Logo
>

Mark Zuckerberg Akui Salah Urus AI usai Ribuan Karyawan Meta Digeser dan Dipecat

CEO Meta mengakui perusahaan membuat kesalahan dalam transformasi AI setelah merombak organisasi dan memangkas ribuan pekerja.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Mark Zuckerberg Akui Salah Urus AI usai Ribuan Karyawan Meta Digeser dan Dipecat
Mark Zuckerberg mengakui Meta melakukan kesalahan dalam transformasi AI setelah merombak organisasi, memindahkan ribuan pekerja, dan memangkas 10 persen tenaga kerja global. Foto: The Technology Express.

KABARBURSA.COM – Demam kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata tidak selalu berjalan mulus, bahkan bagi perusahaan sebesar Meta. Di tengah ambisi besar mengubah cara kerja perusahaan dengan teknologi AI, CEO Meta Mark Zuckerberg mengakui bahwa perusahaannya telah membuat sejumlah kesalahan.

Pengakuan itu muncul dalam memo internal yang dikirim Zuckerberg kepada karyawan dan diperoleh Reuters. Dalam memo tersebut, bos Meta itu secara terbuka mengakui bahwa transformasi besar-besaran yang sedang berlangsung di perusahaan tidak lepas dari berbagai kekeliruan.

“Mengingat kompleksitas perubahan ini, kami telah membuat kesalahan dan hampir pasti akan membuat lebih banyak kesalahan lagi,” kata Zuckerberg, dikutip dari Reuters, Sabtu, 13 Juni 2026.

Pernyataan tersebut muncul saat Meta sedang menggelontorkan investasi raksasa untuk mempercepat pengembangan AI di hampir seluruh lini bisnis perusahaan. Langkah itu sejalan dengan tren yang sedang melanda perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat yang berlomba-lomba menempatkan AI sebagai pusat strategi bisnis mereka.

Namun di balik optimisme tersebut, perubahan besar yang terjadi ternyata juga memicu guncangan internal. Pada Mei lalu, Meta melakukan restrukturisasi besar-besaran dengan memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya secara global. Pada saat yang sama, sekitar 7.000 karyawan dipindahkan ke berbagai inisiatif baru yang berkaitan dengan alur kerja berbasis AI.

Meski demikian, Zuckerberg berupaya menenangkan para pekerja yang masih bertahan di perusahaan. “Saya tidak ingin memberikan janji berlebihan karena dunia sedang berubah dengan cara-cara yang berada di luar kendali kami,” ujarnya.

Ia kembali menegaskan, Meta tidak memperkirakan akan melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja secara massal lagi pada tahun ini. Di tengah perombakan organisasi tersebut, Meta juga berjanji akan mencari posisi baru bagi karyawan yang dialihkan untuk melatih model-model AI.

“Dengan menciptakan peran-peran baru yang penting bagi karyawan, hal itu juga memungkinkan kami mengurangi ukuran tim karena kami tahu bahwa jika membuat kesalahan di beberapa tempat, kami bisa memindahkan sebagian orang kembali,” kata Zuckerberg.

Pernyataan itu mengindikasikan bahwa Meta sendiri masih berada dalam fase eksperimen besar mengenai bagaimana AI seharusnya ditempatkan dalam struktur organisasi perusahaan.

Di satu sisi, perusahaan ingin memangkas lapisan birokrasi dan mempercepat pengambilan keputusan. Namun di sisi lain, perubahan yang terlalu cepat juga berpotensi menciptakan ketidakpastian bagi para pekerja.

Meta diketahui tengah membentuk unit baru bernama Applied AI Engineering dengan struktur organisasi yang sangat datar. Dalam model tersebut, satu manajer dapat membawahi hingga 50 kontributor individu.

Namun model itu ternyata memunculkan kekhawatiran di kalangan karyawan. Zuckerberg mengakui perusahaan menerima berbagai masukan mengenai semakin luasnya tanggung jawab yang harus ditanggung para manajer. Karena itu, Meta berencana mengurangi praktik tersebut dan menata ulang struktur pengawasannya.

Selain mengubah organisasi kerja, Meta juga terus menggelontorkan dana besar untuk perlombaan AI. Pada April lalu, perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal tahunannya menjadi antara USD125 miliar hingga USD145 miliar atau setara Rp2.125 triliun hingga Rp2.465 triliun.

Angka tersebut menunjukkan betapa seriusnya Meta membangun masa depan bisnisnya di atas teknologi AI. Menariknya, di tengah investasi triliunan rupiah dan restrukturisasi besar-besaran yang sedang berjalan, Zuckerberg justru memilih mengakui bahwa perusahaan belum memiliki semua jawaban.

Fakta itu menjadi pengingat bahwa perlombaan AI yang saat ini diperebutkan raksasa teknologi dunia bukan hanya soal membangun mesin yang lebih pintar. Di baliknya ada eksperimen besar tentang bagaimana manusia, pekerjaan, dan organisasi perusahaan harus beradaptasi dengan teknologi yang berkembang jauh lebih cepat daripada aturan main yang selama ini mereka kenal.

Emiten Mana yang Sudah Pakai AI di Indonesia?

Sementara perusahaan-perusahaan teknologi Amerika Serikat sibuk menggelontorkan triliunan dolar untuk membangun masa depan berbasis AI, sejumlah emiten Indonesia sebenarnya juga mulai bergerak ke arah yang sama. Bedanya, mereka belum berada pada tahap menciptakan model AI kelas dunia seperti OpenAI atau Anthropic, melainkan memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan efisiensi dan memperkuat model bisnis yang sudah ada.

Di Bursa Efek Indonesia, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menjadi salah satu pemain yang paling agresif mengembangkan ekosistem AI. Melalui unit BigBox AI, Telkom mulai mengembangkan berbagai solusi berbasis kecerdasan buatan untuk korporasi dan instansi pemerintah, mulai dari analisis data, otomatisasi layanan pelanggan hingga sistem pengambilan keputusan berbasis AI.

Belum lama ini Telkom juga memperkenalkan AIcosystem dan Agentic AI, sebuah teknologi yang memungkinkan AI tidak hanya memberikan rekomendasi, tetapi juga menjalankan tugas tertentu secara otomatis dalam proses bisnis perusahaan.

Di sektor telekomunikasi, PT Indosat Ooredoo Hutchison Tbk (ISAT) memilih jalur berbeda. Bersama PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), perusahaan tersebut mengembangkan Sahabat-AI, model bahasa Indonesia yang dirancang untuk bersaing di tengah dominasi model AI global seperti ChatGPT, Gemini, maupun Claude.

Kehadiran Sahabat-AI menjadi salah satu upaya membangun kedaulatan teknologi nasional di tengah persaingan industri AI yang semakin ketat. Bagi investor, langkah tersebut menempatkan ISAT sebagai penyedia infrastruktur AI, sementara GOTO berpotensi menjadi pengguna sekaligus pengembang layanan AI berbasis konsumen.

Tidak hanya perusahaan teknologi, sektor perbankan juga menjadi pengguna AI terbesar di Indonesia. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) telah memanfaatkan kecerdasan buatan untuk mendeteksi transaksi mencurigakan, melakukan penilaian kredit, menganalisis perilaku nasabah, hingga memberikan layanan digital yang lebih personal.

Di balik layar, sebagian besar keputusan kredit dan mitigasi risiko di bank-bank besar saat ini semakin bergantung pada analisis machine learning dan kecerdasan buatan.

Sementara itu, perusahaan-perusahaan berbasis sumber daya alam seperti PT Bukit Asam Tbk (PTBA) dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) mulai menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi operasional, pemeliharaan prediktif, hingga analisis data produksi.

Meski demikian, Indonesia masih menghadapi satu tantangan besar. Hingga saat ini belum ada emiten yang dapat dikategorikan sebagai perusahaan AI murni seperti Nvidia, Palantir, OpenAI, atau Anthropic di Amerika Serikat.

Karena itu, jika investor ingin mencari eksposur terhadap tema AI di pasar domestik, pilihan yang paling dekat saat ini berada pada emiten yang membangun infrastruktur dan ekosistem AI seperti TLKM, ISAT, dan GOTO, atau perusahaan yang memperoleh manfaat langsung dari penerapan AI seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa revolusi AI di Indonesia sejauh ini masih berada pada fase adopsi dan integrasi. Berbeda dengan Amerika Serikat yang sudah memasuki tahap perlombaan menciptakan model AI generasi berikutnya, mayoritas perusahaan Indonesia masih berupaya menjadikan AI sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi bisnis. Namun jika tren investasi global terus mengarah ke kecerdasan buatan, emiten-emiten yang lebih dulu membangun fondasi AI berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan dalam beberapa tahun mendatang.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).