Logo
>

Wall Street Panas, The Fed dan Saham Teknologi Jadi Ujian

Reli S&P 500 dan Nasdaq memasuki pekan krusial saat pasar menunggu laporan keuangan raksasa teknologi, keputusan The Fed, dan data inflasi PCE.

Ditulis oleh Yunila Wati
Wall Street Panas, The Fed dan Saham Teknologi Jadi Ujian
Wall Street menutup pekan dengan melanjutkan reli panjang. Namun pekan depan menjadi ujian terberat, di mana pasar akan memperhatikan keputusan the Fed dan laporan kinerja emiten teknologi besar. (Foto: New York City)

KABARBURSA.COM – Gerak wall Street semakin panas. Tidak hanya karena faktor ketegangan Timur Tengah, tapi Keputusan Federal Reserve (the Fed) dan sektor teknologi, menjadi ujian terberat.

Untuk diketahui, reli tajam Wall Street bergerak kuat dalam satu bulan terakhir. Indeks S&P 500 tercatat mengalami kenaikan sebesar 13 persen sejak 30 Maret lalu. Pun dengan Nasdaq Composite yang melesat lebih dari 19 persen dalam periode yang sama.

Kenaikan-kenaikan tersebut dipicu oleh meredanya kekhawatiran pasar atas dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah. Apalagi setelah keputusan gencatan senjata mengurangi tekanan terhadap aset berisiko, meski investor masih mencermati adanya potensi gejolak baru.

Pekan Depan Jadi Pembuktian

Chief Market Strategist Ameriprise Anthony Saglimbene, menyampaikan, reli ini terjadi begitu singkat. Wajar kiranya jika pekan depan akan menjadi momentum penting bagi investor untuk membuktikan ketangguhan Wall Street.

“Kami sudah bergerak jauh dalam waktu yang singkat. Pekan depan akan menjadi pekan besar untuk mengonfirmasi reli ini,” ujar Saglimbene.

Pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada laporan keuangan emiten besar. Lebih dari sepertiga konstituen S&P 500 dijadwalkan merilis kinerja, termasuk lima saham raksasa teknologi yang tergabung dalam kelompok Magnificent Seven.

Lima saham tersebut Adalah Micrososft, Alphabet, Amazon dan Meta Platforms, yang dijadwalkan melaporkan kinerja pada Rabu waktu setempat, 29 April 2026. 

Sementara Apple, menyusul sehari setelahnya. Di sini, investor akan mencermati arah bisnis perusahaan setelah adanya kabar perubahan kepemimpinan di tubuh produsen iPhone tersebut.

Fokus utama tidak hanya laba bersih, tapi juga besarnya belanja modal perusahaan teknologi untuk membangun pusat data dan infrastruktur kecerdasan buatan.

Belanja Jumbo di Sektor Teknologi

Mengapa belanja modal menjadi sorotan? Ya, belanja jumbo akan menimbulkan pertanyaan mengenai waktu pengembalian investasi dan kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan.

Menurut Saglimbene, ini waktu di mana emiten teknologi besar harus membuktikan ekspektasi pasar.

“Perusahaan-perusahaan ini punya banyak hal untuk dibuktikan. Dan, agar harga saham mereka bisa naik lebih tinggi, mereka benar-benar harus membuat investor terkesan dari sisi laba,” ujarnya.

Sejauh ini, musim laporan keuangan di kuartal I selalu memberikan dukungan bagi pasar. Data LSEG menunjukkan, 81,3 persen perusahaan S&P 500 yang sudah melaporkan kinerja, berhasil mencetak laba di atas ekspektasi analis.

Bahkan secara agregat, labanya diperkirakan tumbuh 16,1 persen. Angka inilah yang menjadi alasan investor tetap mempertahankan pandangan positif terhadap pasar saham Amerika Serikat.

Selain saham teknologi, pasar juga sedang menunggu laporan dari Eli Lilly, Exxon Mobil, dan Visa. Kinerja ketiga perusahaan ini biasanya memberikan gambaran yang lebih luas mengenai kondisi sektor kesehatan, energi, dan konsumsi berbasis transaksi.

The Fed Tahan Suku Bunga

Hal krusial lain yang akan menjadi perhatian investor di pekan depan adalah agenda rapat Federal Reserve. Bank sentral AS ini diperkirakan akan menahan suku bunga. Tidak hanya itu, investor juga akan memperhatikan sikap the Fed mengenai dampak perang terhadap ekonomi.

Senior Global Macro Strategist State Street Marvin Loh, menilai, posisi the Fed yang menahan suku bunga sudah memberikan dukungan bagi aset AS.

“The Fed yang berada dalam posisi menahan suku bunga cukup mendukung, dibandikan bank sentral lain yang diperkirakan menaikkan suku bunga,” ucap Loh.

Pekan depan juga akan diisi dengan data pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama dan indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE Maret. Indeks ini menjadi indikator inflasi pilihan the Fed dan akan menjadi bahan penting dalam membaca arah kebijakan moneter.

Timur Tengah Tetap Menjadi Risiko

Bicara soal konflik Timur Tengah, sejauh ini masih menjadi risiko utama bagi pasar. Chief Investment Strategist TD Wealth Sid Vaidya, menyebut reli pasar belum sepenuhnya aman karena belum adanya penyelesaian permanen atas konflik tersebut.

“Kekhawatiran kami adalah pasar sudah rebound, tetapi belum ada resolusi permanen. Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar risiko terhadap ekonomi riil, yang kemudian dapat berubah menjadi tekanan dan volatilitas bagi pasar,” kata Vaidya.

Dengan segala rupa kondisi ini, Wall Street memasuki pekan yang menentukan. Reli yang sudah membawa indeks ke rekor baru kini harus diuji oleh data, laba, dan arah kebijakan moneter.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79