KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Jasnita Telekomindo Tbk (JAST) mulai menunjukkan perubahan arah dalam beberapa bulan terakhir. Setelah sempat mengalami tekanan, aliran dana asing perlahan kembali masuk, meski dalam skala yang masih terbatas.
Data menunjukkan, pada Januari 2026 asing mencatat net sell Rp3,18 miliar, berlanjut pada Februari sebesar Rp1,26 miliar. Namun tren itu mulai berbalik pada Maret dengan net buy Rp2,25 miliar, dan berlanjut pada April dengan net buy Rp119,81 juta.
Perubahan arah ini terjadi di tengah pergerakan harga saham yang cenderung stabil. JAST berada di level Rp100 pada April 2026, naik tipis 1,01 persen dari Rp99 pada Maret, setelah sebelumnya turun dari Rp108 pada Januari dan Rp105 pada Februari.
Di sisi lain, laporan keuangan kuartal I-2026 justru memperlihatkan kondisi yang berbeda. JAST mencatatkan rugi bersih Rp1,09 miliar, berbalik dari laba Rp1,25 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Tekanan pada laba ini terjadi meskipun pendapatan tumbuh cukup tinggi. Perseroan membukukan pendapatan Rp57,90 miliar, naik 49 persen dibandingkan Rp38,91 miliar pada kuartal I-2025.
Kenaikan tersebut turut mendorong laba kotor menjadi Rp14,14 miliar, meningkat 9,7 persen dari Rp12,89 miliar. Namun, peningkatan beban usaha dan beban keuangan membuat pertumbuhan tersebut tidak berlanjut ke level laba bersih.
Manajemen menyebutkan, beban penyusutan dari investasi infrastruktur dan teknologi menjadi salah satu faktor utama. Selain itu, beberapa kontrak baru masih dalam tahap implementasi sehingga pengakuan pendapatan belum optimal.
Kas Bergerak Positif
Dari sisi kas, aktivitas operasional menunjukkan perbaikan. Arus kas operasi tercatat positif Rp434,05 juta, berbalik dari posisi negatif Rp131,50 juta pada periode yang sama tahun lalu.
Peningkatan ini sejalan dengan penerimaan kas dari pelanggan yang naik 74 persen menjadi Rp50,26 miliar. Angka ini menunjukkan bahwa aktivitas bisnis mulai menghasilkan arus kas, meskipun belum sepenuhnya tercermin pada laba.
Di sisi operasional, JAST juga memperluas basis kontraknya. Perseroan mendapatkan sejumlah proyek layanan contact center dan omnichannel dari berbagai institusi, termasuk BPJS Ketenagakerjaan, BPJS Kesehatan, ESDM, hingga Baznas.
Sebagian kontrak tersebut masih berada dalam tahap awal implementasi. Hal ini membuat kontribusinya terhadap pendapatan belum sepenuhnya tercatat dalam laporan keuangan periode berjalan.
Dengan kondisi tersebut, pergerakan saham dan kinerja keuangan JAST berjalan dalam dua arah yang berbeda. Di satu sisi, aliran dana asing mulai kembali masuk dan harga saham menunjukkan stabilisasi.
Di sisi lain, laporan keuangan masih mencerminkan tekanan dari fase ekspansi dan pengembangan bisnis. Data menunjukkan bahwa pertumbuhan pendapatan dan arus kas mulai terbentuk, sementara profitabilitas masih berada dalam tahap penyesuaian.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.