KABARBURSA.COM — Bursa Asia tiba-tiba bergairah. Investor ramai-ramai memborong saham setelah muncul harapan Amerika Serikat dan Iran bakal mencapai kesepakatan yang bisa membuka kembali jalur distribusi minyak dari Teluk Persia.
Euforia paling terasa di Jepang. Dilansir dari AP, Kamis, 7 Mei 2026, indeks Nikkei 225 melonjak liar hingga 5,7 persen dan sempat mencetak rekor intraday tertinggi sepanjang sejarah saat perdagangan dibuka kembali usai libur Golden Week.
Indeks acuan Jepang itu melesat 3.402 poin ke level 62.915,87. Dalam tiga bulan terakhir, Nikkei sudah naik sekitar 18 persen, bahkan melambung hampir 73 persen dalam setahun terakhir.
Kenaikan ini terutama didorong saham-saham teknologi yang menikmati ledakan bisnis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Tak cuma Jepang, pasar Asia lainnya ikut menghijau. Hang Seng Hong Kong naik 1,3 persen ke level 26.559,86, sementara indeks ASX 200 Australia menguat 0,9 persen menjadi 8.870,70.
Taiwan bahkan melonjak 2,1 persen. Hanya Korea Selatan yang sedikit terseret aksi ambil untung setelah reli besar sehari sebelumnya. Indeks Kospi turun 0,4 persen ke 7.353,08 usai sebelumnya melesat hampir 7 persen dan menembus level psikologis 7.000 untuk pertama kalinya.
Reli global ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengatakan Selat Hormuz bisa kembali “terbuka untuk semua” jika Iran menerima proposal kesepakatan yang belum dijelaskan secara rinci.
Pasar langsung bereaksi. Harga minyak dunia anjlok hampir 8 persen, sementara indeks saham Wall Street kompak melonjak.
S&P 500 naik 1,5 persen dan mencetak rekor baru. Dow Jones menguat 1,2 persen, sedangkan Nasdaq melesat 2 persen berkat dorongan saham teknologi dan AI.
Namun, optimisme pasar ternyata masih dibayangi ketegangan militer. Militer Amerika Serikat dilaporkan menembaki kapal tanker minyak Iran pada Rabu waktu setempat di Teluk Oman.
Dalam pernyataannya, militer AS menyebut jet tempur mereka menembak bagian kemudi kapal tanker yang dituding mencoba menembus blokade pelabuhan Iran.
Meski begitu, pelaku pasar tampaknya lebih fokus pada peluang meredanya perang energi global. Selama konflik berlangsung, distribusi minyak dari Selat Hormuz praktis terganggu dan menekan ekonomi dunia karena tanker minyak kesulitan keluar dari Teluk Persia.
Jika jalur itu kembali normal, tekanan inflasi global diperkirakan ikut mereda. Harga minyak Brent yang sempat berada di atas USD115 per barel atau sekitar Rp1.955.000 per barel awal pekan ini, akhirnya jatuh 7,8 persen ke USD101,27 per barel atau sekitar Rp1.721.590.
Namun situasi tetap sangat sensitif. Harga Brent sempat turun di bawah USD97 per barel atau sekitar Rp1.649.000, sebelum kembali menembus USD100 setelah Trump mengancam akan memulai pengeboman “dengan level dan intensitas yang jauh lebih tinggi” bila Iran menolak kesepakatan.
Di tengah perang dan ketidakpastian energi, bursa saham Amerika ternyata masih cukup kuat. Salah satu penopangnya adalah laporan keuangan perusahaan teknologi yang melampaui ekspektasi pasar.
Produsen chip AMD melesat 18,6 persen setelah mencatat laba dan pendapatan di atas perkiraan analis. Super Micro Computer bahkan melonjak 24,5 persen karena kinerja yang juga lebih kuat dari ekspektasi. Sementara Nvidia, perusahaan chip yang jadi simbol ledakan AI global, naik 5,7 persen dan menjadi penggerak terbesar indeks S&P 500.
Di sektor lain, CVS Health naik 7,6 persen setelah memperbaiki proyeksi keuangan tahunan. Walt Disney juga melonjak 7,5 persen usai menyebut film “Zootopia 2” ikut mendongkrak bisnis streaming, taman hiburan, dan kapal pesiar mereka.
Saham perusahaan yang sensitif terhadap harga bahan bakar juga ikut terbang karena pasar berharap harga minyak bakal terus turun. United Airlines naik 6,8 persen, Carnival menguat 6,8 persen, sementara Royal Caribbean melesat 8,8 persen.
Di pasar mata uang, dolar AS sedikit melemah terhadap yen Jepang ke level 156,32 yen dari sebelumnya 156,40 yen. Euro naik ke USD1,1756 dari USD1,1747.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.