KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) sepanjang April 2026 menunjukkan perubahan arah yang cukup tajam setelah sempat berada dalam tekanan. Data perdagangan harian memperlihatkan bagaimana harga bergerak fluktuatif dengan dukungan aktivitas transaksi dan aliran dana yang berubah dalam waktu singkat.
Pada awal April, saham SCMA dibuka di level 272 pada 1 April 2026 dan sempat naik ke 284 pada 9 April. Kenaikan ini didukung oleh arus masuk dana asing yang tercatat sebesar Rp2,84 miliar pada 9 April, setelah sebelumnya juga mencatat net buy Rp3,58 miliar pada 1 April. Pergerakan berlanjut pada 10 April dengan harga ditutup di 290, meski mulai muncul tekanan jual asing sebesar Rp2,18 miliar.
Memasuki pertengahan bulan, volatilitas mulai meningkat. Pada 13 April, harga tertahan di level 290 dengan net foreign sell mencapai Rp3,47 miliar. Tekanan berlanjut pada 14 April dengan koreksi ke 286, meskipun masih disertai net buy asing sebesar Rp2,35 miliar.
Pola ini menunjukkan adanya pergantian arah aliran dana dalam waktu berdekatan.
Kondisi berubah signifikan pada 15 dan 16 April. Pada 15 April, saham SCMA turun ke 282, namun diikuti lonjakan net foreign buy sebesar Rp3,42 miliar. Keesokan harinya, 16 April, harga kembali naik ke 290 dengan dukungan net buy Rp385,02 juta.
Momentum berlanjut pada 17 April ketika harga melonjak 6,21 persen ke level 308, dengan nilai transaksi mencapai Rp41,13 miliar dan volume 1,35 juta lot.
Rangkaian pergerakan ini memperlihatkan bahwa sepanjang April, SCMA bergerak dalam pola naik-turun dengan kecenderungan penguatan di akhir periode.
Aktivitas transaksi juga meningkat, yang terlihat dari frekuensi mencapai 7.010 kali pada 17 April. Angka ini lebih tinggi dibandingkan awal bulan, yang berada di kisaran 4.000–5.000 kali.
Aksi Komisaris dan EMTK
Di balik pergerakan harga tersebut, terdapat aksi korporasi yang menjadi perhatian pasar. Pada 19 Februari 2026, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) membeli 300 juta saham SCMA di harga Rp320 per lembar, lebih tinggi dari harga pasar saat itu.
Nilai transaksinya mencapai sekitar Rp96 miliar, yang pada akhirnya meningkatkan kepemilikan EMTK menjadi 74,42 persen.
Selain itu, Komisaris SCMA RD Adi Wardhana Sariaatmadja juga melakukan pembelian saham pada 26 Februari 2026 sebanyak 241,81 juta saham di harga Rp276 per lembar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikannya meningkat menjadi sekitar 0,33 persen.
Dua aksi ini terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan dan menunjukkan adanya peningkatan kepemilikan dari pihak internal dan pengendali. Transaksi dilakukan pada harga yang berada di atas atau mendekati level perdagangan saat itu, sehingga menjadi bagian dari dinamika kepemilikan saham SCMA.
Jika dikaitkan dengan pergerakan harga di April, level pembelian EMTK di Rp320 berada di atas harga pasar saat ini, sementara aksi komisaris di Rp276 berada di sekitar area pergerakan harga awal April. Posisi ini menempatkan rentang harga 276 hingga 320 sebagai area yang sebelumnya menjadi titik transaksi signifikan.
Rekomendasi Perdagangan
Dalam konteks perdagangan jangka pendek, analis RHB Sekuritas Indonesia Ilham Fitriadi Budiarto memberikan pandangan teknikal dengan pendekatan buy on support.
Area beli direkomendasikan di kisaran 286, dengan target harga pertama di 304 dan target lanjutan di 316. Sementara itu, batas risiko atau stop loss ditetapkan di bawah level 268.
Jika melihat posisi harga pada 17 April di level 308, saham SCMA telah bergerak melampaui target pertama dan mendekati target kedua yang ditetapkan. Pergerakan ini terjadi setelah fase konsolidasi di area 280–290 pada pertengahan April.
Dengan demikian, pergerakan saham SCMA sepanjang April memperlihatkan fase awal penguatan yang sempat tertahan, diikuti tekanan jangka pendek, dan kemudian kembali naik dengan dukungan aktivitas transaksi yang meningkat.
Aksi akumulasi oleh EMTK dan pembelian oleh komisaris menjadi bagian dari struktur kepemilikan yang terbentuk sebelum pergerakan harga dalam periode tersebut, sementara posisi harga terbaru berada di dekat area target teknikal yang telah ditetapkan analis.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.