Logo
>

Davos di Bawah Bayang Trump, Dunia Membaca Ulang Arah Politik, Pasar, hingga Energi

Dominasi Presiden AS Donald Trump di WEF Davos 2026 memaksa pemimpin dunia dan pelaku usaha menilai ulang stabilitas geopolitik, ekonomi global, dan arah transisi energi.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Davos di Bawah Bayang Trump, Dunia Membaca Ulang Arah Politik, Pasar, hingga Energi
WEF Davos 2026 dibayangi Trump. Dunia menilai ulang geopolitik, pasar global, hingga arah kebijakan energi dan investasi ke depan. Foto: Dok. World Economic Forum.

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM — World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos berakhir dengan satu kesan kuat: Donald Trump mendominasi panggung. Para pemimpin dunia dan eksekutif bisnis global pulang dari Swiss dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, terutama soal arah geopolitik, ekonomi global, dan stabilitas pasar ke depan.

    Forum tahunan yang seharusnya menjadi ajang konsensus justru berubah menjadi arena membaca ulang risiko global, seiring gaya kepemimpinan Trump yang kembali tak terduga.

    Salah satu pelajaran paling nyata dari Davos tahun ini datang dari Eropa. Klaim Trump atas Greenland dinilai telah melampaui semua garis merah kedaulatan wilayah. Perlawanan Eropa—yang diperkuat oleh gejolak pasar keuangan—disebut menjadi salah satu alasan Trump akhirnya mundur.

    Namun, keretakan sudah terlanjur terjadi. Kepercayaan Eropa terhadap hubungan transatlantik dengan Washington terguncang hebat. Para pemimpin Eropa mulai membahas bagaimana bertindak lebih cepat dan mandiri ketika krisis berikutnya datang.

    “Ada upaya untuk mempercepat pengambilan keputusan di Eropa. Kami mungkin terlalu lambat,” ujar seorang pejabat Uni Eropa, dikutip dari Reuters, Ahad, 24 Januari 2026.

    Banyak pemimpin dan eksekutif Eropa menyebut pendekatan pemerintahan Trump kasar dan ofensif, meski sebagian mengakui ia mengangkat isu-isu yang sah. Ukraina sempat tersisih dari sorotan hingga Trump mengumumkan kesepakatan Greenland.

    Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy kemudian terbang ke Davos untuk melakukan pembicaraan. Namun harapan damai masih jauh. Zelenskiy menegaskan persoalan wilayah belum terselesaikan, meskipun pejabat AS, Ukraina, dan Rusia sama-sama berbicara soal “kemajuan”.

    Dalam sinyal lain kuatnya bayang-bayang Trump, utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, mendarat di Davos untuk bertemu pejabat AS. Ini merupakan kunjungan pertama pejabat Rusia sejak invasi Ukraina 2022. Ia menggelar pertemuan di USA House, tanpa mengikuti forum resmi.

    Para pemimpin dunia bahkan secara terbuka memperdebatkan skenario pasca-konflik jika Trump benar-benar menyerang Iran. Trump yang tak terduga kembali menjadi ciri utama perhelatan Davos tahun ini.

    Dunia Usaha Kekurangan Stabilitas

    Ancaman tarif AS terhadap sekutu Eropa—akibat penolakan atas ambisi Greenland—memanaskan kembali ketegangan dagang. Banyak CEO menilai Eropa kini tak bisa lagi sepenuhnya mengandalkan Amerika Serikat.

    “Kalau Anda bicara dengan para CEO hari ini, apa yang mereka inginkan? Stabilitas, kepastian, dan supremasi hukum. Saya kira itu sedang langka,” kata Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne.

    Langkah Trump justru memperkuat argumen mereka yang mendorong diversifikasi perdagangan menjauh dari AS yang semakin proteksionis.

    Sektor jasa keuangan berharap ada peningkatan aktivitas bisnis tahun ini, meski harus menghadapi ketidakpastian kebijakan AS, geopolitik, kecerdasan buatan, dan teknologi finansial.

    CEO JPMorgan Jamie Dimon memperingatkan rencana pembatasan suku bunga kartu kredit akan menjadi bencana ekonomi. Di sisi lain, industri kripto gencar mempromosikan stablecoin dan blockchain sebagai masa depan keuangan, meski sebagian bankir masih bersikap hati-hati.

    Kekhawatiran soal independensi Federal Reserve AS, serta potensi gelembung di sektor AI dan aset lainnya, terus membayangi sentimen investor.

    Kecerdasan Buatan, Optimisme Bertemu Kecemasan Sosial

    Industri teknologi hadir penuh di Davos, dengan kemunculan langka Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang. Startup AI Anthropic bahkan membuka kantor sementara di jalan utama Davos untuk mendongkrak penjualan korporasi.

    Berbeda dengan skeptisisme akhir 2025, para eksekutif menyatakan kekhawatiran soal valuasi AI mulai ditinggalkan. Namun, ada harga sosial yang diperdebatkan.

    Dua pemimpin bisnis mengatakan AI akan menjadi alasan untuk membenarkan PHK, bukan penyebab utamanya. Sebaliknya, serikat pekerja khawatir AI akan menghancurkan lapangan kerja dan memperlebar ketimpangan, mendorong tuntutan regulasi dan pelatihan ulang tenaga kerja.

    Energi: Big Oil Bangkit, Narasi Hijau Diguncang

    Industri minyak dan gas kembali ke Davos dengan percaya diri setelah setahun pemerintahan Trump. Presiden AS itu memerintahkan penghentian proyek ladang angin dan mendorong perusahaan AS untuk mengebor lebih banyak minyak.

    Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan produksi minyak global perlu lebih dari dua kali lipat untuk memenuhi permintaan energi. Hal ini bertentangan dengan pandangan analis yang memprediksi puncak permintaan dalam dua dekade.

    Ia juga menuding Eropa dan California menghamburkan terlalu banyak uang untuk energi hijau. “Pemerintahan Trump sedang mengubah narasi secara radikal, dan industri minyak menyukainya,” ujar seorang eksekutif migas.

    Namun Elon Musk mengambil jarak dari Trump soal energi terbarukan. “Amerika Serikat bisa memproduksi cukup tenaga surya untuk memenuhi seluruh kebutuhan listriknya,” kata Musk.

    Ia menambahkan, “Anda bisa mengambil sudut kecil Utah, Nevada, atau New Mexico—persentase yang sangat kecil dari wilayah AS—untuk menghasilkan seluruh listrik yang digunakan AS.”

    Masalahnya, menurut Musk, “Hambatan tarif untuk surya sangat tinggi dan itu membuat ekonomi penyebaran surya menjadi mahal secara artifisial.”

    Pertahanan, Antara Lega dan Harapan Belanja Baru

    Dunia sempat menarik napas lega ketika Trump mengatakan tidak ada solusi militer atas tuntutannya terhadap Greenland. Namun sebagian eksekutif justru berharap pada peningkatan belanja pertahanan Eropa dan AS, termasuk proyek konstruksi dan perekrutan.

    Trump juga mengklaim adanya senjata sonik rahasia yang digunakan saat penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela. “Rusia dan China harus kembali ke meja gambar,” kata Trump. Kremlin menyebut dinas rahasia Rusia tengah menyelidiki klaim tersebut.

    WEF Davos 2026 menegaskan bahwa dunia memasuki era di mana kepastian makin langka, dan kepemimpinan global kembali ditentukan oleh politik kekuatan. Di bawah bayang Trump, pasar, energi, dan geopolitik bergerak dalam satu irama yang sulit ditebak, namun mustahil diabaikan.(*)

    Disclaimer:
    Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Moh. Alpin Pulungan

    Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

    Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).