Logo
>

BCA Sekuritas Naikkan Target Harga HRTA, Ada Kabar Apa?

Bisnis bullion dan kanal grosir menjadi mesin utama pertumbuhan, sementara tekanan margin masih jadi catatan penting analis.

Ditulis oleh Yunila Wati
BCA Sekuritas Naikkan Target Harga HRTA, Ada Kabar Apa?
Segmen grosir memainkan peran utama dalam catatan laba bersih HRTA. Nilainya cukup signifikan. (Foto: dok KabarBursa)

KABARBURSA.COM – PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) saat ini berada dalam fase yang berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Emiten emas ini bukan hanya mencatatkan lonjakan laba, tetapi juga mulai dibaca sebagai pemain yang sedang naik kelas dari produsen dan peritel perhiasan menjadi bagian dari ekosistem bullion yang lebih besar.

Pada kuartal I 2026, HRTA membukukan laba bersih Rp433 miliar, yang melonjak 190 persen secara tahunan dan naik 8 persen dibanding kuartal sebelumnya. Angka ini sudah mencerminkan sekitar 29 persen dari target MNC Sekuritas dan konsensus untuk tahun buku 2026, dengan margin laba bersih tetap stabil di level 2,2 persen.

Pendapatan HRTA juga melesat tajam menjadi Rp20,2 triliun, naik 197 persen secara tahunan. Pertumbuhan terbesar datang dari segmen grosir yang tumbuh 229 persen, sementara segmen toko ritel masih mencatat kenaikan 58 persen. 

Dari struktur ini terlihat bahwa mesin utama HRTA saat ini bukan lagi sekadar penjualan perhiasan ritel, melainkan penjualan emas dalam skala besar melalui kanal grosir dan bullion.

Segmen Grosir jadi Pemeran Utama

Catatan MNC Sekuritas menempatkan segmen grosir sebagai faktor paling penting dalam lonjakan kinerja kuartal I 2026. Kenaikan laba bersih hampir tiga kali lipat terjadi ketika volume dan harga emas sama-sama bergerak naik. 

Di saat yang sama, kapasitas pemurnian HRTA meningkat menjadi 30 ton dari 18 ton pada 2025, sehingga perusahaan memiliki ruang lebih besar untuk mengejar target volume penjualan emas 32,1 ton sepanjang 2026 atau naik 37 persen secara tahunan.

Cerita besar HRTA sebenarnya sudah mulai terlihat dari kinerja 2025. Sepanjang tahun lalu, perusahaan mencatat laba bersih Rp978 miliar, naik 121 persen, dengan pendapatan Rp44,5 triliun atau melonjak 144 persen. 

Lonjakan tersebut ditopang kenaikan harga jual rata-rata emas sebesar 57,5 persen menjadi sekitar Rp1,9 juta per gram, serta pertumbuhan volume penjualan emas murni sebesar 55,5 persen menjadi 25,9 ton.

Riset BCA Sekuritas

BCA Sekuritas melihat pertumbuhan itu sebagai hasil dari permintaan institusional yang kuat. Dalam risetnya, BCA mencatat 87 persen pendapatan HRTA pada 2025 berasal dari segmen grosir, dengan 71 persen datang dari bullion bank. 

Kontribusi Bank Syariah Indonesia (BRIS) juga mulai terlihat besar pada kuartal IV 2025 dan menyumbang 14 persen terhadap pendapatan 2025, jauh meningkat dari hanya 0,12 persen pada 2024.

Di titik ini, HRTA mulai mendapat narasi baru di mata pasar. BCA Sekuritas menilai model bisnis perusahaan semakin mengarah pada konsep bullion bank, yakni ekosistem emas yang tidak hanya mengandalkan produksi dan ritel, tetapi juga masuk ke kanal lembaga keuangan. 

Kolaborasi dengan BRIS menjadi salah satu penggerak utama karena membuka akses ke basis nasabah yang lebih luas untuk produk emas.

Margin Tertekan

Namun, pertumbuhan besar ini tidak datang tanpa catatan. BCA Sekuritas menyoroti bahwa margin HRTA masih berada dalam tekanan karena bauran produk semakin berat ke bullion. 

Margin laba kotor HRTA turun menjadi 4,3 persen pada 2025 dari 6,0 persen pada 2024, sementara margin laba bersih turun tipis menjadi 2,2 persen dari 2,4 persen.

Tekanan margin ini terjadi karena produk bullion memiliki margin lebih rendah dibanding perhiasan. BCA mencatat margin kotor bullion berada di kisaran 4 persen, sedangkan perhiasan bisa mencapai 11–12 persen. Untuk penjualan kilobar ke Pegadaian, margin bahkan disebut berada di level paling rendah, sekitar 3 persen.

Karena itu, meskipun laba dan pendapatan tumbuh sangat tinggi, kualitas margin tetap menjadi variabel yang harus dipantau investor. Pemulihan margin yang lebih kuat baru bisa terjadi jika kontribusi perhiasan dengan margin lebih tinggi kembali membesar, atau jika HRTA berhasil mempersempit selisih harga melalui sertifikasi LBMA yang ditargetkan pada semester I 2026.

BCA Sekuritas menilai sertifikasi LBMA menjadi salah satu katalis penting. Setiap kenaikan 1 persen pada harga jual rata-rata disebut dapat memberi tambahan sekitar 50 basis poin terhadap margin laba bersih. 

Sebaliknya, keterlambatan sertifikasi ini menjadi salah satu risiko utama, selain volatilitas harga emas dan lemahnya daya beli masyarakat.

Dari sisi ekspansi, HRTA juga masih agresif. Perusahaan menargetkan 100 toko ritel pada akhir 2026 dari 84 toko pada 2025, serta 175 gerai gadai dari 144 gerai pada 2025. HRTA juga menyiapkan belanja modal lebih dari Rp200 miliar untuk fasilitas penyimpanan emas, peningkatan pabrik, serta inisiatif ESG.

Proyeksi Pendapatan dan Rekomendasi 

BCA Sekuritas menaikkan proyeksi pendapatan HRTA untuk 2026 dan 2027 masing-masing sebesar 38,3 persen dan 60 persen. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi volume penjualan emas 31,7 ton atau naik 35 persen, serta harga jual rata-rata Rp2,5 juta per gram atau naik 30 persen. 

Dengan asumsi tersebut, estimasi laba ikut dinaikkan 22,4 persen untuk 2026 dan 38 persen untuk 2027.

Rekomendasi BCA Sekuritas tetap berada di level beli, dengan target harga dinaikkan menjadi Rp4.100 per saham dari sebelumnya Rp3.830. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 47 persen dan valuasi 10,9 kali PE 2026. 

BCA juga menilai valuasi HRTA masih menarik karena sahamnya diperdagangkan sekitar 7,4 kali PE 2026.

Dengan kombinasi laba kuartal I 2026 yang melonjak 190 persen, pertumbuhan pendapatan hampir tiga kali lipat, ekspansi kapasitas pemurnian, serta dukungan riset analis yang masih positif, HRTA menjadi salah satu emiten emas yang paling banyak membawa cerita baru pada 2026.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79