Logo
>

ESDM Ungkap Temuan Gas Raksasa di Kaltim, Potensi Produksi Capai 1.000 MMSCFD

ESDM menyebut temuan gas raksasa di Kaltim berpotensi hasilkan 1.000 MMSCFD dan topang pasokan energi nasional.

Ditulis oleh Gusti Ridani
ESDM Ungkap Temuan Gas Raksasa di Kaltim, Potensi Produksi Capai 1.000 MMSCFD
Temuan gas raksasa di Kalimantan Timur diproyeksikan menghasilkan 1.000 MMSCFD dan memperkuat ketahanan energi RI. Foto: Dok. SKK Migas

KABARBURSA.COM — Penemuan cadangan gas alam berukuran besar di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur, mulai diposisikan pemerintah sebagai salah satu penopang pasokan energi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menilai pengembangan dua aset utama—Blok Geng North atau Sumber Giga 1 dan Lapangan Gula—berpotensi memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus menjaga keberlanjutan suplai gas domestik hingga 2030.

Optimisme tersebut didasarkan pada proyeksi kapasitas produksi kedua wilayah migas apabila dikembangkan secara terintegrasi. Pemerintah memperkirakan kombinasi produksi dari Blok Geng North dan Lapangan Gula mampu menghasilkan gas bumi hingga 1.000 juta kaki kubik standar per hari (Million Standard Cubic Feet per Day/MMSCFD), disertai produksi kondensat dalam jumlah besar.

“Gabungan Galiga (Giga) dan Gula dapat menghasilkan produksi hingga 1.000 MMSCFD gas dan 80.000 BPD kondensat. Temuan ini menegaskan skala proyek yang sangat besar, strategis, dan berperan penting dalam mendukung ketahanan energi nasional serta penyediaan pasokan gas yang berkelanjutan,” ungkap Sekretaris Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM, Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, dikutip Jumat, 22 Mei 2026.

Sebagai gambaran, volume 1.000 MMSCFD tergolong besar dalam industri migas domestik. Produksi pada skala tersebut berpotensi menjadi sumber tambahan pasokan untuk kebutuhan industri, pembangkit listrik, hingga bahan baku hilirisasi nasional.

Pemerintah menyebut kedua wilayah tersebut tidak hanya memiliki cadangan gas bumi, tetapi juga kondensat yang bernilai ekonomis tinggi. Menurut perhitungan Kementerian ESDM, Blok Geng North atau Sumber Giga 1 diperkirakan menyimpan sekitar 5 Trillion Cubic Feet (TCF) gas serta 300 juta barel oil equivalent (BOE) kondensat.

Sementara Lapangan Gula diperkirakan memiliki 2 TCF gas dan 75 juta BOE kondensat. Jika digabungkan, potensi sumber daya keduanya mencapai 7 TCF gas dan 375 juta BOE kondensat.

“Sumber Giga 1 memiliki potensi gas sebesar 5 TCF (Trillion Cubic Feet) dan kondensat 300 juta barel oil equivalent (BOE). Sedangkan lapangan gas Gula yang sudah ada mencatat gas 2 TCF dan kondensat 75 juta BOE. Dengan demikian, total produksi potensinya adalah 7 TCF gas dan 375 juta barrel oil equivalent kondensat,” beber Rizwi secara rinci.

Skala cadangan tersebut menempatkan proyek ini sebagai salah satu temuan gas besar yang dapat memengaruhi peta pasokan energi Indonesia dalam jangka menengah.

Portofolio Energi Masa Depan Dinilai Semakin Didominasi Gas

Di tengah dorongan transisi energi global dan kebutuhan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar yang lebih intensif karbon, pemerintah menilai gas bumi akan mengambil porsi lebih besar dalam bauran energi nasional. Karena itu, sejumlah proyek hulu migas berbasis gas kini masuk daftar prioritas percepatan pemerintah.

Rizwi menyebut beberapa proyek strategis yang menjadi fokus antara lain berada di kawasan South Andaman, Asap Kida, Tangguh UCC Project, Abadi Project (Masela), hingga Indonesia Deepwater Development yang mencakup Maha, Gendalo, Gandang, Geng North, dan Gehem.

“Beberapa proyek utama yang menjadi prioritas nasional antara lain di South Andaman, Asap Kida, Tangguh UCC Project, dan Abadi Project (Masela), serta proyek-proyek Indonesia Deepwater Development seperti Maha, Gendalo, Gandang, Geng North, dan Gehem. Dari proyek-proyek tersebut dapat kita ketahui bahwa sebagian besar ini adalah berupa proyek gas bumi,” urainya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar proyek energi masa depan yang sedang dipercepat pemerintah mulai bergeser ke arah gas bumi dibanding minyak atau komoditas fosil lain.

Selain persoalan cadangan dan produksi, pemerintah menilai aspek kepastian regulasi dan pengawasan menjadi faktor penting agar proyek migas dapat berjalan sesuai target. Tahapan pengembangan disebut dimulai dari studi bersama (joint study), proses tender wilayah kerja, hingga penerbitan Kontrak Kerja Sama atau Production Sharing Contract (PSC).

Menurut ESDM, kontrak tersebut memiliki durasi panjang sehingga pengawasan dianggap krusial sejak fase eksplorasi hingga eksploitasi. “Kontrak PSC berlaku selama 30 tahun dan dapat diperpanjang hingga 20 tahun. Nah, sepanjang semua tahapan ini dilaksanakan, pengawasan dan pengendalian menjadi kunci Bapak, Ibu sekalian,” pungkas Rizwi.

Dengan umur proyek yang dapat mencapai setengah abad, keberhasilan temuan gas raksasa di Kalimantan Timur pada akhirnya tidak hanya ditentukan besarnya cadangan, tetapi juga kecepatan pengembangan, kepastian investasi, serta konsistensi pengawasan dalam seluruh rantai proyek migas.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang