KABARBURSA.COM – Sepekan terakhir, dolar Amerika Serikat naik tajam. Pasar saham yang bergejolak, harga emas yang tertekan, serta ketidakpastian geopolitik, membuat investor ramai-ramai membeli dolar AS sebagai lindung aset.
Pekan ini menjadi salah satu periode terbaik bagi mata uang Negeri Paman Sam dalam beberapa bulan terakhir. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama dunia mencatat kenaikan lebih dari 1 persen dalam sepekan.
Di pasar valuta asing, dolar menguat terhadap euro, poundsterling, yen Jepang, hingga berbagai mata uang negara berkembang.
Ada dua faktor utama yang menguatkan, yaitu ketahanan ekonomi Amerika Serikat dan meningkatnya permintaan aset aman akibat konflik di Timur Tengah.
Pemicu pertama datang dari laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis pada Jumat waktu setempat. Data menunjukkan ekonomi AS mampu menciptakan 172.000 lapangan kerja baru sepanjang Mei 2026. Angka tersebut jauh melampaui perkiraan pasar yang hanya berada di kisaran 85.000 pekerjaan.
Bagi investor, laporan tersebut mempertegas bahwa ekonomi Amerika Serikat masih jauh dari kondisi yang membutuhkan stimulus moneter tambahan.
Pasar sebelumnya berharap perlambatan ekonomi akan mendorong Federal Reserve atau The Fed untuk mulai mempertimbangkan pemangkasan suku bunga. Namun data terbaru justru menunjukkan aktivitas ekonomi masih cukup kuat untuk bertahan di tengah suku bunga tinggi.
Harapan pemangkasan suku bunga pun semakin memudar. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai membuka kembali skenario yang beberapa bulan lalu dianggap terlalu agresif, yakni kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan sebelum akhir tahun.
Perubahan ekspektasi tersebut menjadi bahan bakar utama penguatan dolar.
Alasannya sederhana. Ketika suku bunga Amerika Serikat diperkirakan bertahan lebih tinggi dibanding negara-negara lain, investor global cenderung mengalihkan dana mereka ke aset berbasis dolar untuk mendapatkan imbal hasil yang lebih menarik.
Arus modal itu secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap dolar AS.
Namun kekuatan dolar saat ini tidak hanya berasal dari faktor ekonomi domestik Amerika.
Di saat yang sama, konflik geopolitik di Timur Tengah kembali menambah tekanan terhadap pasar global.
Perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran belum menunjukkan kemajuan berarti. Ketegangan yang kembali meningkat memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berlangsung lebih lama dari perkiraan pasar.
Situasi tersebut juga berdampak langsung terhadap pasar energi.
Harga minyak dunia bertahan di atas level USD90 per barel setelah muncul kekhawatiran mengenai gangguan distribusi energi melalui Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan minyak terpenting di dunia.
Bagi negara-negara pengimpor energi seperti Jepang, kawasan Eropa, dan China, kenaikan harga minyak menjadi ancaman serius karena dapat memperburuk inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi.
Dalam kondisi seperti itu, investor biasanya mencari aset yang dianggap paling aman dan paling likuid. Dan hingga saat ini, dolar AS masih menjadi pilihan utama.
Tidak mengherankan jika mata uang Amerika menjadi pemenang terbesar dari kombinasi ketidakpastian ekonomi dan geopolitik yang terjadi saat ini.
Dampak penguatan dolar terlihat jelas pada pergerakan mata uang utama dunia.
Yen Merosot, Tembus Level Psikologis
Yen Jepang kembali menjadi salah satu korban terbesar.
Mata uang Jepang menembus level psikologis 160 yen per dolar AS, sebuah titik yang selama ini menjadi perhatian serius pemerintah Jepang. Level tersebut bukan angka biasa karena beberapa kali dalam beberapa tahun terakhir memicu intervensi langsung dari otoritas Jepang untuk menstabilkan pasar.
Pemerintah Jepang bahkan kembali mengeluarkan peringatan keras kepada pelaku pasar bahwa mereka siap mengambil tindakan tegas apabila volatilitas nilai tukar dianggap berlebihan.
Masalah bagi Jepang adalah kondisi saat ini cukup rumit. Di satu sisi, Bank of Japan diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga untuk menekan tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan biaya impor energi. Namun di sisi lain, kekuatan dolar yang begitu dominan membuat upaya penguatan yen menjadi jauh lebih sulit.
Euro tertekan Harga Energi
Tekanan juga dirasakan oleh euro.
Mata uang tunggal Eropa melemah setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat dirilis. Padahal pasar sebelumnya memperkirakan Bank Sentral Eropa atau ECB masih memiliki ruang untuk menaikkan suku bunga beberapa kali sepanjang tahun ini.
Namun investor tampaknya lebih fokus pada dampak negatif kenaikan harga energi terhadap ekonomi Eropa.
Ketergantungan kawasan euro terhadap impor energi membuat lonjakan harga minyak berpotensi menjadi beban tambahan bagi pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut.
Akibatnya, euro kehilangan daya tarik dibandingkan dolar yang justru diuntungkan oleh kondisi saat ini.
Menariknya, penguatan dolar juga memberikan tekanan terhadap berbagai aset berisiko lainnya.
Harga emas kembali turun karena ekspektasi suku bunga tinggi meningkatkan biaya peluang memegang logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil. Di pasar kripto, Bitcoin juga mengalami tekanan besar dan menuju salah satu penurunan mingguan terdalam tahun ini.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pasar saat ini sedang memasuki fase yang berbeda dibanding beberapa bulan sebelumnya.
Jika sebelumnya investor berani mengambil risiko dengan memburu saham teknologi, kripto, dan komoditas, kini fokus mulai bergeser pada perlindungan modal dan pencarian imbal hasil yang lebih pasti.
Untuk sementara waktu, dolar menjadi simbol dari kedua kebutuhan tersebut.
Selama ekonomi Amerika Serikat tetap menunjukkan ketahanan, inflasi masih menjadi ancaman, dan konflik Timur Tengah belum menemukan jalan keluar yang jelas, posisi dolar kemungkinan akan tetap kuat.(*)