KABARBURSA.COM – PT Super Bank Indonesia Tbk atau SUPA mengumumkan telah mencatat laba sebelum pajak atau profit before tax (PBT) sebesar Rp142 miliar hingga April 2026. Capaian tersebut melonjak 1.528,8 persen secara tahunan atau year on year (YoY), di tengah ekspansi kredit digital dan penguatan integrasi layanan keuangan di ekosistem Grab dan OVO.
Dalam siaran pers yang diterima KabarBursa.com, Superbank menyebut pertumbuhan bisnis pada awal kuartal kedua tahun ini masih ditopang ekspansi agresif di sisi penyaluran kredit, pertumbuhan dana murah, hingga peningkatan layanan berbasis ekosistem digital.
Total aset perseroan tercatat naik 71,5 persen YoY menjadi Rp24 triliun. Sejalan dengan itu, penyaluran kredit meningkat 55,4 persen YoY menjadi Rp12,2 triliun.
Manajemen menjelaskan pertumbuhan kredit didukung penetrasi produk pinjaman berbasis ekosistem, termasuk melalui produk Own Loan atau PAS yang terhubung dengan berbagai touchpoint digital.
Di sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 98,4 persen YoY menjadi Rp15,1 triliun. Sementara pendapatan bunga bersih atau net interest income (NII) naik 84,5 persen YoY menjadi Rp671 miliar.
“Pertumbuhan bisnis didorong integrasi layanan dan perluasan akses keuangan digital,” tulis manajemen Superbank di Jakarta, dikutip Kamis, 21 Mei 2026,
Superbank juga terus memperdalam integrasi layanan dengan ekosistem para pemegang sahamnya. Salah satu inovasi terbaru adalah peluncuran fitur “Kartu Menguntungkan” hasil integrasi dengan KakaoBank dan layanan PAS yang memungkinkan pengguna di ekosistem Grab serta layanan pinjaman OVO mengakses layanan keuangan tanpa perlu berpindah aplikasi maupun mengunduh aplikasi Superbank secara terpisah.
Inovasi tersebut melengkapi integrasi sebelumnya seperti pembukaan rekening langsung di aplikasi Grab sejak Juni 2024 serta layanan “OVO Savings by Superbank”.
Menurut perseroan, strategi ini ditujukan untuk memperluas akses layanan perbankan digital yang aman, praktis, dan inklusif bagi masyarakat Indonesia.
Di tengah ekspansi bisnis tersebut, Superbank juga mengumumkan rencana konsolidasi keuangan oleh Grab sebagai salah satu pemegang saham utama perseroan.
Langkah itu dilakukan melalui pengalihan saham milik Singtel Alpha Investments Pte Ltd kepada GXS Bank Pte Ltd, bank digital berbasis di Singapura yang didukung konsorsium Grab dan Singtel.
Setelah transaksi selesai, kepemilikan langsung dan tidak langsung Grab di Superbank disebut akan meningkat menjadi lebih dari 50 persen. Dengan perubahan tersebut, laporan keuangan Superbank nantinya akan dikonsolidasikan ke dalam laporan keuangan Grab.
“Transaksi ini memperkuat komitmen jangka panjang Grab di Superbank,” tulis manajemen.
Grab sendiri telah menjadi investor di Superbank sejak 2022. Perseroan menilai dukungan ekosistem Grab dan OVO, mulai dari layanan transportasi, pengantaran makanan hingga pembayaran digital, menjadi salah satu kekuatan utama untuk memperluas penetrasi layanan keuangan digital.
Superbank menyebut kolaborasi strategis dengan Grab akan terus diperkuat melalui pengembangan layanan berbasis teknologi untuk memperluas inklusi keuangan di Asia Tenggara.
Meski demikian, Singtel disebut tetap mempertahankan posisinya sebagai investor strategis guna mendukung pengembangan GXS Bank dan Superbank ke depan.
Superbank saat ini didukung sejumlah pemegang saham besar seperti Grab, Emtek, Singtel, KakaoBank, dan GXS Bank. Perseroan mengklaim telah memiliki lebih dari 6 juta nasabah.
Pada Desember 2025, Superbank resmi mencatatkan saham di Bursa Efek Indonesia dengan kode SUPA sekaligus masuk kategori Bank Umum Berdasarkan Modal Inti (KBMI) 2.
Perseroan menyatakan fokus utama bisnis tetap diarahkan pada perluasan akses kredit bagi nasabah ritel dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM melalui solusi keuangan digital berbasis ekosistem.
Selain ekspansi bisnis, Superbank juga menyoroti aspek keamanan layanan digital dengan menyebut perseroan telah mengantongi sertifikasi ISO 27001 untuk standar keamanan informasi.
Di sisi lain, pasar masih menyoroti tantangan industri bank digital yang semakin kompetitif, terutama terkait kemampuan menjaga kualitas kredit, efisiensi biaya akuisisi nasabah, hingga keberlanjutan profitabilitas di tengah ekspansi agresif dan integrasi lintas ekosistem digital.
Bebarengan dengan pengumuman cetakan laba itu, saat ini saham SUPA berada di kisaran 865 per lembar pada penutupan perdagangan Selasa, 20 Mei 2026. Freefloat SUPA juga masih di bawah 15 persen—belum sesuai ketetapan regulasi Bursa Efek Indonesia untuk batad minimal saham beredar perusahaan tercatat. Freefloat SUPA hanya 11,53 persen.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.