Logo
>

Begini Respons MSCI soal Pertemuan dengan Stakeholder Pasar Modal RI

Proses tersebut, menurut MSCI, berjalan dalam koridor konsultasi yang telah menjadi praktik baku perusahaan

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Begini Respons MSCI soal Pertemuan dengan Stakeholder Pasar Modal RI
Hall Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Penyedia indeks global MSCI menyatakan tidak akan memberikan pernyataan terkait pertemuan secara individual. Sikap itu disampaikan sehari setelah lembaga tersebut menggelar diskusi dengan otoritas Indonesia, menyusul mencuatnya kekhawatiran mengenai transparansi pasar yang sempat mengguncang dinamika saham domestik.

    MSCI menegaskan bahwa interaksi dengan pelaku pasar serta para pemangku kepentingan merupakan bagian inheren dari kerangka tata kelola indeks. Proses tersebut, menurut MSCI, berjalan dalam koridor konsultasi yang telah menjadi praktik baku perusahaan. Meski demikian, MSCI memilih untuk tidak membuka substansi maupun rincian pembahasan yang berlangsung dalam pertemuan tersebut. Seperti dilansir reuters di Jakarta, Selasa 3 Februari 2025.

    Sebagai Informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Self Regulatory Organization, Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Bursa Efek Indonesia (BEI), hingga Danantara telah bertemu Morgan Stanley Capital International atau MSCI secara daring  pada Senin, 2 Februari 2026.

    Anggota Dewan Komisioner Pengganti Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon, Hasan Fawzi,  menegaskan bahwa isu-isu yang disampaikan MSCI sebenarnya bukan hal baru bagi OJK.

    Kekhawatiran MSCI justru sejalan dengan rencana aksi yang sebelumnya telah dicanangkan regulator, terutama pada aspek transparansi dan likuiditas pasar. Ia juga menyebut apa yang disampaikan kepada indeks global tersebut tak jauh dari 8 poin percepatan reformasi pasar modal yang sudah disampaikan kemarin.

    “Apa yang menjadi concern MSCI itu sangat align atau selaras dengan beberapa program rencana aksi kami,” kata Hasan.

    Menurutnya, pertemuan tersebut menjadi ruang bagi OJK, Bursa Efek Indonesia, dan Kustodian Sentral Efek Indonesia untuk menyampaikan proposal solusi secara komprehensif. Fokusnya jelas, menjawab dua isu utama yang selama ini menjadi sorotan MSCI.

    “Secara umum hari ini OJK bersama Bursa dan KSEI telah mengajukan proposal solusi yang pada prinsipnya menjawab keseluruhan concern dan isu,” ujarnya.

    Salah satu poin penting yang dibawa OJK adalah perluasan pengungkapan kepemilikan saham. Selama ini, keterbukaan data kepemilikan berfokus pada pemegang saham dengan porsi di atas 5 persen. OJK kini berkomitmen mendorong transparansi yang lebih dalam.

    “Kami komitkan pengungkapan kepemilikan saham dengan porsi di bawah 5 persen, bahkan bisa dilakukan untuk kepemilikan saham di atas 1 persen,” kata Hasan.

    Tak hanya itu, OJK juga menyasar struktur data investor. Jika selama ini klasifikasi investor hanya dibagi ke dalam 9 tipe utama, ke depan data tersebut akan dirinci jauh lebih detail.

    “Kami akan menghadirkan granularity atau perincian klasifikasi investor dari 9 tipe menjadi 27 sub-tipe investor,” ujarnya.

    Langkah ini ditujukan untuk memperjelas struktur kepemilikan dan meningkatkan kredibilitas pengungkapan ultimate beneficial ownership, isu yang selama ini menjadi perhatian investor global.

    Isu likuiditas pasar juga tak luput dari pembahasan. Dalam pertemuan tersebut, OJK menyampaikan proposal kenaikan batas minimum free float.

    “Kami juga sudah menyampaikan proposal terkait rencana kenaikan free float dari pengaturan saat ini minimum 7,5 persen menjadi 15 persen,” kata Hasan.

    Ia menegaskan, kebijakan tersebut tidak akan diterapkan secara mendadak. Implementasinya akan dilakukan bertahap dan melibatkan seluruh pelaku pasar.

    Diskusi dengan MSCI, menurut Hasan, berlangsung konstruktif. Bahkan, MSCI menyatakan kesiapan untuk terlibat lebih jauh pada level teknis.

    “MSCI menyediakan diri untuk memberikan guidance bagaimana metodologi dan cara perhitungan yang akan mereka lakukan,” ujarnya.

    OJK juga berkomitmen untuk membuka perkembangan implementasi rencana aksi tersebut kepada publik secara berkala.

    “Kami akan melakukan regular update kepada publik terkait progres yang kami komitkan,” kata Hasan.

    Di tengah diskusi yang sarat teknis tersebut, Chief Investment Officer Danantara, Pandu Sjahrir juga ikut dalam pertemuan itu. Ia memberikan perspektif makro. Ia menilai langkah regulator dan bursa merupakan sinyal positif, meski pasar regional dan global masih berada dalam tekanan.

    “Ini sesuatu yang nantinya tentu akan makin baik buat pasar modal kita,” ujar Pandu.

    Menurutnya, dinamika pasar saat ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan makro Asia dan pergerakan komoditas, yang mendorong investor melakukan penyesuaian portofolio.

    “Yang dilihat hari ini mungkin dari sisi investor terjadi rebalancing,” katanya.

    Pandu menilai, investor institusi kini semakin selektif, mengalir ke saham-saham dengan fundamental, likuiditas, valuasi, dan arus kas yang kuat.

    “Enggak semua bakal overnight. Yang penting adalah progres yang kita lakukan hari demi hari,” ujarnya.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.