Logo
>

Dari Dokter ke Presdir, Yenny Marlina Siapkan Transformasi Besar MEDS

MEDS akan meminta restu pemegang saham untuk masuk ke bisnis fabrikasi logam dengan investasi Rp8,97 miliar demi membalikkan rugi menjadi laba pada 2026.

Ditulis oleh Yunila Wati
Dari Dokter ke Presdir, Yenny Marlina Siapkan Transformasi Besar MEDS
Yenny Marlina, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung yang kini menjabat sebagai Presiden Direktur MEDS. (Foto: dok MEDS)

KABARBURSA.COM - PT Hetzer Medical Indonesia Tbk (MEDS) akan menggelar RUPST pada 22 Juni 2026. Dibalik agenda tersebut, ada nama dr. Yenny Marlina yang menjabat sebagai Presiden Direktur Perusahaan.

Nama Yenny Marlina relatif baru di jajaran manajemen puncak MEDS. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha Bandung ini menyelesaikan pendidikan Sarjana Kedokteran pada 2005 dan Pendidikan Profesi Dokter pada 2008. 

Perjalanan kariernya tidak sepenuhnya berada di dunia kesehatan. Setelah lulus, ia sempat berkarier sebagai Manager Marketing di perusahaan pialang Midtou Sekuritas pada 2008-2009 sebelum kembali ke dunia medis sebagai dokter di Santosa International Hospital Bandung dan Zanetta Skin Care.

Menuju kursi pimpinan MEDS dimulai pada Januari 2024, ketika ia bergabung sebagai General Manager. Tak lama kemudian, pada Februari 2024, ia dipercaya menjadi Corporate Secretary. 

Puncaknya terjadi dalam RUPS 28 Maret 2024, ketika dr. Yenny resmi diangkat sebagai Direktur Utama hingga tahun 2027. Dalam struktur perusahaan, ia juga tercatat memiliki hubungan afiliasi dengan Komisaris Utama Perseroan Jemmy Kurniawan.

Di bawah kepemimpinannya, MEDS kini sedang mencoba melakukan transformasi bisnis yang cukup besar. Perseroan yang selama ini dikenal sebagai produsen masker kesehatan merek Evo Plusmed berupaya mengurangi ketergantungan pada bisnis alat kesehatan yang mengalami tekanan pasca pandemi. 

Strategi tersebut diwujudkan melalui rencana ekspansi ke industri fabrikasi logam dan jasa pemesinan presisi.

Profil MEDS

Secara historis, MEDS memiliki cerita yang cukup unik. Perseroan berdiri pada 31 Desember 2010 dan mulai beroperasi pada Maret 2011 dengan fokus memproduksi masker bedah tiga lapis. 

Nama Hetzer Medical sempat dikenal luas saat pandemi Covid-19 karena menjadi salah satu produsen masker domestik yang membantu memenuhi kebutuhan nasional melalui berbagai program pemerintah bersama BIN dan BNPB. 

Selain masker, perusahaan juga memproduksi bouffant cap dan mendistribusikan hand sanitizer. Perseroan juga mengantongi sertifikasi CPAKB yang menjadi standar mutu industri alat kesehatan.

Di pasar modal, MEDS resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 10 Agustus 2022 melalui penawaran umum perdana sebanyak 312,5 juta saham dengan harga IPO Rp125 per saham. Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan menghimpun dana sekitar Rp39 miliar. 

MEDS memiliki free float sebesar 42,83 persen, jauh lebih besar dibanding banyak emiten berkapitalisasi kecil lainnya. Free float yang relatif besar ini membuat saham lebih likuid, tetapi juga membuat harga lebih sensitif terhadap sentimen pasar karena jumlah saham yang beredar di publik cukup banyak.

Fluktuasi Harga Saham

Jika melihat pergerakan sahamnya saat ini, MEDS masih menghadapi tantangan yang tidak ringan. Pada perdagangan terakhir, saham ditutup di level Rp74 setelah turun 5,13 persen dari posisi sebelumnya Rp78. 

Harga tersebut sudah berada jauh di bawah harga IPO Rp125 dan mencerminkan masih rendahnya kepercayaan pasar terhadap kemampuan perusahaan mencetak pertumbuhan laba dalam jangka pendek.

Struktur order book juga menunjukkan tekanan jual yang masih cukup dominan. Di sisi bid, antrean beli terbesar berada di level Rp67 hingga Rp74 dengan total sekitar 97 ribu lot. Sementara di sisi offer, antrean jual mencapai lebih dari 276 ribu lot atau hampir tiga kali lipat lebih besar dibanding antrean beli. 

Data transaksi harian juga memperlihatkan tekanan tersebut. Nilai pembelian tercatat Rp95,6 juta, sementara nilai penjualan mencapai Rp114,4 juta. 

Agenda RUPS dan Pubex

Namun justru di tengah kondisi itulah agenda RUPS pada 22 Juni menjadi sangat penting. Agenda utama yang akan dimintakan persetujuan kepada pemegang saham adalah penambahan kegiatan usaha baru di bidang industri barang logam dan fabrikasi logam lainnya dengan kode KBLI 25999. 

Untuk merealisasikan ekspansi tersebut, perusahaan menyiapkan investasi sekitar Rp8,97 miliar.

Manajemen melihat peluang memanfaatkan mesin CNC yang selama ini dimiliki untuk memasuki bisnis pemesinan presisi, termasuk pembuatan komponen otomotif, heatsink, dan berbagai komponen logam industri lainnya. 

Langkah ini menjadi upaya diversifikasi di luar bisnis alat kesehatan yang pertumbuhannya melambat pasca pandemi.

Alasan utama di balik ekspansi tersebut terlihat jelas dari kinerja keuangan perusahaan. Sepanjang 2025, MEDS membukukan rugi bersih Rp8,35 miliar. Namun dengan tambahan lini usaha baru, manajemen memproyeksikan kondisi akan berbalik drastis pada 2026. 

Perseroan menargetkan penjualan mencapai Rp41,96 miliar dan laba bersih sebesar Rp7,51 miliar. Bahkan khusus dari bisnis baru fabrikasi logam, perusahaan memperkirakan kontribusi laba bersih sekitar Rp4,41 miliar pada tahun pertama operasional.(*)

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Yunila Wati

Telah berkarier sebagai jurnalis sejak 2002 dan telah aktif menulis tentang politik, olahraga, hiburan, serta makro ekonomi. Berkarier lebih dari satu dekade di dunia jurnalistik dengan beragam media, mulai dari media umum hingga media yang mengkhususkan pada sektor perempuan, keluarga dan anak.

Saat ini, sudah lebih dari 1000 naskah ditulis mengenai saham, emiten, dan ekonomi makro lainnya.

Tercatat pula sebagai Wartawan Utama sejak 2022, melalui Uji Kompetensi Wartawan yang diinisiasi oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), dengan nomor 914-PWI/WU/DP/XII/2022/08/06/79