Logo
>

Free Float Makin Tipis, Integrasi BDMN-MUFG Buka Peluang Go Private?

Isu ini menjadi penting karena MUFG sudah menjadi pengendali sangat dominan di BDMN.

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Free Float Makin Tipis, Integrasi BDMN-MUFG Buka Peluang Go Private?
Hall Bursa Efek Indonesia. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Rencana integrasi PT Bank Danamon Indonesia Tbk (BDMN) dengan MUFG Cabang Indonesia berpotensi membuat ruang saham publik BDMN semakin menipis. MUFG mengumumkan rencananya ini melalui keterbukaan informasi.

Isu ini menjadi penting karena MUFG sudah menjadi pengendali sangat dominan di BDMN. Berdasarkan laporan publikasi BDMN per Desember 2025, MUFG Bank Ltd secara langsung dan tidak langsung menguasai 92,47 persen saham Bank Danamon, sementara porsi masyarakat tercatat 7,53 persen.

MUFG tercatat sebagai pemegang saham pengendali BDMN setelah mengambil alih saham dari Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd. (“AFI”), anak perusahaan Fullerton Financial Holdings yang dimiliki oleh Temasek Holdings. Akuisisi tersebut dilakukan secara bertahap pada akhir 2017.

Dalam skenario integrasi, kepemilikan MUFG di Bank Danamon berpotensi meningkat. Hal ini dapat terjadi jika pengalihan aset, liabilitas, atau kegiatan usaha MUFG Cabang Indonesia ke Bank Danamon dilakukan melalui penerbitan saham baru (rights issue) atau instrumen lain yang dapat memperbesar porsi MUFG.

Jika menempuh opsi penerbitan saham baru, MUFG kemungkinan besar akan melakukan penyertaan modal tambahan atau menyerap saham baru tersebut dengan cara inbreng. Yakni menyerahkan seluruh aset MUFG Indonesia sebagai setoran modal baru. Jika itu terjadi, konsekuensinya jelas, free float BDMN akan otomatis semakin menipis.   

Sementara itu, Bursa Efek Indonesia telah memperbarui aturan free float menjadi 15 persen dari jumlah saham tercatat, dari sebelumnya 7,5 persen. Aturan free float ini wajib dipenuhi paling lambat pada 2028 mendatang.

Analis Billy Ibrahim dari Shinhan Sekuritas menilai kondisi ini membuat pasar mulai menghitung ulang peluang BDMN untuk go private. Menurutnya, isu go private menjadi relevan karena integrasi berpotensi menaikkan kepemilikan MUFG dan secara otomatis menurunkan free float.

“Dengan kepemilikan MUFG yang sudah sangat dominan, setiap tambahan saham pasca integrasi akan langsung menekan free float BDMN. Kalau free float turun di bawah batas minimum, pasar akan melihat dua kemungkinan besar, MUFG melakukan refloat atau justru membawa BDMN ke arah go private,” ujar Billy.

Menurutnya, opsi refloat tetap terbuka jika MUFG ingin mempertahankan BDMN sebagai perusahaan publik. Namun, kebutuhan pelepasan saham akan semakin besar jika aturan free float 15 persen harus dipenuhi.

Dengan asumsi kontrol MUFG 92,47 persen, BDMN membutuhkan tambahan saham publik sekitar 7,47 poin persentase untuk mencapai free float 15 persem. Artinya, porsi MUFG perlu turun dari 92,47 persen ke sekitar 85 persen jika tidak ada perubahan struktur saham lain. Jika integrasi membuat porsi MUFG naik, kebutuhan refloat akan semakin besar.

“Di titik ini, pertanyaannya bukan hanya apakah BDMN bisa memenuhi free float, tetapi apakah MUFG masih melihat listing sebagai opsi paling strategis. Jika tujuan utamanya adalah integrasi penuh dan penyederhanaan struktur, go private bisa menjadi skenario yang lebih masuk akal,” ujar Billy.

Ia menambahkan, probabilitas go private akan meningkat jika pengumuman integrasi tidak disertai rencana yang jelas untuk menjaga free float. Pasar akan mencermati apakah MUFG memberi sinyal refloat, private placement ke investor publik, atau justru memilih memperkuat kontrol penuh.

Dari sisi strategi grup, go private dapat memberi MUFG keleluasaan lebih besar. Dengan kepemilikan penuh, MUFG dapat menjalankan integrasi operasional, penyelarasan sistem, pengalihan bisnis, dan restrukturisasi internal tanpa tekanan likuiditas saham maupun ekspektasi pasar jangka pendek.

“Kalau BDMN tetap listing, investor publik bisa ikut menikmati transformasi BDMN menjadi platform utama MUFG di Indonesia. Tetapi kalau free float semakin kecil dan kebutuhan penyesuaian makin besar, pertanyaan soal go private akan semakin sulit dihindari,” ujarnya

Secara bisnis, integrasi ini dapat langsung mengubah kelas BDMN. Dengan aset BDMN sebesar Rp275,71 triliun dan aset MUFG Cabang Indonesia Rp201,65 triliun, skala pro forma keduanya berpotensi mendekati Rp477,36 triliun.

Kapasitas intermediasi juga ikut membesar. Kredit BDMN sebesar Rp159,29 triliun dapat bertambah dengan kredit MUFG Cabang Indonesia Rp106,46 triliun, sehingga secara sederhana mencapai Rp265,75 triliun.
Adapun laba bersih BDMN Rp4,19 triliun dan laba bersih MUFG Cabang Indonesia Rp6,93 triliun, sehingga laba bersih pro forma dapat mencapai sekitar Rp11,13 triliun.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.