KABARBURSA.COM — Di dunia pasar modal, ada satu jenis investor yang tidak sabar. Mereka punya uang, punya ambisi, dan satu target utama uang harus bekerja cepat. Menunggu bisnis cetak laba lima tahun dianggap terlalu lama, apalagi menunggu puluhan tahun. Yang dicari bukan pabrik, bukan produk, bukan pelanggan, melainkan jalur cepat yang terlihat legal di permukaan, tapi licin di praktiknya.
Founder Pintar Saham, Ngurah Warman, menggambarkan jalur itu sebagai skenario hipotesis yang sering luput dari perhatian publik. Di atas kertas, semuanya tampak sah. Namun jika dibedah dengan angka, pola ini justru terasa terlalu rapi untuk sekadar kebetulan. “Ada jalan yang kelihatan legal di permukaan tapi licin di praktiknya,” kata dia dalam keterangan tertulis, Minggu, 18 Januari 2026.
Skema itu bermula dari langkah sederhana. Investor membeli saham berharga sangat murah, misalnya 1 rupiah per lembar, dalam jumlah besar. Dengan modal Rp1 miliar, ia menguasai 1 miliar lembar saham. Setelah itu, cerita besar atau istilah umumnya “gorengan” mulai dimainkan. Isunya bisa beragam, mulai dari backdoor listing, injeksi aset, pergantian pengendali, hingga narasi masuk ke bisnis baru yang terdengar canggih.
Harga saham perlahan didorong naik. Ketika menyentuh Rp100, portofolio investor di layar mendadak berubah drastis. Dari modal Rp1 miliar, nilai kepemilikan tampak menjadi Rp100 miliar. Angka itu terlihat seperti kekayaan instan, meski sejatinya masih sebatas floating profit.
Ngurah menekankan pada tahap ini, investor belum benar-benar cuan. Angka di layar belum bisa dipakai membayar apa pun. Ia baru menjadi nyata ketika saham tersebut dibawa ke meja sekuritas. “Ini angka yang terlihat kaya, tapi belum jadi cash,” katanya.
Di sinilah pintu berikutnya terbuka. Saham yang sudah terbang tinggi direpo atau digadaikan ke sekuritas. Pihak sekuritas tentu tidak menelan mentah-mentah harga pasar. Mereka menerapkan haircut, misalnya hanya mengakui nilai jaminan Rp20 per lembar. Dengan 1 miliar lembar saham, nilai repo pun menjadi Rp20 miliar.
Skema ini mengubah permainan. Tanpa menjual saham, investor sudah memegang uang tunai. Kekayaan yang tadinya hanya angka di layar berpindah bentuk menjadi cash di tangan. “Secara matematis, ini cuma memindahkan status kekayaan, dari floating profit menjadi pinjaman berbasis jaminan,” katanya.
Agar repo tetap aman, disepakati pagar harga. Misalnya harga saham harus dijaga minimal di 40 rupiah. Bagi sekuritas, ini memberi margin of safety dua kali lipat dari nilai repo. Bagi investor, angka itu menjadi garis hidup. Selama harga tidak mendekati pagar, margin call cenderung dihindari.
Masalahnya, menjaga harga tidak selalu butuh dana sebesar yang terlihat di layar. Dalam pasar yang tipis, sedikit transaksi bisa memberi ilusi likuiditas. Ngurah menyebut sebagian uang hasil repo kerap dipakai untuk maintenance. Ada bid (penawaran harga dari pembeli) yang rutin muncul, ada volume yang dijaga, ada transaksi yang membuat saham terlihat hidup dan dipercaya publik.
“Maintenance dilakukan lewat transaksi yang bikin saham terlihat tetap hidup,” ungkap Ngurah.
Di titik ini, ada dua kontrak yang berjalan bersamaan. Yang pertama adalah repo dengan sekuritas, urusan kredit, haircut, dan batas margin call. Yang kedua adalah operasi pasar, urusan menjaga harga dan likuiditas. Secara terpisah, keduanya tampak wajar. Namun ketika digabung, lahirlah mesin uang yang berputar sendiri.
Backdoor listing menjadi bahan bakar favorit karena membuat cerita cepat matang. Tidak perlu proses panjang seperti IPO. Cukup ganti kulit perusahaan, injeksi aset, lalu narasi babak baru dijual ke pasar. Laba bisa menyusul belakangan, karena target utamanya bukan dividen, melainkan monetisasi harga saham.
“Kalau bisnis riil cuma sanggup cetak laba rata-rata 1 miliar setahun, mau dapat Rp100 miliar dari laba butuh 100 tahun,” kata Ngurah.
Di atas kertas, skema ini tampak pintar. Namun di balik itu, ada bom waktu yang menunggu. Semua kestabilan bergantung pada satu hal rapuh, yakni kemampuan menjaga harga. Begitu likuiditas hilang, cerita basi, atau bandar berhenti dorong, harga bisa jatuh cepat.
Jika harga mendekati pagar, tekanan meningkat. Margin call bisa muncul. Forced sell pun tak terhindarkan. Di fase ini, spiral penurunan sering terjadi. Nilai Rp100 miliar di layar bisa menguap, sementara utang repo tetap nyata.
Ngurah menutup skenarionya dengan kesimpulan dingin. Skema ini memang terlihat seperti easy money. Tapi ia hanya bekerja selama pasar mau percaya. Begitu kepercayaan hilang, roda berhenti, dan yang tersisa hanyalah selisih antara cash yang sudah diambil dan harga saham yang runtuh kapan saja.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.