Logo
>

Indonesia Emas 2045 Butuh Gen Z Unggul di Sektor Energi

Momentum satu abad Kemerdekaan Republik Indonesia pada 2045 tidak cukup hanya diukur melalui peningkatan pendapatan per kapita.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Indonesia Emas 2045 Butuh Gen Z Unggul di Sektor Energi
Indonesia Emas 2045 Butuh Gen Z Unggul di Sektor Energi

KABARBURSA.COM - Peran generasi Z dinilai akan menjadi salah satu faktor penentu masa depan sektor energi nasional. Di tengah berbagai tantangan transformasi ekonomi dan teknologi, keterlibatan kelompok usia muda tersebut dianggap semakin strategis dalam mengawal perjalanan Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Satya Hangga Yudha menegaskan bahwa energi tidak sekadar menjadi komoditas penunjang pembangunan, melainkan fondasi utama yang menopang berbagai sektor vital, mulai dari industri, ekonomi, pendidikan hingga layanan kesehatan. Karena itu, kontribusi generasi Z sebagai inovator, tenaga profesional, akademisi, maupun calon pengambil kebijakan akan sangat menentukan tingkat kemandirian dan daya saing bangsa di masa mendatang.

Hangga menyampaikan bahwa momentum satu abad Kemerdekaan Republik Indonesia pada 2045 tidak cukup hanya diukur melalui peningkatan pendapatan per kapita. Menurutnya, pencapaian tersebut harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul, adaptif, dan memiliki kapasitas kepemimpinan yang kuat.

Ia menilai pembangunan manusia menjadi variabel yang tak terpisahkan dari agenda transformasi nasional. Tanpa SDM yang berkualitas, berbagai target pembangunan berisiko kehilangan makna substantif.

Di sisi lain, sektor energi menawarkan spektrum peluang yang sangat luas bagi generasi muda. Mulai dari industri minyak dan gas bumi, pengembangan panas bumi, energi surya, energi angin, hidrogen hijau, hingga pengelolaan mineral kritis yang menjadi tulang punggung rantai pasok kendaraan listrik global. Seluruh subsektor tersebut membutuhkan talenta-talenta baru yang mampu menjawab tantangan zaman.

Saat menjadi pembicara utama dalam Education Festival Indonesia 2026 yang berlangsung di lingkungan Kemendiktisaintek, Jakarta, Minggu (21/6), Hangga memaparkan sejumlah langkah strategis yang dapat ditempuh generasi muda untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin masa depan yang kompetitif di tingkat internasional.

Ia mendorong mahasiswa dan generasi muda untuk mulai menyusun peta perjalanan karier secara sistematis. Target jangka menengah hingga panjang, mulai dari tiga, lima, hingga sepuluh tahun ke depan, dinilai penting sebagai kompas dalam menentukan arah pengembangan diri.

Menurutnya, proses tersebut dapat dimulai melalui berbagai aktivitas konkret. Keterlibatan dalam organisasi, penguatan jejaring profesional, program magang, hingga membangun hubungan dengan mentor yang memiliki keselarasan visi merupakan langkah awal yang mampu mempercepat proses pembelajaran.

Hangga juga mengingatkan bahwa dunia profesional memiliki kultur, ritme, dan dinamika yang berbeda dibandingkan lingkungan akademik. Banyak pelajaran berharga yang tidak selalu ditemukan di ruang kuliah.

Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk mengubah perspektif terhadap tantangan. Hambatan tidak seharusnya dipandang sebagai beban yang menguras energi, melainkan sebagai arena pembuktian untuk melatih ketangguhan, kreativitas, serta kemampuan memecahkan persoalan secara efektif.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa fondasi utama kepemimpinan masa depan bertumpu pada tiga pilar esensial, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan karakter (character). Ketiga unsur tersebut harus berkembang secara seimbang agar mampu menghasilkan pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga memiliki integritas.

Menurut Hangga, kompetensi teknis memang dapat membuka pintu masuk ke berbagai industri. Namun kepercayaan, yang menjadi modal utama dalam kepemimpinan, hanya dapat dibangun melalui karakter yang kuat dan konsisten.

Ia juga menyoroti percepatan perubahan global yang semakin dipengaruhi oleh perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta ekspansi ekonomi digital. Transformasi tersebut telah mengubah pola kerja, model bisnis, hingga kebutuhan kompetensi di berbagai sektor.

Di lingkungan Kementerian ESDM sendiri, pemanfaatan teknologi AI telah diterapkan secara nyata. Teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat sistem keselamatan kerja, meningkatkan pengawasan operasional di lapangan, hingga mendeteksi potensi kebocoran pada fasilitas kilang secara lebih cepat dan akurat.

Meski demikian, sejumlah tantangan mendasar masih membayangi Indonesia. Ketimpangan akses listrik dan internet di berbagai wilayah menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya terselesaikan. Situasi tersebut, menurut Hangga, seharusnya menjadi pemantik semangat bagi generasi Z untuk terus berinovasi dan mengejar ketertinggalan teknologi dari negara-negara maju.

Pada saat yang sama, generasi muda juga dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap ancaman perubahan iklim dan pemanasan global. Salah satu langkah strategis yang perlu didorong adalah percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT) sebagai bagian dari agenda transisi energi nasional.

Menutup pemaparannya, Hangga mengajak peserta untuk menerapkan prinsip learn, create, and shine dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya membangun personal branding yang positif serta menjaga rekam jejak digital yang berintegritas di tengah era keterbukaan informasi.

Ia pun berpesan agar generasi muda tidak takut menghadapi kegagalan ataupun keluar dari zona nyaman. Keberanian mengambil langkah baru, menurutnya, merupakan prasyarat penting untuk menciptakan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.