KABARBURSA.COM -- Pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) mempercepat strategi ganda untuk menahan laju penurunan produksi minyak dan gas bumi (lifting) nasional.
Langkah agresif ini ditempuh dengan membuka keran investasi pada 118 potensi Wilayah Kerja (WK) migas baru sekaligus melepas puluhan struktur ladang migas yang menganggur (idle) milik Pertamina kepada investor swasta.
Akselerasi di sektor hulu ini merupakan bagian dari instruksi langsung Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, yang mengombinasikan proyek eksplorasi jangka panjang dengan pemanfaatan aset tidur untuk menggenjot produksi dalam jangka pendek.
Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa penyiapan ratusan prospek blok baru ini didanai langsung oleh kas negara melalui kolaborasi instansi internal dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS).
“Sesuai arahan Bapak Menteri ESDM, bahwa eksplorasi migas harus masif dan dilakukan percepatan, dalam rangka penemuan cadangan migas baru untuk mendukung produksi migas nasional. Sejak tahun lalu kita aktif untuk menyiapkan potensi wilayah kerja migas baru, termasuk yang disiapkan oleh Badan Geologi Kementerian ESDM dan Lemigas melalui pembiayaan APBN, serta Direktorat Pembinaan Usaha Hulu Migas dan KKKS,” ungkap Laode Sulaeman, dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu, 30 Mei 2026.
Berdasarkan data komersial per 20 Mei 2026, respons pelaku pasar terhadap 118 portofolio blok migas baru yang disiapkan pemerintah menunjukkan tren positif. Rantai pemanfaatan aset tersebut saat ini terbagi ke dalam tiga status utama:
25 Wilayah: Sudah diminati investor dan resmi menandatangani kontrak kerja sama.
43 Wilayah: Masih dalam tahap studi bersama (joint study).
50 Wilayah Sisa: Masuk dalam daftar tunggu untuk segera dilelang secara reguler atau dikerjasamakan lewat skema penawaran langsung.
Di sisi lain, subholding hulu PT Pertamina Hulu Energi (PHE) bergerak cepat mengeksekusi Peraturan Menteri ESDM Nomor 14 Tahun 2025 dengan menyiapkan sekitar 41 struktur idle untuk dikelola melalui skema Kerja Sama Operasi/Teknologi (KSOT).
Adapun 22 struktur idle diantaranya, telah di sosialisasikan dan juga diumumkan secara khusus pada IPA Convex 2026 lalu. Dari 22 struktur yang ditawarkan tersebut, sebanyak 8 struktur berada di wilayah operasional Regional 1 (Sumatera), sebanyak 4 struktur di wilayah operasional Regional 2 (Jawa), sebanyak 7 struktur di Regional 3 (Kalimantan) dan sebanyak 3 struktur di Regional 4 (Jawa Timur dan Indonesia Timur).
Sedangkan struktur idle lainnya akan dilanjutkan pembukaanya dalam waktu dekat.
Kementerian ESDM memberikan lampu hijau terhadap keterbukaan Pertamina ini demi mempercepat arus modal masuk dari kontraktor swasta yang memiliki modal dan teknologi mutakhir.
"Kementerian ESDM mengapresiasi upaya aktif Pertamina untuk membuka kerja sama operasi dan teknologi pada struktur idle, dalam mendukung peningkatan produksi. Agar proses penawaran dan penetapan dapat dilakukan dengan cepat dan prudent sehingga produksi migas segera didapat dalam jangka pendek. Kita akan dukung penuh," tegas Laode.
Tidak berhenti di level struktur makro, Laode juga mengingatkan manajemen Pertamina untuk memperluas jangkauan KSOT hingga ke level sumur-sumur minyak skala kecil yang dikelola oleh daerah maupun masyarakat sekitar wilayah operasi.
Sinergi hulu dengan menggandeng entitas lokal ini dinilai strategis untuk menciptakan dampak ekonomi langsung (multiplier effect) di tingkat tapak sekaligus mengamankan pasokan energi nasional.
“Selain struktur idle, Pertamina juga agar terus lakukan upaya percepatan kerja sama operasi dan teknologi untuk sumur idle, dan upaya percepatan kerja sama produksi sumur minyak BUMD/Koperasi/UMKM. Kita akan dukung penuh, dan hal tersebut merupakan tindak lanjut Permen ESDM Nomor 14 tahun 2025 dalam rangka upaya peningkatan produksi jangka pendek," pungkas Laode. (*)