Logo
>

Riset UGM Bongkar Mitos Investasi Teknologi Langsung Dongkrak Saham

Studi UGM ungkap pasar modal Indonesia tak langsung bereaksi atas investasi TI karena likuiditas tipis, investor aktif minim, dan free float rendah.

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Riset UGM Bongkar Mitos Investasi Teknologi Langsung Dongkrak Saham
Riset UGM menunjukkan pengumuman investasi teknologi tidak otomatis mengerek saham di BEI karena struktur pasar masih tipis dan investor belum aktif. Foto: Dok. Ajaib

KABARBURSA.COM — Pengumuman investasi teknologi informasi oleh perusahaan terbuka selama ini kerap dianggap sebagai kabar baik bagi pelaku pasar. Adopsi sistem enterprise resource planning, penguatan infrastruktur digital, hingga pengembangan layanan berbasis teknologi sering diasumsikan otomatis mengerek harga saham. Namun temuan riset akademisi Universitas Gadjah Mada atau UGM menunjukkan reaksi pasar tidak sesederhana itu.

Dosen Departemen Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM, Singgih Wijayana, mengatakan dalam dua dekade terakhir perusahaan di berbagai negara berlomba menanamkan dana di sektor teknologi. Investasi dilakukan melalui ERP, e-commerce, hingga digital banking dengan harapan efisiensi meningkat dan nilai perusahaan terdongkrak.

Menurut dia, pola tersebut tidak sepenuhnya berlaku di Indonesia karena karakter pasar modal domestik berbeda.

“Sayang tidak selalu begitu karena dalam konteks pasar modal di Indonesia memiliki karakteristik berbeda. Pasar modal di Indonesia dikenal sebagai thin market, di mana aktivitas perdagangannya tidak sepadat negara maju sehingga informasi tidak selalu diserap cepat oleh investor,” ujarnya dikutip dari laman resmi UGM, Rabu, 25 Februari 2026.

Pasar Tak Langsung Bereaksi

Singgih memaparkan hasil riset yang ia lakukan bersama Prof Didi Achjari berjudul Market Reaction to the Announcement of an Information Technology Investment Evidence from Indonesia. Penelitian itu mencoba menguji seberapa cepat investor merespons informasi investasi teknologi.

Riset tersebut menganalisis 179 pengumuman investasi teknologi informasi yang dilakukan perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia sepanjang 2001 hingga 2016. Pergerakan saham diamati di sekitar tanggal pengumuman hingga 60 hari setelahnya untuk membaca pola respons pasar.

Metode yang digunakan juga disesuaikan dengan kondisi thin market, termasuk penyesuaian risiko melalui adjusted beta Scholes Williams dan Dimson. “Hasilnya memperlihatkan tidak ada reaksi pasar yang signifikan di sekitar tanggal pengumuman investasi teknologi. Artinya, investor di Indonesia tidak langsung menanggapi kabar tersebut,” kata Singgih.

Temuan itu menjelaskan bahwa investor cenderung menahan diri. Mereka memilih menunggu beberapa bulan untuk melihat apakah investasi teknologi benar-benar berdampak pada kinerja keuangan.

Meski tidak memicu reaksi instan, riset tersebut menemukan respons pasar lebih kuat pada sektor tertentu. Perusahaan perbankan, emiten berukuran kecil, serta perusahaan yang baru pertama kali mengadopsi teknologi seperti ERP justru mendapat perhatian lebih besar dari investor. Menurut Singgih, faktor industri, skala bisnis, dan pengalaman dalam penggunaan teknologi memengaruhi cara pasar menilai sebuah pengumuman investasi.

“Hal ini menunjukkan bahwa jenis industri, skala bisnis, dan pengalaman dalam berteknologi memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana pasar menilai pengumuman investasi IT,” ujarnya.

PR Komunikasi Manajemen

Temuan itu sekaligus menjadi pengingat bagi manajemen perusahaan bahwa investasi teknologi tidak otomatis meningkatkan valuasi saham. Pasar membutuhkan penjelasan yang lebih konkret mengenai manfaat jangka panjang dari belanja teknologi tersebut.

Manajemen dinilai perlu menyampaikan arah bisnis, potensi efisiensi, serta dampak terhadap profitabilitas secara transparan agar investor menangkap nilai tambahnya.

“Tidak hanya itu, dari penelitian ini memperlihatkan bahwa pasar modal Indonesia masih dalam proses menuju pasar yang efisien dan perilaku investor masih dipengaruhi faktor psikologis serta keterbatasan dalam pengambilan keputusan rasional,” kata Singgih.

Di tengah gencarnya transformasi digital, riset ini memberi jarak dari anggapan bahwa setiap belanja teknologi selalu menjadi katalis positif bagi saham. Di pasar yang likuiditasnya terbatas, waktu dan kejelasan strategi bisnis masih menjadi faktor utama sebelum investor benar-benar bereaksi.

Likuiditas Tipis, Investor Aktif Minim

Temuan riset akademisi UGM tentang lambatnya reaksi pasar terhadap pengumuman investasi teknologi menemukan pijakan kuat pada struktur pasar modal Indonesia saat ini. Di atas kertas jumlah investor terus melonjak, nilai transaksi harian ikut menanjak, tetapi kedalaman pasar masih menyisakan pekerjaan rumah.

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan rata-rata nilai transaksi harian sepanjang 2025 berada di kisaran Rp18,07 triliun. Pada awal 2026 angkanya meningkat hingga sekitar Rp32 triliun per hari. Kenaikan itu menandakan aktivitas perdagangan yang lebih hidup dibanding periode sebelumnya, namun masih jauh bila disejajarkan dengan bursa di negara maju yang likuiditasnya jauh lebih tebal.

Di balik angka tersebut, struktur pelaku pasar memperlihatkan dominasi investor ritel. Sekitar 52 persen transaksi harian berasal dari investor individu, sementara investor asing berada di kisaran 30 persen dan sisanya institusi domestik. Komposisi ini membuat pergerakan harga saham lebih dipengaruhi sentimen jangka pendek dan faktor psikologis, sehingga proses pembentukan harga yang mencerminkan informasi fundamental berjalan lebih lambat.

Jumlah investor pasar modal memang tumbuh pesat. Hingga 2025 tercatat 20,3 juta single investor identification, dengan 8,59 juta di antaranya merupakan investor saham. Namun angka itu menyusut tajam ketika dilihat dari sisi partisipasi riil.

Investor yang benar-benar aktif bertransaksi setiap bulan hanya sekitar 901 ribu. Adapun investor harian aktif berada di kisaran 179 ribu. Kesenjangan antara jumlah investor terdaftar dan yang aktif ini membuat likuiditas pasar belum terbentuk secara merata di seluruh saham.

Kondisi tersebut menjelaskan mengapa informasi baru, termasuk pengumuman investasi teknologi, tidak langsung tercermin dalam harga. Pasar membutuhkan waktu lebih panjang karena pelaku yang benar-benar bertransaksi jumlahnya terbatas.

Free Float Rendah dan Kepemilikan Terkonsentrasi

Dari sisi jumlah emiten, Bursa Efek Indonesia telah dihuni lebih dari 900 perusahaan terbuka hingga akhir 2025. Namun tidak semua saham beredar bebas dalam jumlah memadai. Tercatat 267 emiten memiliki free float di bawah 15 persen.

Rendahnya porsi saham yang beredar di publik membuat likuiditas terpusat pada saham-saham tertentu. Potensi tambahan saham ke publik dari peningkatan free float diperkirakan mencapai Rp187 triliun. Tanpa perluasan kepemilikan publik, pendalaman pasar berjalan lebih lambat dan distribusi informasi ke harga saham menjadi tidak merata.

Secara agregat, kapitalisasi pasar saham Indonesia berada di kisaran 72 persen terhadap produk domestik bruto. Rasio ini masih mencerminkan pasar yang berkembang, belum sedalam negara dengan sistem keuangan yang lebih matang.

Belanja Teknologi Bank Besar Kian Agresif

Di tengah struktur pasar yang masih dangkal, transformasi digital di kalangan emiten terus berlangsung. Sektor perbankan menjadi contoh paling nyata. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mengalokasikan belanja teknologi informasi sekitar Rp8 triliun hingga Rp9 triliun per tahun. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) berada di kisaran Rp6 triliun hingga Rp7 triliun, sementara PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menggelontorkan sekitar Rp4 triliun hingga Rp5 triliun setiap tahun.

Belanja tersebut diarahkan untuk pengembangan digital banking, penguatan keamanan siber, pembangunan pusat data, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dan analitik data.

Nilai investasi yang besar menunjukkan keyakinan manajemen terhadap transformasi digital sebagai penopang efisiensi dan pertumbuhan bisnis jangka panjang. Namun, seperti ditunjukkan riset UGM, pasar tidak selalu memberi respons instan terhadap pengumuman tersebut.

Struktur pasar yang didominasi investor ritel, tingkat partisipasi aktif yang masih terbatas, serta kepemilikan saham yang terkonsentrasi membuat proses penyerapan informasi berjalan bertahap. Dalam situasi seperti itu, investor cenderung menunggu bukti konkret berupa perbaikan kinerja keuangan sebelum merefleksikannya ke harga saham.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).