KABARBURSA.COM – Harga minyak dunia turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan setelah pasar mulai mencabut premi risiko perang AS-Iran menyusul kemajuan negosiasi antara kedua negara dan meningkatnya harapan pembukaan kembali Selat Hormuz.
Pada perdagangan Selasa, 23 Juni 2026 waktu Amerika Serikat, minyak Brent ditutup di USD77,08 per barel atau turun USD4,34 setara 5,3 persen. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup di USD73,21 per barel setelah melemah USD4,14 atau 5,4 persen.
Penurunan harga tersebut terjadi setelah muncul perkembangan terbaru terkait negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Pasar menilai risiko gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah mulai berkurang, sehingga premi perang yang sebelumnya mendorong harga minyak naik mulai dilepas.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati kemungkinan bertambahnya pasokan minyak global apabila ekspor Iran kembali berjalan. Sejumlah lembaga keuangan internasional bahkan mulai memangkas proyeksi harga minyak mereka untuk paruh kedua 2026 seiring meningkatnya ekspektasi normalisasi pasokan.
Bagi Indonesia, pelemahan harga minyak berpotensi memberikan ruang bagi pengelolaan subsidi dan kompensasi energi yang sempat mengalami tekanan selama periode kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.
Sebelumnya, biaya subsidi energi Indonesia meningkat tajam seiring lonjakan harga minyak selama perang AS-Iran. Dengan harga Brent kembali bergerak di kisaran USD77 per barel, tekanan tambahan terhadap belanja energi pemerintah berpotensi berkurang dibandingkan saat harga minyak sempat mendekati USD100 per barel.
Meski demikian, harga minyak saat ini masih berada di atas level sebelum konflik pecah. Sebelum perang AS-Iran pada akhir Februari 2026, Brent tercatat berada di kisaran USD72,48 per barel dan WTI di USD67,02 per barel.
Pasar Abaikan Penurunan Stok Minyak AS
Menariknya, koreksi harga minyak terjadi meski data persediaan minyak Amerika Serikat menunjukkan penurunan yang cukup besar.
American Petroleum Institute (API) melaporkan stok minyak mentah AS berkurang 8,33 juta barel pada pekan yang berakhir 12 Juni 2026. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 4,6 juta barel.
Dalam kondisi normal, penurunan persediaan minyak sebesar itu cenderung menjadi faktor pendukung harga karena mengindikasikan pasokan yang lebih ketat. Namun kali ini sentimen geopolitik dinilai lebih dominan dibandingkan data inventori.
Direktur Energy Futures Mizuho, Bob Yawger, mengatakan harga minyak turun cepat karena pasar berasumsi Selat Hormuz akan segera dibuka kembali.
“Harga minyak mentah turun cepat karena asumsi bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Selasa, 23 Juni 2026.
Pasar juga memperhitungkan kemungkinan Iran kembali menjual minyak ke pasar internasional apabila kesepakatan dengan Amerika Serikat benar-benar terealisasi.
Managing Principal Obsidian Risk Advisors Brett Erickson memperkirakan Iran memiliki lebih dari 100 juta barel minyak yang tersimpan di fasilitas penyimpanan dan kapal tanker yang dapat dipasarkan relatif cepat jika hambatan ekspor dicabut.
Dampak ke Inflasi dan APBN
Penurunan harga minyak berpotensi membantu meredakan tekanan inflasi energi secara global. Harga energi yang lebih rendah biasanya berdampak pada biaya transportasi, logistik, serta harga bahan bakar.
Bagi Indonesia yang masih menjadi net importir minyak dan produk BBM, harga minyak yang lebih rendah juga dapat mengurangi tekanan impor energi dan membantu menjaga stabilitas fiskal melalui penurunan kebutuhan subsidi dan kompensasi energi.
Namun demikian, pelaku pasar masih menunggu perkembangan lanjutan terkait implementasi kesepakatan AS-Iran serta kondisi aktual pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Sejumlah analis menilai pasar fisik membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali normal dibandingkan respons cepat yang terlihat di pasar berjangka.
Karena itu, meski harga minyak telah turun tajam dalam beberapa hari terakhir, arah pergerakan berikutnya masih akan dipengaruhi oleh perkembangan pasokan dari Timur Tengah, data persediaan minyak AS, serta tingkat pemulihan arus ekspor minyak global.(*)