KABARBURSA.COM – Kontrak berjangka saham (futures) Amerika Serikat (AS) melemah pada Minggu, 21 Juni 2026 saat Wall Street memantau perkembangan terbaru dalam negosiasi perang Iran serta menantikan rilis data inflasi yang dipantau ketat oleh Federal Reserve (Fed).
Dilansir CNBC, futures S&P 500 turun 0,4 persen, sementara kontrak berjangka Nasdaq-100 melemah 0,6 persen. Kontrak berjangka yang terikat dengan Dow Jones Industrial Average (DJIA) turun 183 poin, atau 0,4 persen.
Sesaat setelah pukul 18.00 waktu setempat, kontrak berjangka S&P 500 berada di posisi minus 0,4 persen, sedangkan kontrak berjangka Nasdaq-100 berkurang 0,6 persen, dan kontrak berjangka DJIA turun 188 poin atau 0,4 persen.
Pergerakan tersebut terjadi setelah Presiden Donald Trump pada hari Minggu mengancam akan melakukan serangan baru terhadap Iran jika para pemimpin negara tersebut tidak segera menghentikan proksi mereka di Lebanon.
Pernyataan tersebut disampaikan saat Wakil Presiden JD Vance bertemu dengan para pejabat Iran untuk negosiasi putaran pertama di Swiss, setelah pembicaraan sebelumnya sempat dibatalkan.
Tiga indeks utama AS mencatatkan pemulihan pada hari Kamis setelah aksi jual pada hari Rabu, di mana penurunan sebelumnya dipicu oleh ketidakpastian investor mengenai arah kebijakan moneter. Pemulihan pada hari Kamis yang dipimpin oleh kenaikan saham-saham sektor chip membantu indeks menutup pekan perdagangan di zona lebih tinggi.
S&P 500 menguat hampir 1 persen pada periode tersebut, mencatatkan pekan penguatan ke-11 dari 12 pekan terakhir. DJIA juga naik mendekati 1 persen dalam sepekan, sementara Nasdaq Composite melonjak lebih dari 2 persen. Pasar saham AS ditutup pada hari Jumat karena hari libur Juneteenth.
Pengujian penting bagi pasar minggu ini adalah rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi atau personal consumption expenditures (PCE) bulan Mei pada hari Kamis, yang merupakan pengukur inflasi pilihan Fed.
Menurut para ekonom yang disurvei oleh FactSet, PCE inti diproyeksikan meningkat dari bulan April, bahkan setelah mengecualikan harga pangan dan energi yang fluktuatif.
Menyusul pertemuan Fed pekan lalu, ekspektasi kenaikan suku bunga dimajukan menjadi paling cepat bulan Oktober. Investor saat ini fokus pada setiap data inflasi yang dapat menjadi sinyal bahwa bank sentral AS kemungkinan akan segera mulai menaikkan suku bunga.
Meskipun Tom Lee dari Fundstrat Global Advisors menilai sejumlah katalis dapat memengaruhi pasar ke depan—seperti penerapan satuan tugas di Fed dan dampak rantai pasok akibat penutupan Selat Hormuz—kondisi pasar dinilai tetap positif.
"Kami tetap percaya bahwa pada akhir tahun ini akan ada perubahan kondisi pasar yang tiba-tiba, yang terasa sangat mirip dengan pasar bearish, tetapi kami tidak ingin berspekulasi bahwa ini telah mencapai puncaknya," kata kepala riset perusahaan tersebut dalam acara "Closing Bell" CNBC pada hari Kamis.
“Menurut saya kondisi saat ini masih kondusif untuk saham,” tegas dia(*)