Logo
>

Cadangan Minyak Global Menipis, Goldman Sachs Ingatkan ini

Harga minyak masih bertahan di bawah USD100 per barel, namun cadangan global terus menyusut. Analis memperingatkan potensi lonjakan harga yang lebih besar dalam beberapa pekan ke depan.

Ditulis oleh Yunila Wati
Cadangan Minyak Global Menipis, Goldman Sachs Ingatkan ini
Persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam telah berkurang sekitar 64 juta barel sejak konflik dimulai. (Foto: KabarBursa)

KABARBURSA.COM – Cadangan minyak global terus menyusut. Namun, hingga saat ini harga belum bergerak agresif. Harga minyak Brent ditutup turun ke kisaran USD93 per barel pada perdagangan terbaru. Sementara, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di sekitar USD90 per barel.

Sejumlah eksekutif energi dan analis memperingatkan kemungkinan terjadinya guncangan harga minyak tahap kedua. Guncangan tersebut diperkirakan berpotensi lebih besar dibanding lonjakan yang telah terjadi sejak awal konflik.

Normalnya, gangguan besar pada pasokan minyak global akan langsung mendorong harga melesat tajam. Tapi, kali ini harga minyak relatif mampu bertahan di bawah USD100 per barel meskipun lalu lintas tanker melalui Selat Hormuz masih belum sepenuhnya pulih.

Selat Hormuz bukan jalur biasa. Kawasan ini menjadi salah satu titik terpenting bagi perdagangan energi dunia karena sebagian besar ekspor minyak dari Timur Tengah harus melewati wilayah tersebut sebelum mencapai pasar global.

Ketika jalur tersebut terganggu, pasar sebenarnya menghadapi ancaman pasokan yang sangat serius.

Selama beberapa bulan terakhir, Amerika Serikat mengeluarkan cadangan minyak strategisnya dalam jumlah besar untuk menstabilkan pasokan. Badan Energi Internasional (IEA) juga mengoordinasikan pelepasan cadangan minyak global dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Langkah tersebut berhasil meredam kepanikan pasar.

Namun sekarang muncul masalah baru. Cadangan yang selama ini menjadi tameng perlindungan mulai terkuras.

Stok Minyak AS Turun ke Level Terendah

Data terbaru menunjukkan stok minyak Amerika Serikat, termasuk cadangan strategisnya, turun ke level terendah sejak awal 2024. Persediaan minyak mentah Negeri Paman Sam telah berkurang sekitar 64 juta barel sejak konflik dimulai dan terus mengalami penurunan selama delapan pekan berturut-turut.

Fenomena serupa juga terlihat di berbagai wilayah lain.

Inilah yang membuat sejumlah analis mulai mengeluarkan peringatan yang lebih keras dibanding sebelumnya.

Petinggi ExxonMobil Neil Chapman, bahkan memperingatkan bahwa apabila persediaan global terus menyusut hingga level kritis, harga minyak Brent berpotensi melonjak ke kisaran USD150 hingga USD160 per barel.

Prediksi tersebut terdengar ekstrem. Ketika cadangan mulai menipis, pasar kehilangan kemampuan untuk menyerap gangguan tambahan. Pada titik itulah harga harus melakukan penyesuaian yang jauh lebih agresif.

Permintaan Minyak Melemah

Menariknya, di tengah ancaman tersebut, permintaan global melemah. Goldman Sachs memperkirakan konsumsi minyak dunia turun antara 4 juta hingga 5 juta barel per hari pada April. Penurunan tersebut setara dengan sekitar 4 hingga 5 persen dari total permintaan global.

Pelemahan paling besar terjadi di China dan Eropa Barat.

Data penjualan bahan bakar ritel di kedua kawasan menunjukkan aktivitas konsumsi yang lebih lemah dibanding perkiraan. Perlambatan ekonomi serta tingginya harga energi membuat masyarakat dan sektor industri mulai mengurangi penggunaan bahan bakar.

Goldman Sachs masih mempertahankan proyeksi harga Brent di sekitar USD90 per barel pada kuartal IV 2026. Namun bank investasi tersebut mengakui bahwa risiko harga kini bergerak ke dua arah sekaligus.

Jika permintaan terus melemah, harga minyak dapat mengalami tekanan turun.

Sebaliknya, jika Selat Hormuz tetap terganggu dan cadangan minyak global terus menurun, pasar bisa menghadapi lonjakan harga yang jauh lebih besar.

Dampak Kenaikan Harga Energi

Kenaikan hHarga minyak tidak hanya mempengaruhi sektor energi. Minyak menjadi komponen dasar biaya transportasi, logistik, manufaktur, hingga kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Biasanya, ikut meningkat.

Jika inflasi kembali menguat, bank-bank sentral dunia akan semakin sulit menurunkan suku bunga. Akibatnya, biaya pinjaman tetap tinggi, pertumbuhan ekonomi melambat, dan tekanan terhadap pasar keuangan meningkat.

Banyak manajer investasi kini menilai bahwa konflik di Timur Tengah telah menciptakan premi risiko permanen pada harga energi global. Bahkan jika ketegangan mereda dalam waktu dekat, pasar belum tentu kembali ke era minyak murah seperti sebelum perang.

Beberapa analis bahkan menyebut harga minyak di bawah USD70 per barel kini semakin sulit dibayangkan dalam jangka menengah.

Bagi Amerika Serikat, dampaknya mungkin masih relatif terkendali karena negara tersebut merupakan produsen minyak besar. Namun bagi Eropa dan sebagian besar negara Asia yang masih bergantung pada impor energi, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama.

Itulah sebabnya perhatian investor kini tidak lagi hanya tertuju pada harga minyak hari ini.

Fokus utama pasar justru mengarah pada satu pertanyaan yang lebih besar: berapa lama dunia mampu bertahan dengan cadangan energi yang terus menyusut?

Selama pertanyaan itu belum terjawab dan jalur distribusi energi global belum kembali normal, ancaman lonjakan harga minyak masih akan menghantui pasar.

Dan jika para analis benar, gejolak terbesar mungkin bukan sedang terjadi sekarang, melainkan baru akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79