KABARBURSA.COM – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan tiga faktor utama yang menopang ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketiga faktor tersebut mencakup kredibilitas kebijakan, kemampuan adaptasi terhadap dinamika global, serta penguatan kemitraan internasional.
Perry Warjiyo menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia ditopang oleh konsistensi kebijakan yang terjaga. Ia menekankan pentingnya sinergi antara otoritas ekonomi dalam menjaga stabilitas.
“Kredibilitas kebijakan menjadi fondasi utama, yang tercermin dari konsistensi dan sinergi kebijakan moneter, fiskal, serta stabilitas sistem keuangan,” ujar Perry dalam keterangan tertulis resmi di rangkaian IMF–World Bank Spring Meetings 2026 di Washington, D.C., Amerika Serikat dikutip, Jumat, 17 April 2026.
Menurut dia, dinamika global yang terus berubah menuntut respons kebijakan yang fleksibel. BI, kata Perry, terus menyesuaikan kerangka kebijakan agar tetap relevan dengan kondisi global.
“Kemampuan adaptasi terhadap dinamika global menjadi kunci agar kebijakan yang ditempuh tetap efektif di tengah perubahan yang cepat,” kata dia.
Selain itu, Perry menekankan pentingnya memperluas kemitraan internasional sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas eksternal. Kerja sama dengan berbagai negara dan lembaga global dinilai menjadi elemen penting dalam memperkuat kepercayaan investor.
“Penguatan kemitraan internasional, termasuk dengan Amerika Serikat dan negara lain, menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Perry.
Dalam rangkaian pertemuan tersebut, Perry bersama Menteri Keuangan RI juga berdiskusi dengan pelaku usaha yang tergabung dalam US-ASEAN Business Council dan US Chamber of Commerce. Pertemuan ini menjadi ruang interaksi antara pembuat kebijakan dan sektor swasta di tengah ketidakpastian global yang meningkat.
Dalam forum tersebut, Indonesia menyampaikan kondisi ekonomi domestik yang dinilai tetap berdaya tahan di tengah tekanan global. Penyampaian tersebut sekaligus bertujuan memperkuat kepercayaan pelaku usaha internasional terhadap prospek ekonomi Indonesia.
Pada hari yang sama, Perry juga melakukan pertemuan dengan First Deputy Managing Director International Monetary Fund (IMF), Dan Katz. Pertemuan tersebut membahas perkembangan geopolitik serta potensi risiko global yang semakin kompleks.
Perry menyoroti bahwa risiko global tidak hanya berasal dari pergerakan harga energi, tetapi juga dari gangguan rantai pasok global. Kondisi ini dinilai memerlukan respons kebijakan yang lebih terukur dan antisipatif.
“Kalibrasi kebijakan tidak hanya berfokus pada indikator yang sudah terlihat, tetapi juga pada kemampuan mengantisipasi risiko yang belum sepenuhnya teridentifikasi,” kata dia.
BI dalam hal ini terus memperkuat koordinasi kebijakan internasional dan komunikasi dengan investor global. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga stabilitas eksternal serta mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang terus berkembang.(*)