjukkan perubahan. Dolar AS tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan investor, sementara rupiah perlahan kembali mendapatkan kepercayaan. Kombinasi sentimen global yang membaik dan kebijakan domestik yang agresif membuat mata uang Indonesia memiliki peluang untuk melanjutkan tren penguatan dalam beberapa waktu ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79