Logo
>

Era Mobil Listrik Murah Berakhir, Harga EV Mulai Naik di Indonesia

Berakhirnya insentif impor dan aturan TKDN 40 persen mendorong produsen kendaraan listrik mengubah strategi dari perang harga ke profitabilitas.

Ditulis oleh Citra Dara Vresti Trisna
Era Mobil Listrik Murah Berakhir, Harga EV Mulai Naik di Indonesia
Ilustrasi berakhirnya masa EV murah di Tanah Air. Foto: dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM – Era kendaraan listrik (electric vehicle/EV) murah yang selama beberapa tahun terakhir ditopang insentif impor dan perang harga agresif mulai memasuki babak baru.

Sejumlah produsen kini menghadapi tekanan untuk membangun fasilitas produksi lokal setelah pemerintah menghentikan berbagai fasilitas bagi kendaraan listrik impor utuh atau completely built up (CBU).

Perubahan tersebut mulai terlihat dari pergerakan harga sejumlah model EV di Indonesia sepanjang 2026. Beberapa merek yang sebelumnya mengandalkan strategi harga agresif mulai melakukan penyesuaian harga atau menghentikan program promosi peluncuran.

BYD Atto 1 varian Dynamic misalnya, mengalami kenaikan harga dari Rp195 juta menjadi Rp199 juta pada Februari 2026. Chery Omoda E5 Pure naik dari Rp369,9 juta menjadi Rp379,9 juta, sementara Wuling Air ev meningkat dari Rp206 juta menjadi Rp214 juta. Geely EX2 Pro juga beralih dari harga promosi Rp229,9 juta menjadi harga reguler Rp239,9 juta pada April 2026.

Meski kenaikan tersebut tidak terlalu besar, perubahan arah strategi harga menunjukkan industri kendaraan listrik mulai bergerak menjauhi pola diskon agresif yang sempat mewarnai persaingan selama dua tahun terakhir.

Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu, menilai perang harga kendaraan listrik mulai mereda, meski belum sepenuhnya berakhir.

“Era perang harga EV mulai reda, tetapi belum sepenuhnya berakhir. Fase 2024-2025 adalah masa penetrasi agresif, ketika produsen China memakai diskon, bundling, dan harga rendah untuk merebut pangsa pasar. Pada Juni 2026, kenaikan harga beberapa brand EV menunjukkan produsen mulai menormalkan harga dan memperbaiki margin mereka,” kata Yannes kepada KabarBursa.com, Jumat, 19 Juni 2026.

Insentif Berakhir, Produsen Harus Beradaptasi

Perubahan strategi tersebut tidak terlepas dari berakhirnya berbagai insentif fiskal yang sebelumnya dinikmati kendaraan listrik impor.

Pemerintah menghentikan fasilitas impor CBU pada akhir 2025. Sejumlah produsen yang sebelumnya memperoleh kuota impor diwajibkan mulai melakukan produksi lokal atau completely knocked down (CKD) pada periode 2026–2027 dengan volume yang setara dengan kuota impor yang pernah diberikan.

Kebijakan tersebut berdampak langsung pada struktur biaya produsen. Selain kehilangan fasilitas fiskal, perusahaan juga harus menyiapkan investasi baru untuk membangun rantai produksi di dalam negeri.

Menurut Yannes, perubahan itu membuat strategi harga murah ekstrem semakin sulit dipertahankan. “Berakhirnya insentif CBU impor, tuntutan TKDN, biaya logistik, dan kebutuhan produksi lokal membuat harga murah ekstrem yang lama menjadi sulit dipertahankan,” ujarnya.

Sementara itu, tekanan lain datang dari kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Pada 2026, pemerintah menetapkan batas minimal TKDN kendaraan listrik sebesar 40 persen.

Aturan tersebut mendorong produsen untuk meningkatkan investasi pada fasilitas perakitan, pengadaan komponen lokal, hingga pengembangan rantai pasok domestik.

Konsekuensinya, biaya investasi awal meningkat. Produsen tidak lagi hanya bersaing melalui diskon dan promosi, tetapi juga harus memastikan keberlanjutan bisnis melalui basis produksi yang lebih kuat.

Perubahan ini sekaligus menandai pergeseran model bisnis kendaraan listrik di Indonesia. Jika sebelumnya fokus utama berada pada ekspansi volume penjualan, kini perhatian mulai bergeser ke profitabilitas dan efisiensi operasional.

Produsen Mulai Kejar Margin

Perubahan strategi juga terlihat di tingkat global. Setelah perang harga yang berlangsung sepanjang 2025, sejumlah produsen kendaraan listrik China mulai mengalihkan fokus dari perebutan volume penjualan menuju pemulihan margin keuntungan.

Laba per kendaraan beberapa produsen dilaporkan mengalami tekanan akibat diskon agresif yang dilakukan selama fase ekspansi pasar. Untuk memperbaiki profitabilitas, perusahaan mulai mengurangi program cashback besar-besaran dan meningkatkan porsi penjualan kendaraan premium.

Langkah lain yang ditempuh adalah membangun fasilitas produksi di negara tujuan ekspor, termasuk Indonesia, guna menekan biaya logistik dan mengurangi risiko hambatan perdagangan di masa depan.

Meski demikian, Yannes menilai kompetisi di pasar kendaraan listrik belum berakhir. Persaingan hanya berubah bentuk.

“Saat ini akan masuk lagi beberapa brand low cost EV baru yang semakin menggerus pasar LCGC ICE brand Jepang utk segmen pasar di kota-kota besar,” ujarnya.

Menurut dia, fokus persaingan kini tidak lagi bertumpu pada diskon besar-besaran semata. “Jadi, perang harga berubah dari diskon destruktif menjadi perang nilai, garansi, fitur, pembiayaan, dan layanan 3 S (sales-service-spareparts),” katanya.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Citra Dara Vresti Trisna

Citra Dara Vresti Trisna adalah Asisten Redaktur KabarBursa.com yang memiliki spesialisasi dalam analisis saham dan dinamika pasar modal. Dengan ketelitian analitis dan pemahaman mendalam terhadap tren keuangan, ia berperan penting dalam memastikan setiap publikasi redaksi memiliki akurasi data, konteks riset, dan relevansi tinggi bagi investor serta pembaca profesional. Gaya kerjanya terukur, berstandar tinggi, dan berorientasi pada kualitas jurnalistik berbasis fakta.