KABARBURSA.COM - Sesi pertama perdagangan bursa hari ini, 12 Mei 2026, diwarnai tekanan asing yang luar biasa. Walau begitu, mulai terlihat perubahan pola akumulasi pada beberapa saham tertentu yang diam-diam dikoleksi investor global.
Data MotionTrade by MNC Sekuritas menunjukkan total volume jual asing mencapai 3,20 miliar saham, jauh di atas volume beli sebesar 2,28 miliar saham. Alhasil, pasar mencatat net foreign sell sekitar 917,6 juta saham hingga penutupan sesi pertama.
Tekanan jual asing masih terkonsentrasi pada saham-saham berisiko tinggi dan saham yang sebelumnya sempat mengalami lonjakan spekulatif.
Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi saham yang paling banyak dilepas asing dengan net sell mencapai 139,04 juta saham. Aksi distribusi besar ini memperlihatkan investor asing masih cenderung mengurangi eksposur pada saham batu bara berbeta tinggi di tengah pasar yang belum stabil.
Tekanan juga terlihat pada Sanurhasta Mitra Tbk (MINA) dengan net sell 113,6 juta saham. Sementara Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) kembali masuk daftar saham yang paling banyak dijual asing setelah mencatat net sell 90,7 juta saham.
Aksi jual di DSSA menjadi perhatian pasar karena terjadi menjelang evaluasi indeks MSCI yang belakangan memicu spekulasi keluarnya beberapa saham grup konglomerasi dari indeks global tersebut. Tekanan ini ikut menyeret sentimen pada saham-saham afiliasi grup besar lainnya.
Selain DSSA, asing juga aktif melepas DMS Propertindo Tbk (KOTA) dengan net sell 75,31 juta saham, Nusantara Sawit Sejahtera Tbk (NSSS) sebesar 48,38 juta saham, hingga Packindo Tbk (PACK) sebanyak 47,52 juta saham.
Tekanan jual juga menjalar ke saham energi dan komoditas lain seperti Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI), Sarana Meditama Metropolitan Tbk (MDIA), Garuda Indonesia Persero Tbk (GIAA), serta Aneka Tambang Tbk (ANTM).
Meski demikian, di tengah derasnya capital outflow, sejumlah saham mulai menunjukkan sinyal akumulasi asing.
Yang paling menarik datang dari Padi Hijau Buana Tbk (PADI) yang menjadi saham dengan net buy terbesar asing pada sesi pertama, mencapai 28,11 juta saham. Namun perhatian pasar justru tertuju pada masuknya dana asing ke GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) sebesar 26,55 juta saham.
Akumulasi di GOTO mulai menarik dicermati karena terjadi ketika pasar masih dibayangi aksi jual besar. Ini memberi sinyal bahwa investor asing mulai kembali selektif masuk ke saham teknologi dengan valuasi yang dianggap semakin menarik pasca koreksi panjang.
Selain GOTO, asing juga mulai masuk ke saham defensif dan dividend plays. Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) mencatat net buy 8,92 juta saham, sementara Telkom Indonesia Persero Tbk (TLKM) dibeli bersih 8,51 juta saham.
Masuknya dana asing ke ADRO dan TLKM memperlihatkan investor global masih mencari saham dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan eksposur terhadap dividen yang menarik di tengah ketidakpastian pasar.
Saham lain yang juga masuk radar akumulasi asing ialah Mitra Energi Persada Tbk, Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk, Omed Healthcare Indonesia Tbk, Citra Marga Nusaphala Persada Tbk, Widodo Makmur Unggas Tbk, hingga Dafam Property Indonesia Tbk.
Secara umum, pola perdagangan asing hari ini memperlihatkan pasar masih berada dalam mode risk-off terbatas. Investor global terlihat mengurangi posisi di saham-saham yang sensitif terhadap sentimen MSCI, volatilitas komoditas, dan saham spekulatif. Namun di saat yang sama, mulai muncul selective buying pada saham teknologi, telekomunikasi, dan energi defensif.
Pasar kini menunggu arah sentimen berikutnya dari evaluasi MSCI, pergerakan harga komoditas global, serta arus dana asing regional yang masih menjadi penentu utama arah IHSG dalam jangka pendek.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.