KABARBURSA.COM - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat kenaikan impor barang modal sebesar 34,66 persen pada 2025. Kemenperin mengklaim kenaikan impor ini sebagai berkat dari hasil pembaruan mesin dan modernisasi kapasitas produksi secara luas.
Kenaikan impor mesin dan peralatan mekanis tersebut diklaim mencerminkan aktivitas investasi riil yang berkaitan langsung dengan ekspansi serta peremajaan fasilitas produksi industri nasional.
Menanggapi keraguan sejumlah pihak terhadap keberlanjutan investasi manufaktur, Kementerian Perindustrian menilai pandangan tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan.
Pemerintah mengklaim realisasi investasi di sektor industri manufaktur terus berjalan, seiring hadirnya kapasitas produksi baru yang siap beroperasi.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian per 15 Januari 2026, sebanyak 1.236 perusahaan industri telah menyelesaikan tahap pembangunan sepanjang 2025 dan siap mulai berproduksi untuk pertama kalinya pada 2026.
Kehadiran fasilitas produksi baru ini disebut-sebut mencerminkan realisasi investasi di sektor riil, baik melalui relokasi industri dari luar negeri, ekspansi perusahaan yang telah ada, maupun investasi baru.
Investasi industri yang mulai beroperasi pada 2026 tersebut diperkirakan mampu menyerap sekitar 218 ribu tenaga kerja baru. Aktivitas produksi dari industri baru tersebut juga diklaim diharapkan menambah kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) serta memperkuat struktur industri nasional.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief mengatakan masuknya investasi ke sektor industri tidak dapat diukur hanya melalui sentimen atau survei tertentu.
“Masuknya investasi ke sektor industri tidak bisa dinilai hanya dari satu indikator sentimen. Fakta bahwa lebih dari seribu perusahaan industri siap beroperasi pada 2026 menunjukkan bahwa investasi manufaktur berjalan dan berkelanjutan,” ujar Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arief dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 4 Februari 2026.
Febri menambahkan, data perdagangan terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) juga menunjukkan impor barang modal sepanjang 2025 meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan impor tersebut didominasi mesin serta peralatan mekanis yang berkaitan langsung dengan investasi baru maupun ekspansi kapasitas produksi.
“Peningkatan signifikan impor barang modal, khususnya mesin dan peralatan mekanis, menjadi indikator kuat bahwa investasi manufaktur justru tumbuh pesat, terutama sepanjang 2025. Ini menunjukkan industri sedang melakukan ekspansi dan modernisasi kapasitas produksi,” tegasnya.
Kementerian Perindustrian mengklaim indikator berbasis aktivitas riil seperti realisasi investasi, jumlah perusahaan yang mulai berproduksi, serta kenaikan impor barang modal memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kondisi investasi manufaktur dibandingkan indikator berbasis survei semata.
Ke depan, pemerintah menyatakan tetap mendorong penguatan iklim investasi melalui kebijakan hilirisasi, pengembangan kawasan industri, transformasi industri 4.0, serta penguatan pasar domestik dan ekspor guna memastikan investasi manufaktur terus berjalan dan memberi dampak terhadap perekonomian.
“Dengan berbagai kebijakan tersebut, kami optimistis investasi industri manufaktur akan terus tumbuh, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” pungkas Febri.(*)