Logo
>

Di Balik Pencabutan Izin Martabe, Ada Ancaman ke Laba dan Kas UNTR

Pencabutan izin tambang emas Martabe bukan sekadar isu operasional, tetapi berpotensi menekan laba, arus kas, hingga nilai buku PT United Tractors Tbk di tengah meningkatnya risiko lingkungan dan politik.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Di Balik Pencabutan Izin Martabe, Ada Ancaman ke Laba dan Kas UNTR
Tambang Emas Martabe di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, beroperasi di lahan seluas 646,08 hektar per Desember 2024. Sejak mulai berproduksi pada Juli 2012, tambang ini secara konsisten mengolah lebih dari 6 juta ton bijih per tahun dengan hasil produksi melampaui 200.000 ounce emas serta 1 hingga 2 juta ounce perak. Foto: Dok. Agincourt Resources.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — Pencabutan izin Tambang Emas Martabe di Batang Toru, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara menjadi penanda bahwa risiko lingkungan dan politik bukan lagi isu pinggiran di pasar modal. Keputusan yang diambil pemerintah di era Presiden Prabowo Subianto itu langsung memukul saham United Tractors Tbk (UNTR), sekaligus mengirim pesan keras ke investor, bahwa arus kas bisa berhenti hanya oleh satu keputusan izin.

    Per hari ini, 21 Januari 2026, Saham UNTR ambles hampir 15 persen ke level Rp27.200. Jika ditarik dalam seminggu terakhir, UNTR sudah turun 13,65 persen, setelah sebelumnya harga sempat bertengger di level Rp31.975.

    Peneliti Pasar Modal dari Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, menilai pencabutan izin Martabe menunjukkan bahwa pemisahan politik dan saham adalah ilusi. “Memisahkan politik dari saham, itu sama saja memisahkan daging dari sapi. Politik itu penting dan keamanan lingkungan dan alam itu lebih penting karena bisa jadi saklar utama arus kas,” katanya dalam keterangan tertulis, Rabu, 21 Januari 2026.

    Secara kasat mata, segmen emas dan mineral UNTR justru sedang berada di fase terbaik. Dalam laporan keuangan kuartal III 2025, pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp10,318 triliun, melonjak sekitar 53 persen dibandingkan periode sembilan bulan 2024. Laba sebelum pajak segmen tercatat Rp2,584 triliun, dengan margin sekitar 25 persen—angka yang biasanya membuat pasar jatuh hati.

    Namun, di balik kinerja yang tampak rapi, terdapat konsentrasi risiko yang tinggi. Seluruh segmen emas UNTR praktis bertumpu pada satu mesin utama, yakni PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Martabe. Dari total aset segmen emas sebesar Rp47,008 triliun, sekitar 35,9 persen berada di PTAR. Artinya, ketika izin operasional Martabe dicabut, yang terguncang bukan sekadar satu lini pendapatan, melainkan satu pilar neraca.

    Kontribusi pendapatan segmen emas ke UNTR memang “hanya” sekitar 10,25 persen dari total pendapatan konsolidasian Rp100,5 triliun. Tetapi Skydrugz27 mengingatkan, pembacaan investor tidak boleh berhenti di situ. Data internal PTAR menunjukkan pendapatan Rp8,931 triliun dengan laba Rp3,171 triliun, atau margin sekitar 35,5 persen. “Walau porsi pendapatan sekitar sepersepuluh, porsi laba bisa jauh lebih besar,” tulisnya. Secara kasar, kehilangan PTAR setara dengan sekitar 27 persen laba bersih grup.

    Pukulan pertama dari pencabutan izin, menurut analisis tersebut, hampir pasti datang dari arus kas, bukan laba. Selama sembilan bulan 2025, PTAR menghasilkan arus kas operasi Rp4,841 triliun. Kas inilah yang menopang belanja modal dan membantu UNTR menjaga struktur pendanaan tanpa menambah utang. Jika operasional berhenti, yang hilang bukan sekadar laba akuntansi, tetapi kemampuan membiayai pertumbuhan dan menjaga dividen.

    Risiko berikutnya ada di neraca. Segmen emas UNTR menanggung goodwill Rp2,431 triliun. Dalam skenario gangguan izin yang berkepanjangan, goodwill tersebut berpotensi tergerus karena unit penghasil kas tidak lagi memenuhi asumsi awal. Di tingkat anak usaha, aset bersih PTAR tersirat sekitar Rp14,083 triliun—angka yang membuat risiko penurunan nilai menjadi isu serius, meski bersifat non-cash.

    Lapisan risiko lain yang kerap luput dari perhatian investor ritel adalah derivatif lindung nilai. UNTR menggunakan skema zero-cost collar untuk penjualan emas dan mencatat liabilitas derivatif Rp1,580 triliun. Jika produksi masa depan tidak lagi dianggap sangat mungkin, mekanisme lindung nilai ini bisa memicu volatilitas tambahan di laporan laba rugi.

    Di tengah tekanan ini, UNTR juga sudah membukukan penurunan nilai Rp149 miliar pada beban eksplorasi karena tidak ada tambahan cadangan di wilayah tertentu. Fakta ini menggarisbawahi satu hal: nilai tambang ditopang oleh izin dan cadangan. Ketika keduanya sama-sama dipertanyakan, pasar cenderung memasang diskon risiko yang tebal, bukan setengah-setengah.

    Ke depan, Skydrugz27 melihat dua arah yang sama-sama berisiko. Di satu sisi, tekanan izin bisa mendorong UNTR mempercepat diversifikasi, termasuk rencana akuisisi PT Arafura Surya Alam dengan nilai perusahaan sekitar Rp9 triliun. Di sisi lain, ekspansi besar saat mesin kas utama sedang terganggu bisa dibaca pasar sebagai peningkatan risiko, bukan solusi instan.

    Bagi induknya, Astra International Tbk (ASII), dampaknya bersifat tidak langsung. Kontribusi laba UNTR ke Astra sekitar 35 persen dari laba bersih grup. Jika segmen emas benar menyumbang sekitar seperempat laba UNTR, maka risiko terhadap laba Astra berada di kisaran 9–10 persen—cukup besar untuk memengaruhi sentimen valuasi, meski tidak mengancam keberlangsungan usaha.

    Dalam kondisi seperti ini, pasar biasanya tidak menunggu kepastian akhir. Diskon dipasang lebih dulu. Jika jalur izin kembali jelas dan operasional pulih, diskon itu bisa menyusut cepat. Namun bila ketidakpastian berlarut, volatilitas akan menjadi menu harian, dan valuasi akan terus ditekan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).