KABARBURSA.COM – Pergerakan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dalam beberapa hari terakhir menghadirkan kontras yang mencolok, yaitu ketika tekanan jual asing beriringan dengan aksi pembelian oleh jajaran direksi dan komisaris di tengah momentum pembagian dividen.
Pada perdagangan Jumat, 27 Maret 2026, saham BBCA ditutup turun 2,55 persen ke level Rp6.700, bertepatan dengan cum date dividen final. Di saat yang sama, investor asing mencatatkan penjualan bersih mencapai Rp1,13 triliun hanya dalam satu hari. Aktivitas ini memperpanjang akumulasi net foreign sell sepanjang sepekan yang telah mencapai Rp2,07 triliun.
Tekanan ini membentuk pola yang berbeda dibandingkan kecenderungan historis saat periode cum date, yang umumnya diwarnai peningkatan permintaan beli. Dalam kondisi kali ini, pelemahan harga justru terjadi di tengah distribusi asing yang konsisten, hingga menempatkan saham BBCA di bawah tekanan meski berada dalam fase pembagian dividen.
Di sisi lain, pergerakan harga tersebut direspons berbeda oleh internal perusahaan. Enam anggota direksi dan satu komisaris tercatat melakukan pembelian saham pada 16 dan 25 Maret 2026, saat harga bergerak di bawah level Rp7.000.
Transaksi tersebut dilakukan pada kisaran harga Rp6.750 hingga Rp6.982 per saham, dengan total akumulasi jutaan lembar saham yang diborong dalam dua tanggal berbeda.
Aksi ini menunjukkan adanya aktivitas pembelian di tengah fase penurunan harga. Meski secara kepemilikan masing-masing individu tetap di bawah 0,1 persen, frekuensi dan jumlah pihak yang terlibat memberikan gambaran adanya respons internal terhadap pergerakan saham di pasar.
Struktur kepemilikan BBCA sendiri masih relatif stabil. Hingga akhir Februari 2026, PT Dwimuria Investama sebagai entitas pengendali memegang 54,9 persen saham, sementara porsi free float berada di level 42,6 persen.
Dalam konteks ini, pergerakan harga di pasar sekunder tetap sangat dipengaruhi oleh dinamika transaksi publik, termasuk arus dana asing.
Buyback Saham, Dividen, dan Tekanan Harga
Selain itu, BBCA juga tengah menjalankan program buyback saham senilai Rp5 triliun yang berlangsung hingga 12 bulan setelah mendapatkan persetujuan RUPST pada 12 Maret 2026. Program ini menjadi bagian dari aksi korporasi yang berjalan bersamaan dengan pembagian dividen final sebesar Rp281 per saham untuk tahun buku 2025.
Secara keseluruhan, dividen yang dibagikan mencapai sekitar Rp34,53 triliun, melengkapi dividen interim Rp6,78 triliun yang telah dibayarkan pada Desember 2025. Dengan total payout ratio mencapai 72 persen dari laba bersih Rp57,54 triliun, distribusi dividen ini menjadi salah satu yang terbesar di sektor perbankan domestik.
Namun, di tengah rangkaian aksi korporasi tersebut, pergerakan harga saham justru menunjukkan tekanan. Dalam satu bulan terakhir, saham BBCA telah turun sekitar 5,8 persen dan kembali menyentuh level di bawah Rp7.000 untuk pertama kalinya sejak September 2021.
Pergerakan ini berlangsung di tengah dinamika eksternal yang juga mempengaruhi pasar secara lebih luas. Tekanan global, termasuk lonjakan harga energi dan perubahan ekspektasi suku bunga, membentuk aliran dana yang cenderung keluar dari pasar berkembang, termasuk Indonesia.
Dalam konteks perdagangan jangka pendek, level Rp6.675 menjadi titik yang dipantau sebagai batas risiko berdasarkan parameter teknikal yang dirilis pelaku pasar. Posisi harga yang mendekati area tersebut memperlihatkan bahwa pergerakan saham masih berada dalam fase penyesuaian di tengah tekanan yang belum sepenuhnya mereda.
Rangkaian data ini memperlihatkan bagaimana satu saham dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berjalan bersamaan. Arus dana asing, aksi internal manajemen, serta momentum aksi korporasi membentuk dinamika yang kompleks dalam pergerakan BBCA sepanjang pekan terakhir Maret.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.