Logo
>

Harga Komoditas Menguat, Ekspor Indonesia Catat Pertumbuhan Dua Digit

Pertumbuhan ekspor nonmigas disumbang dari produk hilirisasi nikel dan minyak sawit.

Ditulis oleh Harun Rasyid
Harga Komoditas Menguat, Ekspor Indonesia Catat Pertumbuhan Dua Digit
Harga Komoditas Menguat, Ekspor Indonesia Catat Pertumbuhan Dua Digit. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Kinerja ekspor Indonesia menunjukkan penguatan pada April 2026 di tengah dinamika harga komoditas global. 

Pertumbuhan ekspor nonmigas disumbang dari produk hilirisasi nikel dan minyak sawit. 

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Pudji Ismartini menyatakan, perkembangan harga komoditas global sepanjang April 2026 masih dipengaruhi oleh tren kenaikan pada kelompok energi, logam mulia, serta logam dan mineral secara tahunan.

"Pada April 2026 secara umum harga komoditas di pasar global bervariasi secara mont to month (mtm) maupun year on year (yoy). Kenaikan harga secara tahunan terjadi pada kelompok energi, logam mulia, serta logam dan mineral," ujarnya dalam konferensi pers virtual, Selasa 2 Juni 2026.

BPS mencatat, kelompok energi mencatat kenaikan harga paling tinggi dengan pertumbuhan 66,58 persen secara yoy. Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan harga minyak mentah dan batu bara di pasar internasional. 

Harga batu bara kualitas tinggi pada April 2026 tercatat meningkat 32,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sementara harga batu bara kualitas menengah dan rendah masih mengalami penurunan tipis sebesar 0,81 persen.

Kemudian harga logam mulia dilaporkan melonjak 58,61 persen yoy. Namun secara bulanan, harga emas mulai menunjukkan koreksi. 

BPS mencatat harga logam mulia pada April 2026 turun 2,71 persen dibandingkan Maret 2026.

"Jika melihat dinamika pada tiga bulan terakhir, kita bisa lihat harga emas mengalami tren penurunan walaupun level harganya masih lebih tinggi dibandingkan tahun lalu," ucap Pudji.

Di sisi lain, aktivitas manufaktur global masih menunjukkan ekspansi. Hal ini terlihat dari Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia yang bertahan di atas level 50. India mencatat PMI sebesar 54,7, Amerika Serikat 54,5, Jepang 55,1, dan Tiongkok 52,2.

Kondisi tersebut turut menopang permintaan terhadap produk ekspor Indonesia. Sepanjang Januari hingga April 2026, nilai ekspor nasional mencapai USD92,15 miliar atau tumbuh 5,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang oleh ekspor nonmigas yang mencapai USD87,74 miliar atau naik 6,28 persen secara tahunan. 

Sebaliknya, ekspor migas tercatat sebesar USD4,41 miliar atau turun 8,30 persen.

Berdasarkan data BPS, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekspor nonmigas pada empat bulan pertama tahun ini. 

Sektor tersebut mempunyai andil 7,71 persen terhadap kenaikan total ekspor nonmigas nasional.

Adapun komoditas yang mencatat peningkatan signifikan berasal dari produk olahan nikel, minyak kelapa sawit, produk kimia berbasis hasil pertanian, kimia dasar anorganik, hingga semikonduktor dan komponen elektronik.

"Jika dilihat menurut sektor, peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif terjadi di sektor pengolahan yang menjadi pendorong utama atas peningkatan ekspor nonmigas sepanjang Januari-April 2025 dengan andil sebesar 7,71 persen terhadap kenaikan total ekspor," sebut Pudji.

Terkait pasar tujuan, Tiongkok masih menjadi mitra dagang utama Indonesia. Nilai ekspor nonmigas ke Negeri Tirai Bambu mencapai USD22,76 miliar sepanjang Januari-April 2026 atau melonjak 20,58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

BPS juga mencatat seluruh kelompok negara dan kawasan tujuan utama ekspor Indonesia mengalami peningkatan nilai ekspor nonmigas secara kumulatif selama empat bulan pertama 2026.

Pada April 2026, nilai ekspor Indonesia mencapai USD25,30 miliar atau tumbuh 21,98 persen dibandingkan April 2025. 

Kinerja tersebut ditopang oleh lonjakan ekspor nonmigas yang naik 23,36 persen menjadi USD24,15 miliar. Sementara ekspor migas tercatat USD1,15 miliar atau turun 1,02 persen secara tahunan.

Kenaikan ekspor April 2026 didominasi oleh komoditas berbasis sumber daya alam dan hilirisasi. Lemak dan minyak nabati maupun hewani mencatat kenaikan tertinggi sebesar 66,59 persen, atau berkontribusi 5,91 persen terhadap pertumbuhan total ekspor nasional.

Komoditas nikel dan barang turunannya juga menunjukkan kinerja positif dengan kenaikan 75,52 persen serta andil 2,17 persen terhadap pertumbuhan ekspor. 

Sementara kelompok mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya, meningkat 57,90 persen dengan kontribusi 1,47 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Harun Rasyid

Harun Rasyid adalah jurnalis KabarBursa.com yang fokus pada liputan pasar modal, sektor komersial, dan industri otomotif. Berbekal pengalaman peliputan ekonomi dan bisnis, ia mengolah data dan regulasi menjadi laporan faktual yang mendukung pengambilan keputusan pelaku pasar dan investor. Gaya penulisan lugas, berbasis riset, dan memenuhi standar etika jurnalistik.