Logo
>

Yield SUN Tembus 6,7 Persen, IHSG Bisa Kehilangan Tenaga?

Kenaikan yield SUN 10 tahun mencerminkan tekanan pasar surat utang, memicu pergeseran dana dan meningkatkan tekanan pada saham domestik.

Ditulis oleh Yunila Wati
Yield SUN Tembus 6,7 Persen, IHSG Bisa Kehilangan Tenaga?
Yield SUN 10 tahun naik ke kisaran 6,715 persen dan bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6,744 persen. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM - Pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun (INDO10Y) dalam dua pekan terakhir menunjukkan tren kenaikan yang konsisten. Yield yang sebelumnya berada di level rendah, sekitar 6,583 persen, kini telah naik ke kisaran 6,715 persen.

Tidak hanya itu, dalam pergerakannya intraday-nya, yield bahkan sempat menyentuh level tertinggi di 6,744 persen. Kenaikan ini memang terjadi secara bertahap dan mencerminkan bahwa tekanan ada tekanan yang terus terakumulasi di pasar surat utang.

Secara mekanisme pasar, Kiwoom Sekuritas Indonesia berpandangan kenaikan yield ini merefleksikan terjadinya penurunan harga obligasi. Dalam kondisi seperti ini, biasanya investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio dengan mengalihkan dana dari aset berisiko ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi. 

Dampaknya saat ini mulai terlihat, terutama pada pasar saham. Ada tekanan jual yang meningkat tajam seiring naiknya yield, yang bisa dilihat pada saham-saham dengan sensitivitas tinggi terhadap suku bunga.

Struktur teknikal memang menunjukkan bahwa yield masih bergerak dalam tren naik jangka pendek. Dalam hal ini, area 6,932 persen menjadi level yang diperhatikan sebagai resistance, jika merujuk pada titik tertinggi sebelumnya. 

Selama pergerakan masih mengarah ke area tersebut, tekanan terhadap harga obligasi berpotensi berlanjut. Ini artinya yield tetap berada dalam fase penguatan.

Kondisi ini menciptakan hubungan langsung dengan pasar saham. Alasannya, kenaikan yield tidak hanya meningkatkan daya tarik obligasi, tetapi juga memperketat kondisi likuiditas dan meningkatkan biaya dana secara keseluruhan. 

Dalam konteks ini, saham menghadapi tekanan ganda, baik dari sisi arus dana yang beralih, serta dari ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi.

Di tengah dinamika tersebut, peran otoritas moneter menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan oleh pelaku pasar. Intervensi melalui pembelian obligasi di pasar sekunder berpotensi mendorong harga obligasi naik dan menekan yield. 

Langkah ini juga dapat membantu menahan tekanan pada pasar saham, meski dampaknya terhadap potensi rebound masih bergantung pada kekuatan permintaan yang terbentuk setelahnya.

Dengan pergerakan yield yang masih berada dalam tren naik dan belum menunjukkan tanda pembalikan, pasar keuangan domestik saat ini berada dalam fase penyesuaian terhadap kondisi likuiditas yang lebih ketat. 

Arah berikutnya akan sangat dipengaruhi oleh interaksi antara pergerakan yield, kebijakan moneter, serta respons investor terhadap perubahan imbal hasil di pasar obligasi.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79