KABARBURSA.COM — Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM melakukan terobosan baru dengan mengalokasikan pendanaan langsung dari APBN untuk membiayai studi eksplorasi minyak dan gas bumi nasional.
Kebijakan revolusioner di masa kepemimpinan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia ini sengaja diambil untuk mempercepat penemuan blok-blok migas baru tanpa harus bergantung penuh pada inisiatif badan usaha swasta.
Langkah berani ini dibarengi dengan perombakan total skema bagi hasil atau split kontrak bagi investor hulu migas agar jauh lebih atraktif dan fleksibel dalam menanggung risiko lapangan.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman membeberkan bahwa jika sebelumnya bagi hasil dipatok kaku sebesar 85 berbanding 15 untuk minyak dan 70 berbanding 30 untuk gas, kini bagian untuk Kontraktor Kontrak Kerja Sama atau KKKS bisa melonjak drastis hingga mencapai 40 persen sampai 50 persen.
"Salah satu yang penting juga adalah Pemerintah sekarang juga menganggarkan dari APBN alokasi untuk studi eksplorasi. Kalau dulu, ini hanya Badan Usaha yang melakukan. Tapi di masanya Bapak Menteri Pak Bahlil ini, bukan hanya Badan Usaha, tapi Pemerintah menginisiasi. Dan ada tambahan blok-blok baru banyak dari proses pendanaan negara ini," jelas Laode dalam forum energi, dikutip Selasa, 30 Juni 2026.
Selain mengandalkan pendanaan negara untuk berburu cadangan baru, Ditjen Migas memacu produksi jangka pendek melalui reaktivasi sumur-sumur minyak yang tidak aktif atau idle di seluruh Indonesia.
Pemerintah mencatat sebanyak 792 sumur idle telah sukses dihidupkan kembali pada tahun 2025 dari total database yang mencapai 7.345 sumur. Saat ini, pemerintah membuka karpet merah bagi investor untuk menggarap 5.771 sumur sisa lainnya secara cepat.
Akselerasi peningkatan produksi pada lapangan eksisting juga digenjot menggunakan kombinasi teknologi non-konvensional seperti fracking, Enhanced Oil Recovery atau EOR, dan horizontal drilling guna menyedot sisa hidrokarbon secara optimal demi menutup celah konsumsi domestik.
Kementerian ESDM optimistis target produksi nasional akan tercapai berkat dukungan data dari 118 area blok migas potensial yang sedang dikembangkan. Terlebih, Indonesia telah mengantongi temuan cadangan gas raksasa yang masif di lapangan, seperti di area blok Geliga dan blok Gula.
"Potensi ini terbukti lewat temuan cadangan yang masif di lapangan, seperti di area blok Geliga dan blok Gula yang mencatatkan potensi hingga 7 TCF," kata Laode.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.