Logo
>

Konflik AS-Iran Kembali Pecah, Harga Minyak Naik Lebih dari Satu Persen

Sempat turun tiga pekan berturut-turut, harga minyak Brent dan WTI kembali melonjak

Ditulis oleh Hutama Prayoga
Konflik AS-Iran Kembali Pecah, Harga Minyak Naik Lebih dari Satu Persen
Ilustrasi: Alat pengangkat minyak dari dalam tanah. (Foto: AI untuk KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan lebih dari satu persen pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026 setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali melancarkan serangan.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka  ditutup di level USD73,17 per barel, naik USD1,18, atau 1,64 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate AS naik USD1,69 atau 2,44 persen menjadi USD70,92.

Perlu diketahui, harga minyak mentah Brent turun 10,6 persen sepanjang pekan lalu atau penurunan mingguan ketiga berturut-turut. Hal ini terjadi setelah pengiriman minyak melalui Selat Hormuz meningkat ke level tertinggi sejak perang AS-Israel di Iran dimulai pada akhir Februari 2026.

Analis Gelber & Associates dalam sebuah catatan pada hari Senin, 29 Juni 2026 mengatakan ekspor minyak mentah dari Teluk Persia berjalan cepat pulih hingga setidaknya 75 persen dari tingkat sebelum perang.

Namun, para analis memperingatkan bahwa lalu lintas melalui selat tersebut masih jauh dari pulih sepenuhnya, sehingga harga tetap agak tinggi.

Bob Yawger, direktur futures energi di Mizuho menilai tidak tidak semua barel minyak akan keluar dari Teluk dalam satu atau dua minggu ke depan. Menurutnya, para pengiriman tidak bisa begitu saja memasukkan sebanyak mungkin barel minyak hingga mencapai tingkat sebelum perang.

"Selama situasinya berisiko, siapa pun yang memiliki kapal berisiko kapalnya diserang saat melewati selat tersebut," kata dia.

Menurut Yawger, ranjau di jalur air serta perusahaan asuransi yang belum sepenuhnya siap juga menjadi faktor yang membebani lalu lintas melalui selat tersebut.

Sementara itu, para produsen Timur Tengah terus melanjutkan pemuatan minyak dan LNG meskipun terjadi serangan kapal baru di Selat Hormuz setelah adanya gencatan senjata antara AS dan Iran dalam beberapa hari terakhir.

Perusahaan minyak raksasa Saudi, Aramco, melanjutkan pemuatan minyak mentah pada hari Jumat di terminal Ras Tanura, sebelah barat Selat Hormuz, setelah dihentikan selama hampir empat bulan.

Kegiatan pemuatan tetap berlanjut meskipun sebuah helikopter milik perusahaan tersebut jatuh pada hari Minggu di Ras Tanura hingga menewaskan 14 warga negara. Penyebab kecelakaan itu belum diketahui.

Di tempat lain, data dari Departemen Energi mencatat, stok minyak mentah di Cadangan Minyak Strategis AS menurun sebesar 5,5 juta barel menjadi 325,7 juta barel, level terendah sejak Mei 1983.

Pengurangan cadangan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan AS untuk melepaskan 172 juta barel dari fasilitas tersebut.

sumber Reuters mengatakan,  tiim teknis Iran dan AS yang bekerja untuk implementasi kesepakatan perdamaian diperkirakan akan bertemu di Doha dalam beberapa hari mendatang.

Namun, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan dalam sebuah pernyataan bahwa tidak ada pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat yang dijadwalkan dalam beberapa hari mendatang.

Ia mengakui jika delegasi teknis Iran akan mengunjungi Qatar pada pekan ini, namun tidak ada hubungannya dengan pejabat AS yang mengunjungi negara tersebut. (*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Hutama Prayoga

Hutama Prayoga telah meniti karier di dunia jurnalistik sejak 2019. Pada 2024, pria yang akrab disapa Yoga ini mulai fokus di desk ekonomi dan kini bertanggung jawab dalam peliputan berita seputar pasar modal.

Sebagai jurnalis, Yoga berkomitmen untuk menyajikan berita akurat, berimbang, dan berbasis data yang dihimpun dengan cermat. Prinsip jurnalistik yang dipegang memastikan bahwa setiap informasi yang disajikan tidak hanya faktual tetapi juga relevan bagi pembaca.