KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup sesi I perdagangan Rabu, 11 Februari 2026, di zona hijau dengan penguatan signifikan. IHSG naik 130 poin atau 1,60 persen ke level 8.261, setelah bergerak dalam rentang harian 8.118 hingga 8.276.
Lonjakan ini memperlihatkan respons pasar yang agresif setelah fase konsolidasi dan tekanan tajam yang sempat terjadi pada awal Februari.
Secara teknikal, pada grafik harian, struktur rebound masih terjaga. Setelah sempat mengalami koreksi tajam dari area 9.200-an menuju kisaran 7.900–8.000, IHSG kini bergerak kembali di atas level psikologis 8.200. Level 8.118 yang menjadi low sesi I sekaligus menjadi support intraday terdekat, sementara area 8.276–8.300 menjadi resistance minor yang sedang diuji.
Jika tekanan beli berlanjut pada sesi II dan indeks mampu bertahan di atas 8.200, ruang penguatan berpotensi terbuka menuju 8.320 hingga 8.380 pada perdagangan sore nanti.
Volume Transaksi, Top Gainers dan Top Loosers
Bicara soal volume transaksi, hingga pertengahan hari ini, IHSG berhasil mengumpulkan transaksi sebesar 3.771,1 juta lot dengan nilai Rp16,916 triliun pada sesi I. Aktivitas ini menunjukkan partisipasi pasar yang tinggi dan bukan sekadar kenaikan tipis dengan volume rendah.
Secara historis, rebound yang ditopang volume besar cenderung memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan pantulan teknikal semata. Namun, distribusi volume pada grafik juga memperlihatkan bahwa volatilitas masih tinggi, sehingga potensi pullback intraday tetap perlu diperhitungkan.
Penguatan indeks kali ini dimotori sektor energi yang melonjak 5,19 persen. Saham seperti BIPI naik 11,7 persen, HRUM 3,81 persen, PGEO 3,07 persen, ADRO 1,38 persen, dan MEDC 0,65 persen menjadi kontributor utama dorongan indeks.
Kenaikan sektor energi yang agresif ini memberikan efek pengungkit signifikan terhadap IHSG, mengingat bobot kapitalisasi sejumlah emiten energi yang cukup besar.
Di sisi lain, sektor keuangan justru tertinggal dengan koreksi 0,54 persen. Saham perbankan besar seperti BMRI turun 1,96 persen, BBNI melemah 0,67 persen, BBCA terkoreksi 0,33 persen, serta BRIS dan BTPS juga bergerak negatif.
Tekanan di sektor keuangan ini menahan laju IHSG agar tidak bergerak lebih tinggi, mengingat sektor ini memiliki bobot dominan dalam perhitungan indeks.
Top gainers LQ45 seperti BUMI, BRPT, INCO, SCMA, NCKL, MBMA, dan EMTK memperlihatkan adanya rotasi dana ke saham berbasis komoditas dan siklikal. Sementara saham defensif dan perbankan masuk jajaran top losers bersama INDF, ASII, PTBA, KLBF, dan UNVR.
Pola ini menunjukkan pergeseran minat risiko ke sektor yang sensitif terhadap sentimen global dan harga komoditas.
Untuk sesi II, pergerakan IHSG akan sangat ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu keberlanjutan momentum sektor energi dan respons sektor keuangan. Jika perbankan mulai meredam tekanan dan energi tetap solid, IHSG berpeluang memperluas kenaikan menuju 8.350–8.380.
Namun jika tekanan jual di bank-bank besar berlanjut, indeks berpotensi kembali menguji area 8.200 bahkan 8.150 sebagai support intraday.
Secara keseluruhan, karakter penguatan sesi I menunjukkan fase pemulihan yang masih didominasi sektor tertentu, bukan reli merata. Dengan volatilitas yang masih tinggi, rentang gerak IHSG hingga penutupan diperkirakan berada di kisaran 8.150 hingga 8.380, dengan bias tetap positif selama indeks mampu bertahan di atas 8.200 pada perdagangan sore nanti.(*)