KABARBURSA.COM — PT Petrosea Tbk (PTRO) memilih tidak membagikan dividen dari kinerja tahun buku 2025. Seluruh laba bersih justru dialihkan untuk memperkuat permodalan perusahaan.
Keputusan ini diambil dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang digelar pada 9 April 2026. Dalam rapat tersebut, pemegang saham menyetujui penggunaan laba bersih sepenuhnya sebagai laba ditahan.
“Menyetujui seluruh laba bersih Perseroan untuk tahun buku 2025 ditetapkan sebagai laba ditahan guna memperkuat permodalan dan mendukung pertumbuhan usaha Perseroan secara berkelanjutan,” demikian tertulis dalam laporan keterbukaan PTRO yang dirilis, Jumat, 10 April 2026.
Keputusan ini tidak diambil secara tipis. Dukungan pemegang saham mencapai 99,9931801 persen suara setuju, dengan hanya 0,0068199 persen yang menolak dan 0,0001281 persen abstain. Artinya, mayoritas investor menyetujui arah kebijakan perusahaan untuk menahan laba.
Bukan Sekadar Tahan Dividen
Dalam konteks pasar, keputusan tidak membagikan dividen sering kali dipandang sebagai sinyal bahwa perusahaan sedang berada dalam fase ekspansi. PTRO tampaknya berada dalam fase tersebut.
Hal ini tercermin dari kebutuhan penguatan modal di tengah ekspansi bisnis yang tengah berjalan. Terlebih, perusahaan sebelumnya juga aktif menghimpun dana melalui instrumen utang.
Dalam laporan RUPS, disebutkan bahwa dana hasil penerbitan obligasi dan sukuk telah digunakan seluruhnya. Untuk obligasi, masing-masing tahap mencapai Rp1 triliun, sementara sukuk ijarah sebesar Rp500 miliar per tahap.
Jika dijumlahkan, total dana yang telah diserap mencapai Rp3 triliun dari obligasi dan Rp1 triliun dari sukuk, atau sekitar Rp4 triliun secara keseluruhan. Ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya menahan laba, tetapi juga telah menggelontorkan pembiayaan eksternal untuk mendukung operasional dan ekspansi.
Selain keputusan terkait laba, RUPS juga mempertahankan susunan manajemen. Seluruh jajaran direksi dan dewan komisaris diangkat kembali hingga periode RUPS 2029.
Adapun susunan manajemen PT Petrosea Tbk hasil RUPS adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
- Presiden Komisaris merangkap Komisaris Independen: Osman Sitorus
- Komisaris: Erwin Ciputra
- Komisaris: Djauhar Maulidi
- Komisaris: Prof. Ginandjar Kartasasmita
- Komisaris: Jenderal Pol (Purn) Drs. Sutanto
- Komisaris Independen: Dr. Setia Untung Arimuladi
Direksi
- Presiden Direktur: Michael
- Direktur: Kartika Hendrawan
- Direktur: Ruddy Santoso
- Direktur: Meinar Kusumastuti
- Direktur: Iman Darus Hikhman
Keputusan ini mendapat dukungan 98,0563528 persen suara setuju, dengan penolakan sekitar 1,94 persen. Artinya, pemegang saham masih memberikan kepercayaan pada arah dan strategi yang dijalankan saat ini.
Dengan tidak adanya perubahan manajemen, sinyal yang muncul adalah konsistensi strategi. Perusahaan tampaknya tidak mengubah arah, melainkan melanjutkan agenda yang sudah berjalan.
RUPS juga mengesahkan laporan keuangan konsolidasian tahun buku 2025 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Liana Ramon Xenia & Rekan, bagian dari jaringan Deloitte.
Persetujuan ini hampir bulat, dengan 99,9999960 persen suara setuju. Ini menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan dinilai wajar dan dapat diterima oleh pemegang saham.
Selain itu, pemegang saham juga memberikan pembebasan tanggung jawab kepada direksi dan komisaris atas pengelolaan perusahaan selama 2025, sepanjang tercermin dalam laporan keuangan.
Implikasi bagi Investor
Bagi investor, keputusan menahan dividen memiliki dua sisi. Di satu sisi, tidak ada distribusi keuntungan dalam bentuk tunai dalam jangka pendek. Namun di sisi lain, langkah ini membuka ruang bagi pertumbuhan bisnis yang lebih agresif.
Dengan struktur pembiayaan yang telah dimanfaatkan secara penuh, serta laba yang ditahan untuk memperkuat modal, PTRO tampaknya sedang menyiapkan fondasi untuk ekspansi jangka menengah hingga panjang.
Kombinasi antara laba ditahan 100 persen, penyerapan dana Rp4 triliun dari obligasi dan sukuk, serta stabilitas manajemen menjadi indikasi bahwa perusahaan sedang berada dalam fase investasi, bukan distribusi.
Keputusan ini pada akhirnya membawa PTRO ke satu titik penting. Apakah strategi menahan laba akan menghasilkan pertumbuhan yang sepadan di masa depan atau justru menguji kesabaran investor yang menanti imbal hasil?
Dalam logika pasar, keputusan semacam ini bukan lagi soal dividen atau tidak, tetapi soal arah. PTRO telah memilih jalur pertumbuhan. Kini, pembuktiannya akan terlihat pada kinerja di periode berikutnya.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.