KABARBURSA.COM - Indonesia dan China kembali mempererat kerja sama strategis yang komprehensif dan berkelanjutan pada berbagai bidang, seperti perdagangan, investasi, dan industri.
Sejalan dengan komitmen tersebut, kemitraan Indonesia-China juga terus diperkuat melalui peran aktif berbagai pemangku kepentingan, salah satunya China Chamber of Commerce in Indonesia (CCCI).
Selama dua dekade terakhir, CCCI telah berkembang menjadi jembatan komunikasi antara pemerintah dan dunia usaha, sekaligus mempererat hubungan antarmasyarakat kedua negara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Dengan populasi 1,4 miliar jiwa, China berada di urutan kedua di dunia, sementara Indonesia memiliki 285 juta jiwa berada di urutan keempat, keduanya merupakan anggota G20.
"Dan China adalah negara dengan ekonomi terbesar kedua dengan PDB USD17,8 triliun dan Indonesia memiliki PDB USD1,4 triliun. Jadi, ini benar-benar merupakan tonggak penting bahwa kolaborasi dan kerja sama antara kedua negara terbuka. Ini adalah pasar besar yang menawarkan peluang bagi kedua perusahaan dan kedua negara," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu, 10 Januari 2026.
Selain menjadi mitra dagang utama Indonesia dengan besaran mencapai USD135,2 miliar pada tahun 2024, kerja sama kedua negara juga terus menunjukkan kemajuan strategis melalui inisiatif Two Parks Twin Countries (TCTP).
Inisiatif TCTP tersebut merupakan kerangka kerja sama strategis untuk memperkuat kolaborasi industri, memfasilitasi investasi, dan mengintegrasikan rantai pasok. Nota Kesepahaman terkait TCTP yang pertama kali diluncurkan pada tahun 2021 lalu telah diperbarui pada Mei 2025.
Sebagai bagian integral dari penguatan kerja sama TCTP tersebut, telah dilakukan penandatanganan 16 proposal proyek antara perusahaan-perusahaan Fujian dan mitra-mitra Indonesia dengan nilai total sebesar Rp36,4 triliun, atau sekitar USD2,19 miliar.
Berbagai proyek tersebut mencakup sejumlah sektor strategis, termasuk logam dasar, pengolahan daging dan makanan laut, tekstil, teh, furnitur, drone, baterai, dan kecerdasan buatan.
“Ke depannya, Indonesia menyambut baik kolaborasi yang lebih dalam di bidang infrastruktur, logistik, industri hilir, manufaktur, energi terbarukan, ekonomi digital, AI, komputasi kuantum, ketahanan pangan, kesehatan, dan pengembangan sumber daya manusia,” pungkas Airlangga.
Berkaitan dengan investasi, Pemerintah Indonesia juga terus berkomitmen untuk meningkatkan iklim investasi melalui reformasi regulasi, pengembangan infrastruktur, dan konsistensi kebijakan untuk memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan investasi jangka panjang yang menarik.
Adapun perlu diketahui, Indonesia kini memiliki gugus tugas untuk mempercepat program-program strategis Pemerintah yang akan membantu mempercepat proses investasi.(*)