Logo
>

Lima Tema yang Akan Membentuk Dunia Energi 2026

Dari geopolitik disruptif hingga transisi energi yang makin pragmatis, pasar energi global diprediksi tetap volatil sepanjang 2026.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Lima Tema yang Akan Membentuk Dunia Energi 2026
Geopolitik, harga energi, investasi, hingga dekarbonisasi membentuk arah dunia energi 2026. Ini lima tema utama yang perlu dicermati. Foto: Dok. Pertamina

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Dunia energi memasuki 2026 tanpa ilusi stabilitas. Geopolitik yang terus bergeser, ekonomi global yang melambat, hingga perubahan arah investasi membuat pasar energi dan komoditas kembali bergerak liar. Ketua sekaligus Kepala Analis The Edge, Simon Flowers, merangkum setidaknya lima tema besar yang akan membentuk lanskap energi global sepanjang 2026.

    Menurut Flowers, tahun ini akan kembali diwarnai volatilitas tinggi, bukan hanya karena persoalan pasokan dan permintaan, tetapi juga akibat eskalasi politik global yang semakin sulit dipisahkan dari dinamika pasar.

    “Bersiaplah untuk satu tahun penuh volatilitas, dengan geopolitik memengaruhi pasar energi dan sumber daya alam hampir sama kuatnya dengan faktor fundamental,” kata Flowers, dikutip dari Wood Mackenzie, Ahad, 25 Januari 2026.

    1. Geopolitik Masih Jadi Sumber Guncangan

    Perang Ukraina yang belum menunjukkan jalan damai, penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro, hingga sikap Amerika Serikat terhadap Iran dan Greenland dinilai semakin mempertegas fragmentasi global. Dunia perdagangan kian terbelah ke dalam blok yang dipimpin Amerika Serikat dan China.

    Situasi ini, menurut Flowers, akan semakin sensitif menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat pada November 2026, yang dampaknya tak hanya politis, tetapi juga ekonomi dan komoditas global.

    Dalam proyeksinya, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan melambat menjadi 2,5 persen pada 2026, turun dari 2,8 persen tahun sebelumnya, seiring dampak tarif perdagangan yang mulai terasa. Namun, ada satu celah harapan.

    “Pemangkasan suku bunga oleh The Fed membuka kemungkinan bahwa 2026 justru menjadi titik terendah dari siklus ekonomi,” katanya, seraya menambahkan, pelemahan dolar AS bisa memberi penopang sementara bagi harga komoditas.

    2. Minyak dan Gas: Era Pasokan Melimpah

    Di pasar minyak, Flowers menilai strategi OPEC+ untuk menekan pasokan non-OPEC dengan menurunkan harga mulai menunjukkan hasil. Harga Brent diperkirakan rata-rata hanya USD59 per barel pada 2026, sekitar USD10 lebih rendah dibanding tahun sebelumnya.

    Pasar minyak global dinilai kelebihan pasokan. Pertumbuhan cairan global mencapai 2,5 juta barel per hari, jauh melampaui pertumbuhan permintaan yang hanya 0,7 juta barel per hari, bahkan sebelum tambahan volume dari Venezuela masuk ke pasar.

    Sementara itu, pasar gas dan LNG memasuki fase penurunan panjang. Gelombang pasokan baru dari Amerika Serikat dan Qatar terus mengalir, membuat harga LNG di Eropa dan Jepang—yang sudah anjlok dua pertiga dari puncak 2022—berpotensi turun lebih dalam lagi.

    “Tulisan di dinding sudah jelas,” kata Flowers.

    Harga gas Eropa (TTF) bahkan sempat turun di bawah USD10 per mmbtu pada awal Januari, meski musim dingin masih berlangsung. Di sisi lain, meningkatnya permintaan gas AS untuk ekspor dan konsumsi domestik mulai menekan harga Henry Hub.

    “Prospek margin yang lebih rendah bagi produsen LNG AS kini tidak lagi terasa sejauh dulu,” ujarnya.

    3. Logam dan Listrik, Tekanan Politik Baru

    Untuk sektor logam, Flowers menilai tembaga kembali menjadi primadona. Permintaan dari elektrifikasi dan pusat data terus meningkat, sementara gangguan pasokan membuat harga tetap terjaga.

    Di sisi lain, harga listrik kini berubah menjadi isu politik. Di Eropa, konsumen telah menghadapi harga listrik tertinggi di dunia dalam empat tahun terakhir, terutama akibat mahalnya gas. Flowers memperkirakan penurunan harga gas mulai memberi napas bagi ekonomi Eropa pada 2026.

    Amerika Serikat pun menghadapi masalah serupa. Pada 2025, 39 dari 50 negara bagian mengalami kenaikan riil tarif listrik rumah tangga.

    “Harga listrik grosir dan ritel hanya bergerak ke satu arah: naik,” kata Flowers. Ia juga menyoroti tekanan dari investasi AI, pusat data, cuaca ekstrem, hingga mahalnya biaya infrastruktur.

    Ia memperingatkan, ambisi Amerika Serikat untuk memenangkan perlombaan AI justru berisiko memicu kelebihan kapasitas pembangkit listrik di masa depan jika efisiensi chip meningkat terlalu cepat.

    4. Investasi Energi Mulai Tersendat

    Ketegangan geopolitik dan pelemahan harga komoditas jangka pendek juga membuat investasi energi global melambat. Setelah mencapai rekor USD1,63 triliun tahun lalu, investasi energi dan sumber daya alam diperkirakan turun menjadi USD1,58 triliun pada 2026.

    Namun Flowers menilai penurunan ini hanya bersifat sementara. “Dengan kebutuhan pasokan jangka panjang dan tuntutan dekarbonisasi, jeda ini kemungkinan hanya sebentar,” kata dia.

    Investasi energi terbarukan diperkirakan stagnan secara riil hingga 2030, terutama karena China mulai mengurangi insentif untuk surya dan angin. Di sektor migas hulu, belanja juga menurun, tetapi peluang ekspansi kembali terbuka jika permintaan tetap kuat hingga 2030-an.

    5. Dekarbonisasi, Titik Terang Datang dari China

    Meski dunia bergerak lebih pragmatis dalam transisi energi, Flowers melihat sejumlah titik terang. Kapasitas surya dan angin global diperkirakan mencapai 4.000 gigawatt pada 2026, melampaui kapasitas pembangkit batu bara dan gas untuk pertama kalinya.

    Penjualan kendaraan listrik global diproyeksi naik menjadi 24 juta unit pada 2026, dengan China tetap menjadi motor utama. Bahkan teknologi baterai sodium-ion dari China mulai disiapkan untuk pasar Eropa.

    Untuk hidrogen, Flowers mencatat dominasi China yang mencolok. “Lebih dari 70 persen keputusan investasi final hidrogen hijau tahun lalu berasal dari China,” katanya, seraya menyoroti potensi hidrogen murah China yang bisa menekan produksi hidrogen hijau di Eropa.

    Kesimpulannya, 2026 bukan tahun yang tenang bagi sektor energi. Geopolitik, keterjangkauan energi, dan transisi rendah karbon saling tarik-menarik, menciptakan pasar yang rapuh sekaligus penuh peluang. Seperti ditulis Simon Flowers, dunia energi bergerak cepat dan siapa pun yang terlambat membaca arah, berisiko tertinggal.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).