KABARBURSA.COM - PT Astra International Tbk (ASII) memutuskan untuk bagi-bagi dividen di bulan depan dan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kinerja. Pembagian dividen memang besar dalam nominal, tapi tren penurunan laba mulai tercermin dalam besaran payout.
ASII menetapkan dividen final sebesar Rp292 per saham yang akan dibayarkan pada 25 Mei 2026, melengkapi dividen interim Rp98 per saham yang telah dibagikan pada Oktober 2025. Dengan demikian, total dividen untuk tahun buku 2025 mencapai Rp390 per saham atau sekitar Rp15,66 triliun.
Angka ini setara dengan rasio pembayaran dividen 48 persen dari laba bersih, menunjukkan distribusi laba yang tetap signifikan meski tidak lagi seagresif periode sebelumnya.
Jika ditarik ke belakang, tren dividen ASII menunjukkan penurunan bertahap. Dividen final tercatat sebesar Rp552 per saham pada 2022, turun menjadi Rp421 pada 2023, lalu Rp308 pada 2024, dan kini Rp292 pada 2025.
Penurunan ini berjalan seiring dengan pelemahan kinerja, di mana laba bersih turun 3,34 persen secara tahunan menjadi Rp32,76 triliun, sementara pendapatan terkoreksi 1,54 persen menjadi Rp323,39 triliun.
Dari sisi struktur fundamental, tekanan ini juga tercermin pada laba per saham yang turun dari Rp837 menjadi Rp810. Ada fase normalisasi setelah periode kinerja yang lebih tinggi sebelumnya, khususnya di tengah dinamika sektor otomotif dan komoditas yang menjadi penopang utama bisnis Astra.
Analisis Konsensus
Namun di tengah penyesuaian tersebut, pandangan analis terhadap ASII masih menunjukkan kecenderungan positif. Dari 34 analis yang tercatat, sebanyak 27 memberikan rekomendasi buy, sementara 7 lainnya berada pada posisi hold, tanpa ada rekomendasi sell.
Konsensus ini menempatkan ASII dalam kategori yang masih didukung ekspektasi jangka menengah.
Target harga rata-rata berada di level Rp7.090, dengan batas atas Rp8.200 dan batas bawah Rp5.550. Dengan posisi harga saat ini di kisaran Rp6.325, terdapat ruang kenaikan menuju target konsensus, meski tidak dalam rentang yang terlalu lebar. Hal ini mencerminkan ekspektasi pertumbuhan yang cenderung moderat.
Proyeksi kinerja ke depan juga memperlihatkan pola yang relatif stabil. Pendapatan diperkirakan berada di kisaran Rp322 triliun hingga Rp337 triliun pada periode 2026–2027, sementara laba bersih diproyeksikan bergerak dari Rp32,55 triliun ke Rp34,75 triliun.
Laba per saham diperkirakan meningkat dari 822 menjadi 872 dalam periode yang sama, menunjukkan potensi pemulihan bertahap.
Dalam konteks pasar, kombinasi antara dividen yang tetap besar dan proyeksi pertumbuhan yang moderat membentuk karakter pergerakan saham yang lebih defensif. ASII tidak lagi bergerak dengan momentum tinggi, tetapi cenderung menjadi pilihan dengan stabilitas relatif di tengah kondisi pasar yang fluktuatif.
Perhatian investor dalam jangka pendek akan tertuju pada momentum menjelang tanggal pembagian dividen, terutama potensi pergerakan harga di sekitar cum date. Sementara dalam jangka menengah, arah saham akan lebih dipengaruhi oleh realisasi kinerja dan kemampuan menjaga margin di tengah tekanan biaya dan dinamika permintaan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.