KABARBURSA.COM - Realisasi investasi di Jawa Barat mencetak lonjakan fantastis secara tahunan (year on year), melesat dari semula Rp3,5 triliun menjadi Rp296,8 triliun.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menyebut, capaian investasi ini berhasil mengerek pertumbuhan ekonomi Jawa Barat pada awal tahun 2026 ke angka 5,79 persen, berada jauh di atas rata-rata pertumbuhan nasional yang berada di level 5,1 persen.
Meskipun mencatat rapor hijau, Bupati Sumedang menegaskan tidak ingin lekas puas. Momentum aliran modal jumbo ini akan dioptimalkan untuk memacu ekonomi digital berbasis budaya sekaligus membidik target pertumbuhan ekonomi yang lebih progresif sebesar 8 persen pada tahun 2029.
"Pertumbuhan ekonomi kita menembus 5,79 persen di awal 2026, berada di atas nasional yang sebesar 5,1 persen. Tetapi kami belum puas dengan angka itu. Target kami pada 2029, minimal pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 8 persen," tegas Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, saat membuka Forum Ekonomi Regional Jawa Barat 2026 di Sumedang.
Dony mengakui target lompatan ke angka 8 persen sering kali dinilai sebagai sebuah misi yang mustahil. Namun, ia menekankan bahwa tugas seorang pemimpin adalah mengubah hal yang tidak mungkin menjadi mungkin melalui ekspansi ekonomi yang progresif, bertumpu pada kolaborasi teknologi, pertahanan, pendidikan, dan bisnis.
Secara rinci, Dony memaparkan performa ekonomi Jabar ditopang oleh kinerja indikator utama (KPI). Sektor konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi masif sebesar 50 persen atau setara Rp3,5 triliun.
Dari sisi fiskal, kata Dony, penyerapan APBD Jawa Barat berjalan sangat agresif hingga hanya menyisakan dana Rp500 ribu pada akhir tahun anggaran 2025 karena seluruh belanja daerah terserap optimal. Realisasi belanja ini mencakup porsi stimulus dari pusat serta dukungan sektor perbankan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Di sektor moneter dan keuangan, kolaborasi dengan OJK ikut mendorong laba industri jasa keuangan di atas Rp2 triliun, yang bergerak simultan dengan pertumbuhan Pendapatan Asli Daerah (PAD) di atas 14 hingga 20 persen.
Sementara, sektor PAD regional Jabar tercatat bergerak dari basis Rp3 juta dan merangkak naik hingga menyentuh angka Rp4.740.000, bahkan beberapa pos pendapatan mampu menembus target Rp7.000.000.
Namun, masuknya arus modal ratusan triliun tersebut menyisakan catatan kritis pada sektor ketenagakerjaan. Tingkat pengangguran terbuka di Jawa Barat saat ini tercatat masih berada di angka 6,64 persen, atau hanya turun tipis 0,1 persen dibandingkan rata-rata penurunan nasional sebesar 0,08 persen.
"Investasi sebesar Rp296,8 triliun ini harus mampu menggerakkan seluruh lini. Seharusnya dengan investasi sebesar itu, angka pengangguran penduduk bisa ditekan hingga tersisa 1 persen. Ini waktunya kita ekspansi secara progresif agar pertumbuhan ekonomi melampaui rata-rata nasional," kata Dony.
Menghadapi tantangan masa depan, Dony menegaskan pentingnya pergeseran strategi dari era "ekonomi siar" konvensional menuju pemanfaatan infrastruktur digital yang produktif.
Berdasarkan data makro sektoral, akses digital masyarakat sudah sangat signifikan di mana 90 persen di antaranya aktif menggunakan media sosial.
Pemerintah daerah bersama para pakar dan praktisi digital siap melakukan edukasi guna mendongkrak kapasitas digital masyarakat agar siap melompat menjadi pelaku ekonomi digital yang kompetitif.
Meski demikian, Dony menggarisbawahi bahwa teknologi digital tidak boleh berjalan sendiri tanpa benteng filosofis kearifan lokal.
"Ekonomi itu harus menyembuhkan, bukan sekadar mengejar kekayaan materi. Kita tidak lagi berada di era ekonomi siar yang sekadar membesarkan keberanian tanpa arah. Ekonomi digital akan terus bertumbuh, tetapi fondasi yang menjadi pemberlakunya adalah ekonomi berbasis budaya," jelasnya.
Dony menjabarkan, pembangunan berbasis budaya terbukti menghasilkan ketangguhan karena memiliki perhitungan ekologis yang matang. Budaya lokal menuntut keseimbangan hubungan antara manusia dengan tanah, air, udara, dan matahari.
Prinsip luhur warisan leluhur, seperti filosofi menjaga sawah, lingkungan, dan alam, merupakan aturan pembangunan yang sudah hidup dan dipraktikkan langsung di tengah masyarakat tanpa perlu diikat kaku oleh pasal-pasal hukum. Ketika integrasi digital dan budaya ini berjalan beriringan, struktur ekonomi daerah diyakini akan jauh lebih kuat dan inklusif.
"Budayanya oke, digitalnya oke. Perpaduan ini yang akan menjadi instrumen penggerak dan perasaan terdampak secara nyata bagi masyarakat. Insyaallah, ekonomi digital berbasis kearifan lokal ini akan membawa lompatan besar bagi perekonomian Jawa Barat ke depan," pungkas Dony.(*)
Investasi Tembus Rp296,8 Triliun, Jabar Genjot Ekonomi Digital Berbasis Budaya
Pertumbuhan ekonomi kita menembus 5,79 persen di awal 2026, berada di atas nasional yang sebesar 5,1 persen.
Ditulis oleh
Gusti Ridani
•