KABARBURSA.COM – Bursa saham Asia bergerak berlawanan pada perdagangan Rabu pagi, 24 Juni 2026. Investor terlihat kembali masuk ke pasar Korea Selatan setelah aksi jual besar di sektor teknologi sehari sebelumnya, sementara pasar China justru berada dalam tekanan.
Indeks KOSPI Korea Selatan memimpin penguatan di kawasan dengan kenaikan sekitar 1,86 persen dibanding penutupan sebelumnya. Indeks tersebut sempat menyentuh level tertinggi 8.453,87 setelah dibuka pada posisi 8.356,79.
Sebaliknya, pasar China bergerak melemah. Shanghai Composite turun hingga 1,86 persen dari posisi penutupan sebelumnya dan sempat menyentuh level terendah 4.085,59. Tekanan juga terlihat di Hong Kong, dengan Hang Seng terkoreksi sekitar 2,17 persen dan sempat turun ke 23.252,13.
Pergerakan yang berbeda arah ini terjadi setelah Wall Street ditutup bervariasi pada sesi sebelumnya. Dow Jones Industrial Average menguat 0,29 persen, sementara Nasdaq Composite turun 1,32 persen akibat aksi jual pada saham teknologi dan semikonduktor.
Pelaku pasar menilai koreksi sektor teknologi global lebih mencerminkan rotasi investasi dibanding perubahan fundamental ekonomi yang lebih luas. Kondisi tersebut mendorong sebagian investor memanfaatkan pelemahan saham teknologi Korea Selatan untuk melakukan aksi beli kembali.
Investor Kembali Masuk ke Saham Korea
KOSPI mendapat dukungan dari rebound saham-saham teknologi besar setelah mengalami tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya.
Pergerakan ini didorong oleh aksi bargain hunting pada saham sektor semikonduktor yang sebelumnya terkoreksi seiring pelemahan Nvidia, AMD, dan Broadcom di Wall Street.
Director of Equity Strategy Baader Bank, Heiko Posselt, mengatakan pergerakan di pasar Korea dan Jepang lebih mencerminkan penyesuaian valuasi dibanding awal tren penurunan jangka panjang.
"Apa yang kita lihat di Seoul dan Tokyo pagi ini bukanlah awal dari pasar bearish jangka panjang, melainkan pengaturan ulang valuasi yang sehat. Investor secara aktif membeli di harga bawah karena permintaan fundamental AI tetap tidak berubah," ujarnya.
Selain Korea Selatan, indeks Nikkei 225 Jepang juga bergerak di zona positif. Indeks sempat menembus level psikologis 70.000 setelah menyentuh posisi tertinggi 70.151,46.
Penguatan Nikkei ditopang pelemahan yen yang meningkatkan daya saing eksportir Jepang di pasar global.
China Tertekan Perlambatan Permintaan
Berbeda dengan Korea Selatan dan Jepang, sentimen terhadap pasar China masih cenderung berhati-hati.
Shanghai Composite dan Hang Seng berada dalam tekanan setelah muncul kekhawatiran mengenai perlambatan aktivitas industri domestik. Data sektor energi dan manufaktur menunjukkan permintaan fisik yang belum pulih sepenuhnya.
Director of Global Assessment Rystad Energy, Claudio Galimberti, mengatakan perlambatan industri di China mulai menciptakan perbedaan arah pergerakan antar pasar saham Asia.
"Perlambatan industri lokal di China menciptakan efek pemisahan di pasar Asia. Sementara Korea rebound karena teknologi, Shanghai terbebani oleh mendinginnya permintaan fisik," katanya.
Tekanan terhadap pasar China juga datang dari sektor properti dan saham teknologi yang tercatat di Hong Kong. Sejumlah saham internet dan kendaraan listrik bergerak volatil di tengah rotasi modal global keluar dari saham pertumbuhan.
Di sisi lain, penurunan harga minyak dunia justru menjadi faktor positif bagi sebagian besar negara Asia yang merupakan importir energi bersih.
Harga minyak Brent turun ke sekitar USD77,08 per barel, sementara WTI berada di kisaran USD73,21 per barel setelah pasar mencabut premi risiko geopolitik menyusul kemajuan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran.
Senior Forecast Analyst Expana, Amanda Rastovic, mengatakan penurunan biaya energi berpotensi membantu sektor non-energi di Asia.
"Relief struktural pada biaya energi secara langsung menopang margin korporasi di seluruh sektor non-energi di Asia, mengimbangi sebagian rasa sakit instan dari rotasi sektor teknologi global," ujarnya.
Bagi investor Indonesia, pergerakan bursa Asia menunjukkan rotasi global masih berlangsung. Sektor teknologi menghadapi tekanan, sementara saham yang diuntungkan oleh biaya energi yang lebih rendah dan sektor bernilai cenderung mendapat perhatian pasar.(*)