KABARBURSA.COM - Emas luntur lagi. Konflik geopolitik yang masih memanas, harga energi yang tinggi, dan ketidakpastian ekonomi global, membuat logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset pelindung nilai, terus terpuruk.
Pada perdagangan Jumat waktu Amerika Serikat, harga emas dunia kembali mengalami tekanan hebat. Harga emas spot merosot hampir 3 persen dalam sehari dan ditutup di kisaran USD4.341 per ons troi. Dalam sepekan, penurunannya mencapai lebih dari 4 persen.
Yang lebih mengejutkan, sejak konflik antara Amerika Serikat dan Iran pecah pada akhir Februari lalu, harga emas telah kehilangan lebih dari 17 persen nilainya.
Situasi ini membuat banyak pelaku pasar bertanya-tanya. Bukankah emas biasanya bersinar ketika dunia dipenuhi ketidakpastian?
Jawabannya terletak pada satu faktor yang saat ini jauh lebih kuat daripada ketakutan geopolitik, yaitu ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.
Pemicu terbaru datang dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pekan ini. Data menunjukkan ekonomi terbesar dunia tersebut menciptakan 172.000 lapangan kerja baru sepanjang Mei 2026. Angka itu jauh melampaui perkiraan pasar yang sebelumnya hanya berada di kisaran 85.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran juga bertahan pada level yang relatif rendah di 4,3 persen.
Bagi perekonomian, data tersebut merupakan kabar baik. Namun bagi pasar emas, laporan itu menjadi pukulan telak.
Perubahan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga
Investor segera menyimpulkan bahwa Federal Reserve atau The Fed tidak memiliki alasan untuk segera memangkas suku bunga. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan pada akhir tahun apabila tekanan inflasi kembali meningkat.
Perubahan ekspektasi itu langsung tercermin di pasar keuangan.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat melonjak karena investor memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama. Kenaikan imbal hasil obligasi membuat emas kehilangan sebagian besar daya tariknya.
Berbeda dengan obligasi atau deposito, emas tidak memberikan bunga maupun dividen. Ketika instrumen berbunga menawarkan imbal hasil yang semakin menarik, biaya peluang untuk memegang emas ikut meningkat.
Inilah alasan mengapa investor mulai mengurangi kepemilikan emas meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Masalahnya tidak berhenti sampai di situ.
Konflik di Timur Tengah juga menciptakan paradoks baru bagi pasar logam mulia. Secara historis, perang biasanya mendorong harga emas naik karena investor mencari aset aman. Namun kali ini perang justru memicu lonjakan harga energi yang memperburuk kekhawatiran inflasi global.
Harga minyak Brent terus menunjukkan tren kenaikan dan berpotensi mencatat penguatan mingguan. Lonjakan harga energi tersebut meningkatkan risiko inflasi yang lebih persisten di berbagai negara.
Semakin tinggi inflasi, semakin kecil peluang bank sentral memangkas suku bunga.
Artinya, perang yang seharusnya menjadi katalis positif bagi emas justru menciptakan kondisi yang membuat The Fed harus mempertahankan kebijakan moneternya tetap ketat.
Pasar pun mulai mengubah ekspektasinya secara agresif. Berdasarkan perhitungan pelaku pasar, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember kini melonjak menjadi sekitar 72 persen. Sebelum laporan ketenagakerjaan dirilis, peluang tersebut hanya berada di sekitar 50 persen.
Perubahan persepsi yang begitu cepat menjadi salah satu alasan utama mengapa tekanan jual terhadap emas semakin besar.
Dari sisi permintaan fisik, situasinya juga belum memberikan dukungan berarti.
Emas Asia Masih Lesu
Di India, salah satu konsumen emas terbesar dunia, aktivitas pembelian masih relatif lesu. Musim pernikahan yang biasanya menjadi pendorong utama konsumsi emas mulai berakhir sehingga permintaan perhiasan menurun.
Toko-toko perhiasan di berbagai kota juga melaporkan penurunan jumlah pengunjung dalam beberapa pekan terakhir.
Pemerintah India sebelumnya menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15 persen dari sebelumnya 6 persen. Kebijakan tersebut membuat harga emas domestik semakin mahal dan mendorong sebagian konsumen menunda pembelian.
Tidak hanya itu, dana investasi berbasis emas atau exchange traded fund (ETF) di India bahkan mencatat arus keluar dana bersih pertama dalam setahun pada Mei lalu. Banyak investor memilih merealisasikan keuntungan setelah harga emas sempat melonjak tajam beberapa waktu lalu.
Di China, kondisi yang tidak jauh berbeda juga terlihat.
Premi emas fisik di negara konsumen terbesar dunia itu mulai menurun dibandingkan pekan sebelumnya. Kekhawatiran terhadap kenaikan suku bunga global dan meningkatnya imbal hasil obligasi ikut mengurangi minat investor untuk menambah kepemilikan logam mulia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pelemahan emas saat ini bukan hanya dipicu oleh faktor spekulatif di pasar keuangan, tetapi juga didukung oleh melemahnya permintaan fisik di dua pasar terbesar dunia.
Meski demikian, belum semua pihak kehilangan optimisme terhadap emas.
Sebagian analis percaya bahwa logam mulia masih memiliki peluang bangkit apabila inflasi mulai mereda atau ketegangan geopolitik menemukan jalan penyelesaian. Jika harga energi stabil dan tekanan inflasi berkurang, ekspektasi pasar terhadap suku bunga dapat kembali berubah.
Namun untuk saat ini, arah pasar tampaknya masih ditentukan oleh kebijakan The Fed.
Selama investor percaya suku bunga akan tetap tinggi dalam waktu lama, emas kemungkinan akan terus menghadapi tekanan. Di tengah perang, inflasi, dan ketidakpastian global, logam mulia yang selama ini dikenal sebagai tempat berlindung justru sedang kehilangan pesonanya.
Ironisnya, ancaman yang biasanya membuat emas bersinar kini menjadi alasan utama mengapa investor memilih menjauh.(*)