KABARBURSA.COM - Mata uang rupiah ditutup melemah sebesar 68 poin di level Rp16.955 terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Senin, 19 Januari 2026. Pelemahan rupiah kali ini tidak lepas dari sentimen luar negeri.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyampaikan salah satu sentimen yang membuat rupiah melemah ialah terkait Presiden AS, Donald Trump yang ingin memberlakukan tarif baru kepada delapan negara yang menentang rencananya menguasai Greenland.
"Trump mengatakan AS akan mengenakan tarif 10 persen pada barang-barang dari negara-negara yang terkena dampak mulai 1 Februari, dengan tarif tersebut akan naik menjadi 25 persen pada bulan Juni jika tidak ada kesepakatan yang tercapai," kata dia dalam keterangannya.
Ibarhim menyampaikan pengumuman tersebut menuai kritik tajam dari para pejabat Eropa dan meningkatkan kekhawatiran akan sengketa perdagangan transatlantik yang lebih luas.
Selain AS dan Greenland, sentimen juga datang mengenai data di AS yang menunjukkan pasar tenaga kerja tidak selemah yang diperkirakan. Oleh karena itu, kata Ibrahim, para pedagang menjadi ragu-ragu apakah Federal Reserve akan melakukan dua kali pemotongan suku bunga tahun ini.
"Kontrak berjangka dana Fed saat ini telah menunda ekspektasi pemotongan suku bunga berikutnya ke bulan Juni dan September dari perkiraan sebelumnya di bulan Januari dan April. Pandangan bahwa bank sentral AS dapat mempertahankan suku bunga lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," jelasnya.
Adapun untuk perdagangan besok, Selasa, 20 Januari 2026, Ibrahim menyebut mata uang rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp16.950- Rp16.980. (*)