KABARBURSA.COM – Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, lifting migas Indonesia akan terus merosot dalam waltu 5-10 tahun ke depan.
“Namanya bahan bakar fosil itu pasti kan dari 5-10 tahun kemungkinan akan menurun. Ya, tadi saya bilang bahwa kita punya andalan Cilacap, kemudian Balikpapan, kemudian Aceh,” kata Ibrahim kepada KabarBursa.com, beberapa waktu lalu.
Menurutnya, lifting yang eksis saat ini sudah ada sejak zaman belanda. Oleh karena itu, Ibrahim meyakini jika lifting migas akan berkurang seiring waktu.
Agar produksi tetap berjalan, Ibrahim menyarankan agar pemerintah kembali melakukan eksplorasi dan mencari lahan-lahan baru dan bekerja sama dengan asing, terutama dalam proses pengeboran. Tanpa mencari tempat baru, lanjut dia, lifting akan terus turun.
Kalau hanya fokus terhadap yang tadi sa sebutkan ya kemungkinan besar
“Jadi bukan mengalami kenaikan, ya karena bahan bakar fosil itu terbatas. Misalnya kan dibentuklah Undang-Undang Minerba bahwa kita jangan melakukan ekspor bahan mentah. Seperti batu bara, timah, nikel, mangan dan lain-lain,” jelasnya.
Kemudian ayo kita bangun smelter, kita jual sudah jadi. Dulu misalnya satu contoh kayak nikel, nikel itu di ekspor bahan mentahnya ke Jepang. Kemudian Jepang diproduksi, membangun, dia dijual lagi ke Indonesia dengan harga 1 banding 20.
Nah tapi kalau smelternya ada di Indonesia, harga di Indonesia lebih mahal, sehingga keuntungannya pun juga lebih besar bagi perusahaan. Kemudian pajak PPN dan PPH-nya pun juga cukup besar buat APBN, buat negara.
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, capaian lifting minyak bumi mencapai 605,3 ribu barel per hari atau 100,05 persen dari target yang ditentukan oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2025.
Sementara itu, rata-rata lifting gas bumi pada tahun 2025 mencapai 951,8 ribu barel per hari (Thousand Barrels of Oil Equivalent Per Day/MBOEPD), atau di bawah target APBN sebesar 1.005 ribu barel.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia pada tahun 2025, seluruh kebutuhan gas dipasok dari produksi gas dalam negeri, tidak ada yang berasal dari impor.
Adapun dari total 5.600 Billion British Thermal Unit Per Day (BBTUD) gas bumi, sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik sebanyak 3.908 BBTUD atau 69 persen. Jumlah tersebut digunakan untuk kebutuhan hilirisasi dan domestik lain, seperti Bahan Bakar Gas (BBG), jaringan gas bumi (jargas), peningkatan produksi migas, ketenagalistrikan, Liquefied Natural Gas (LNG), dan Liquefied Petroleum Gas (LPG). Sisanya sebesar 1.691 BBTUD atau 31 persen diekspor.(*)