KABARBURSA.COM – Pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat, 12 Juni 2026 pukul 16.00 WIB, saham PT Akasha Wira International Tbk (ADES) terparkir kokoh di level harga Rp22.000 per lembar saham.
Di balik harga saham yang terbilang premium ini, tersimpan narasi panjang sebuah emiten yang terus berekspansi di industri barang konsumsi.
Berbekal kinerja keuangan kuartal I 2026 yang meroket tajam, valuasi yang bertumbuh didukung fundamental solid, serta rentetan aksi korporasi strategis berupa pendirian anak usaha baru hingga manuver berani merambah industri kembang gula, ADES memoles daya tariknya di mata pelaku pasar.
Pertanyaannya, apakah saham emiten yang melakukan penawaran umum perdana puluhan tahun silam ini semakin layak untuk dikoleksi ke dalam portofolio investasi?
Jejak Akasha Wira: Profil hingga Lompatan Harga Sejak IPO
Akasha Wira International yang pada awal berdirinya di tahun 1985 menyandang nama PT Alfindo Putrasetia, kini telah bermetamorfosis menjadi pemain tangguh di industri air minum dalam kemasan, kosmetika, hingga makanan dan minuman.
Sederet merek populer seperti Nestlé Pure Life, Vica, kosmetik perawatan rambut Makarizo, hingga penganan Mujigae dan Wonhae diproduksi dan berada di bawah naungan perseroan.
Operasional perusahaan dikendalikan oleh jajaran manajemen yang sarat pengalaman. Di kursi Dewan Komisaris, Hanjaya Limanto memegang tampuk sebagai Presiden Komisaris, didampingi oleh Nana Puspa Dewi sebagai Komisaris, dan Julianto selaku Komisaris Independen.
Sementara itu, strategi operasional direksi dipimpin oleh Wihardjo Hadiseputro sebagai Presiden Direktur, dengan dukungan Fany Soegiarto sebagai Direktur.
Dari sisi struktur permodalan dan kepemilikan saham, kendali mutlak mayoritas berada dalam genggaman entitas asing, Water Partners Bottling S.A., yang menguasai 538.896.713 lembar saham atau setara 91,35 persen porsi kepemilikan.
Di sisi lain, porsi kepemilikan yang tersebar di masyarakat (public float) tercatat relatif terbatas, yakni hanya sebesar 51.000.087 lembar saham atau 8,65 persen dari agregat 589.896.800 total saham yang beredar penuh.
Menilik rekam jejak bersejarahnya di pasar modal, perseroan secara resmi melantai (IPO) di Bursa Efek Jakarta pada 13 Juni 1994 dengan melepas sejumlah 15.000.000 lembar saham ke publik.
Kala itu, harga penawaran perdana dipatok pada angka Rp3.850 per lembar saham. Jika membandingkan harga start tersebut dengan harga penutupan di pasar reguler per 12 Juni 2026 yang membentur Rp22.000, saham ADES sejatinya telah mencatatkan apresiasi harga yang mengagumkan sebesar lebih dari 471 persen.
Lebih sensasional lagi, jika ditarik dalam rentang lima tahun terakhir pengamatan, grafik saham ini telah melesat meroket sejauh 1.048,83 persen, sebuah cerminan penciptaan kekayaan riil (wealth creation) yang luar biasa masif bagi pemegang saham yang loyal menahan portofolionya.
Agresivitas Ekspansi: Lahirkan Anak Usaha Baru dan Rambah Industri Kembang Gula
Tidak berpuas diri dengan pangsa pasar eksisting, ADES mempertontonkan agresivitasnya dalam berekspansi melalui dua aksi korporasi strategis belakangan ini.
Aksi korporasi pertama ditandai dengan langkah manajemen yang secara resmi mendirikan entitas anak usaha baru berbendera PT Asha Dhianta Corpora pada 8 April 2026. Entitas mandiri yang disiapkan secara spesifik untuk bergerak di bidang perdagangan (trading activities) ini dibekali dengan modal dasar Rp4 miliar, di mana modal yang telah ditempatkan dan disetor penuh mencapai 25 persen atau Rp1 miliar.
Perseroan mengamankan porsi kendali absolut sebesar 99,99 persen (9.999 saham), sedangkan sisa porsi minoritas 0,01 persen (1 saham) dikantongi oleh Hanjaya Limanto.
Manuver korporasi kedua yang jauh lebih strategis dan berani adalah pengajuan rencana Perubahan Kegiatan Usaha Utama perseroan. Sesuai mandat regulasi, ADES telah menyusun strategi untuk melakukan penetrasi diversifikasi bisnis ke dalam industri kembang gula (KBLI 10734). Fokus produksinya diarahkan pada pengembangan varian permen jelly dengan konsep ceruk indulgent gummy yang menjanjikan.
Berdasarkan laporan studi kelayakan dari KJPP independen yang diterbitkan awal Juni 2026, rencana ekspansi ini dikukuhkan sangat layak dari berbagai dimensi analisis.
Analisis kelayakan finansial memproyeksikan bahwa langkah ekspansi ini berpotensi mencetak rata-rata Margin Laba Kotor (GPM) di level 49,50 persen, tingkat pengembalian investasi (ROI) sebesar 33,07 persen, serta tingkat pengembalian ekuitas (ROE) menyentuh 34,39 persen sepanjang periode 2026 hingga 2030.
Eksekusi rencana ini akan menggunakan injeksi belanja modal murni dari kas internal perusahaan yang dijadwalkan direalisasikan tahun ini.
Fundamental Kokoh: Ledakan Kinerja Keuangan dan Daya Tarik Valuasi Saham
Tren meroketnya harga saham perseroan hingga bertengger di Rp22.000 sejalan dengan fondasi fundamental bisnis yang menancapkan rekor pertumbuhan agresif.
Pembukuan laporan keuangan tahun 2025 menjadi tonggak penting saat omzet penjualan bersih perusahaan menembus angka historis Rp2,72 triliun, melambung signifikan sebesar 39,4 persen dibandingkan pencapaian Rp1,95 triliun pada tahun 2024.
Laju penjualan yang ekspansif tersebut mendorong perolehan laba bersih tahun berjalan melesat tajam 40,6 persen menjadi Rp741,58 miliar dari sebelumnya Rp527,36 miliar.
Momentum emas kinerja bisnis ini ternyata masih berdenyut kencang di kuartal I tahun 2026. Laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 mencatatkan rekapitulasi penjualan bersih yang kembali meledak 66 persen menjadi Rp942,04 miliar, melesat jauh apabila disandingkan dengan perolehan Rp568,92 miliar di periode yang sama tahun lalu.
Sejalan dengan hal tersebut, pencetakan laba tahun berjalan interim berhasil tumbuh drastis sebesar 75 persen menuju level Rp255,52 miliar dari posisi Rp146,21 miliar. Prestasi ini mengangkat metrik Laba Bersih per Saham (Earning per Share/EPS) untuk periode kuartal pertama mendarat di angka Rp433 per lembar kepemilikan.
Mengacu pada banderol harga pasar di Rp22.000 per keping saham dikalikan dengan bobot 589.896.800 lembar saham yang terdistribusi, ADES kini telah mengamankan valuasi kapitalisasi pasar (Market Cap) menembus Rp12,97 triliun.
Dari kerangka takaran rasio permodalan ekuitas yang bertumbuh menyentuh saldo Rp3,25 triliun per penutupan Maret 2026, kalkulasi Nilai Buku per Saham (Book Value per Share) diestimasi menempati nominal sekitar Rp5.520.
Dengan patokan nilai tersebut, saham perseroan saat ini ditransaksikan pada ekuivalen rasio Price to Book Value (PBV) di kisaran 3,98 kali lipat.
Di sisi pengembalian laba, apabila EPS pada kuartal pertama tahun 2026 disetahunkan (annualized), valuasi dari Price to Earnings Ratio (PER) sahamnya memberikan ruang takaran premium namun masih teramat masuk akal.
Ditopang oleh keandalan struktur modal di mana rasio rentabilitas fundamental atau Return on Equity (ROE) mampu diamankan dengan superior pada level 25 persen di akhir 2025, performa lonjakan harga di level Rp22.000 secara logis merefleksikan antusiasme kuat investor yang menggiurkan, sekaligus merangkum manifestasi sukses nyata atas ketangkasan manajemen mengeksekusi ritme operasi komersialnya.(*)