KABARBURSA.COM - Tekanan jual investor asing terhadap saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) terpantau cukup besar sejak awal tahun 2026.
Merujuk data Stockbit, berdasarkan data perdagangan periode 2 Januari hingga 26 Mei 2026, ZP menjadi broker yang menampung pembuangan asing di saham BBCA dengan nilai jual mencapai Rp11,9 triliun.
Tekanan distribusi juga datang dari broker AK sebesar Rp5,8 triliun dan KZ yang melepas Rp4 triliun.
Selain itu, broker YU tercatat membuang saham perbankan ini senilai Rp3,2 triliun, sementara broker RX melakukan distribusi Rp1,9 triliun. Broker BK juga membukukan aksi jual mencapai Rp981,5 miliar dan broker BB sebesar Rp979 miliar.
Besarnya aksi jual asing tersebut berimbas kepada harga saham BBCA. Secara year to date, saham ini anjlok hingga 26,01 persen. Sementara pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, BBCA ditutup melemah 2,05 persen ke level 5.975.
Tekanan pada saham emiten perbankan berkapitalisasi jumbo ini juga terlihat dalam jangka menengah. Dalam tiga bulan terakhir, saham BBCA turun 16,72 persen, sedangkan dalam enam bulan terkoreksi 28,23 persen.
Bahkan secara tahunan, saham BBCA telah melemah hingga 36,77 persen. Dalam tiga tahun terakhir, BBCA juga terkoreksi hingga 34,70 persen.
Meski demikian jika dilihat dari jangka panjang, saham BBCA masih mengalami penguatan 129,81 persen dalam periode 10 tahun terakhir.
Kendati demikian, mayoritas analis di Stockbit masih mempertahankan pandangan positif terhadap BBCA. Berdasarkan konsensus 37 analis, sebanyak 35 analis memberikan rekomendasi buy dan dua analis merekomendasikan hold, tanpa ada rekomendasi sell.
Target harga rata-rata analis untuk saham BBCA berada di level Rp8.840 per saham dengan estimasi tertinggi mencapai Rp10.900.
Dengan posisi harga saat ini di Rp5.975, saham BBCA dinilai masih memiliki ruang kenaikan apabila tekanan pasar mulai mereda dan aliran dana asing kembali stabil. (*)