KABARBURSA.COM - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan penyebab utama melambungnya harga Liquefied Natural Gas atau LNG industri yang sempat menyentuh angka 23 dolar AS per MMBTU di pasaran.
Bahlil menjelaskan bahwa lonjakan harga ini dipicu oleh anjloknya produksi gas bumi pada sumur-sumur di wilayah barat Indonesia, yang kemudian memaksa industri di kawasan Jawa Barat, Banten, dan DKI Jakarta mendatangkan pasokan gas cair dari luar pulau dengan biaya transportasi yang sangat tinggi.
Untuk menutup defisit pasokan di wilayah barat, pemerintah harus mengambil sumber energi LNG dari wilayah yang sangat jauh seperti Papua, Sulawesi, hingga Kalimantan melalui proses distribusi yang panjang.
"Kenapa ini terjadi? karena memang untuk LNG kenapa harganya tinggi, dia itu diambil dari daerah-daerah yang butuh proses transportasi kemudian dilakukan dengan spesifikasi ulang kemudian dikirim lewat pipa, itulah biaya yang timbul," kata Menteri ESDM Bahlil dalam keterangan resminya, dikutip Selasa, 30 Juni 2026.
Rantai Distribusi Logistik Kuras Biaya Industri
Bahlil menjabarkan bahwa ketimpangan produksi antarwilayah menjadi pemicu utama distorsi harga energi ini. Sementara sumur gas di wilayah Jawa Timur masih beroperasi normal sesuai dengan target lifting, kilang-kilang gas di wilayah Jawa Barat justru mengalami penurunan performa yang cukup signifikan.
Kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan membuat proses pengangkutan LNG dari wilayah hulu di Indonesia Timur dan Kalimantan membutuhkan rantai logistik yang kompleks, mulai dari pengapalan, proses regasifikasi atau spesifikasi ulang di terminal penerima, hingga penyaluran kembali melalui pipa transmisi ke pabrik-pabrik.
"Yang terjadi sekarang itu adalah karena terjadi penurunan produksi dari kilang-kilang kita yang ada di Jawa Barat, yang di Jawa Timur enggak ada isu. Di daerah barat yang mengcover Jawa Barat, Banten, dan DKI, maka yang terjadi adalah mempergunakan energi LNG, ini diambil dari wilayah Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan beberapa daerah luar Jawa lainnya," jelasnya.
Kemudian harganya naik sampai dengan harga di pasaran itu 20 sampai dengan 23 dolar per MMBTU, itulah menjadi penyebab kenapa teman-teman dari sektor industri meminta pemerintah harus turun tangan," lanjutnya.
Meskipun harga LNG ke tingkat konsumen sempat meroket tajam, Bahlil membantah keras isu yang menyebutkan bahwa Indonesia sedang mengalami kelangkaan pasokan gas bumi secara nasional.
Ia menegaskan bahwa total realisasi produksi gas domestik masih sangat kokoh dan sanggup memenuhi target APBN sehingga pemerintah tidak perlu membuka keran impor gas dari luar negeri.
Untuk mengatasi tingginya beban logistik yang ditanggung oleh pelaku usaha tersebut, pemerintah akhirnya menetapkan kebijakan intervensi dengan mengunci batas atas harga LNG industri di level 13 dolar AS per MMBTU setelah melalui perhitungan ulang bersama Presiden.
"Secara akumulasi lifting kita itu mencapai target APBN karena itu gas tidak kita impor. Jadi masalahnya bukan tidak adanya gas, gas ada tapi harga LNG-nya yang mahal. Jadi kita telah memutuskan untuk LNG industri harganya 13 dolar per MMBTU," pungkas Bahlil.(*)