KABARBURSA.COM – Dominasi emiten raksasa kembali terlihat riil melalui daftar nilai transaksi tertinggi pada perdagangan bursa kemarin, Jumat, 12 Juni 2026.
Berbagai saham kapitalisasi besar menjadi arena utama pemodal asing untuk melakukan akumulasi yang mendorong penguatan harga secara signifikan. Kumpulan data yang dihimpun Kabarbursa.com membuktikan bahwa aliran modal tidak tersebar merata melainkan terpusat pada beberapa nama besar pilihan.
Dua emiten tercatat menguasai puncak klasemen dengan nilai transaksi menembus angka lebih dari Rp2 triliun. Saham PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA memimpin dengan total nilai transaksi mencapai Rp2,5 triliun dalam sehari. Posisi kedua ditempati oleh PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), emiten Grup Barito milik Prajogo Pangestu dengan catatan nilai transaksi sebesar Rp2,46 triliun.
Asing Borong BBCA, Terparkir jadi yang Teratas
Pergerakan saham BBCA menunjukkan fakta menarik sepanjang sesi perdagangan berlangsung di bursa. Harga dibuka pada level 6.000 dan sempat menyentuh titik tertinggi 6.100 sebelum akhirnya ditutup menguat 1,72 persen pada harga 5.925. Fluktuasi ini membuktikan adanya tarik ulur kuat antara pembeli dan penjual pada arena lapangan.
Minat beli pemodal asing menjadi katalis utama penguatan saham perbankan berkapitalisasi terbesar ini. Asing mencatatkan volume pembelian sebesar Rp1,6 triliun berbanding volume penjualan Rp1,4 triliun. Kondisi tersebut menghasilkan akumulasi bersih asing senilai Rp192,85 miliar yang kokoh menopang pergerakan tren harga.
Aksi borong secara masif ini memberikan sinyal positif bagi para pelaku pasar secara keseluruhan. Pemodal asing jelas melihat adanya potensi pertumbuhan fundamental yang rill pada sektor keuangan nasional.
Tingginya minat institusi besar mampu meredam tekanan jual dari kelompok investor ritel lokal.
Saham TPIA tidak kalah agresif dalam mencetak keuntungan modal bagi para pelaku pasar saham dengan melesat 3,64 persen hingga ditutup pada level 1.850. Fakta pergerakan emiten ini semakin menegaskan kuatnya tren sentimen positif di sektor bahan baku dasar.
Fakta transaksi TPIA memperlihatkan dominasi pembelian asing sebesar Rp682,7 miliar yang telak mengalahkan angka penjualan Rp522,4 miliar.
Rentang harga bergerak dinamis dari level terendah 1.820 hingga melambung ke titik 1.960 pada sesi transaksi tertinggi. Tingginya frekuensi perdagangan yang menembus 167 ribu kali mengindikasikan tingkat likuiditas amat padat.
Sementara itu pergerakan saham DSSA mencuri perhatian publik lewat persentase kenaikan 13,01 persen untuk bertengger di posisi 825 pada momen akhir perdagangan. Transaksi fenomenal ini secara langsung diwarnai suntikan deras dana asing bersih senilai Rp175,09 miliar.
Secara terperinci para pemodal asing memborong DSSA senilai Rp446,1 miliar dan hanya melakukan penjualan Rp271 miliar. Pembukaan harga pada level 765 langsung disambut antusiasme pasar hingga harga meroket menembus titik tertinggi 850. Kondisi rill ini menjadi bukti kuat tingginya kepercayaan kalangan institusi dana besar.
Badai Penjualan Melanda Dua Bank Himbara
Nasib berlawanan sungguh harus ditelan oleh dua raksasa perbankan pelat merah kebanggaan bangsa. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI kompak menjadi sasaran empuk aksi jual masif investor luar.
Kenyataan ini seketika menjadi pemberat laju indeks gabungan di saat instrumen sektor lain sedang berpesta pora.
Harga saham BBRI terhenti stagnan pada level 2.850 tanpa mencatatkan persentase perubahan harga sama sekali. Meski sempat dibuka cukup optimis pada harga 2.880 posisi emiten perlahan tertekan hingga menyentuh batas titik terbawah 2.830. Total keseluruhan nilai transaksi saham bank ini menembus angka fantastis Rp1,29 triliun.
Tekanan jual di instrumen saham BBRI sangat riil terlihat dari tingginya jumlah persentase pelepasan barang luar negeri yang membuang emiten ini senilai Rp803 miliar berbanding pembelian Rp431,3 miliar. Aksi frontal tersebut menghasilkan posisi tumpukan penjualan bersih yang lumayan dalam mencapai angka Rp371,65 miliar.
Pemandangan serupa sungguh terjadi pada instrumen saham BMRI yang harus rela turun minus 1,18 persen ke harga penutupan 4.200. Posisi pembukaan di level 4.320 secara tragis gagal dipertahankan akibat derasnya arus keluar modal asing. Nilai transaksi total emiten perbankan ini tercatat berhasil mencapai batas nominal Rp1,03 triliun.
Kelompok investor asing mendominasi pelepasan kepemilikan BMRI dengan nilai penjualan mencapai Rp549,4 miliar. Angka nominal pembelian yang hanya sebesar Rp381,3 miliar tidak mampu membendung tekanan pasar sehingga terjadi penjualan bersih senilai Rp168,10 miliar.
Geliat Agresif Saham Tambang Mineral Logam
Selain sektor keuangan pergerakan di lini tambang mineral juga sungguh sangat patut mendapat perhatian. Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) secara mengejutkan melesat tajam 12,14 persen menuju harga 157 dengan membukukan nilai transaksi Rp1,03 triliun.
Volume transaksi harian saham ini menjadi jawara nomor satu mencapai total 66,31 juta lot.
Instrumen saham PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) turut ambil bagian meramaikan bursa dengan lonjakan harga 12,75 persen ke level 3.450 yang disertai kucuran dana asing bersih sebesar Rp96,35 miliar.
Akhir Pekan Bergairah, IHSG Parkir di Zona Hijau
Sebelumnya diberitakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mengakhiri perdagangan akhir pekan di zona hijau pada Jumat sore, 12 Juni 2026. Data bursa menunjukkan pergerakan indeks konsisten bergerak di area positif sepanjang hari.
IHSG dibuka pada level 5.960,42 dan sempat menyentuh level tertinggi hariannya di posisi 6.074,07. Indeks kemudian ditutup menguat signifikan sebesar 2,07 persen atau bertambah 121,62 poin ke level 6.007,66 pada pukul 16.03 WIB.
Nilai transaksi perdagangan pada penutupan sore ini tercatat sangat tebal mencapai Rp20,26 triliun. Sementara itu, volume saham yang ditransaksikan para pelaku pasar di lantai bursa menyentuh 34,84 miliar lembar saham.(*)