Logo
>

Di Balik Sirkus Keputusan BI: Rupiah dan Pasar Terombang-ambing

Ketika ketidakpastian kebijakan global melambung, setiap keputusan bank sentral yang sulit diprediksi berpotensi menambah beban

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Di Balik Sirkus Keputusan BI: Rupiah dan Pasar Terombang-ambing
Ilustrasi Kantor Bank Indonesia. Foto: Dok KabarBursa.com

Poin Penting :

    KABARBURSA.COM - Manuver Bank Indonesia (BI) belakangan ini ibarat tarian di atas pisau; setiap langkah untuk menyeimbangkan stabilitas dan pertumbuhan sering berujung pada kejutan, bukan sinyal yang jelas bagi pasar. Investor pun berada dalam posisi waspada, menanti keputusan suku bunga yang akan diumumkan Rabu, 19 November 2025.

    Bank sentral kerap melenceng dari ekspektasi pasar. Dari sepuluh rapat kebijakan tahun ini, lima di antaranya mengejutkan pasar, termasuk keputusan bulan lalu untuk mempertahankan suku bunga acuan. Januari dan September menjadi momen lain saat BI mengejutkan hampir semua analis dengan pemangkasan suku bunga.

    Bank of America menyoroti ketidakpastian yang meningkat ini dalam catatan tertanggal 7 November, mengulas beberapa tahun kebijakan BI. Terdata, pada 2018 BI memberi tiga kejutan, sementara pada tahun-tahun lain paling banyak dua kali.

    Ketika ketidakpastian kebijakan global melambung, setiap keputusan bank sentral yang sulit diprediksi berpotensi menambah beban sentimen investor, ujar Euben Paracuelles, ekonom Nomura Holdings. Ia menggunakan indikator risiko eksternal harian—mulai dari indeks dolar AS, imbal hasil Treasury, hingga volatilitas pasar—untuk memperkirakan respons BI.

    Mayoritas analis memprediksi BI akan menahan suku bunga Rabu ini guna meredam tekanan terhadap rupiah, mata uang dengan performa terburuk di Asia tahun ini. Survei Bloomberg menunjukkan 28 dari 33 ekonom memperkirakan BI-Rate tetap di 4,75 persen, sedangkan sisanya memproyeksikan pemangkasan 25 bps. Seperti dilansir Bloomberg di Jakarta, Rabu 19 November 2025.

    BI, yang selama ini menekankan stabilitas rupiah dan harga, memperoleh mandat tambahan pada akhir 2022 untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Tambahan mandat ini menambah kompleksitas keputusan BI, terutama di tengah gejolak ekonomi global dan kebutuhan untuk selaras dengan agenda pertumbuhan Presiden Prabowo Subianto.

    Bank sentral harus gesit menyeimbangkan dorongan pertumbuhan dengan stabilitas rupiah. Akibatnya, langkah-langkah BI lebih reaktif daripada tersinyal lebih awal, membuat pasar sulit menyelaraskan ekspektasi, kata Krystal Tan, ekonom Australia & New Zealand Banking Group. Tahun ini, rupiah melemah 3,8 persen terhadap dolar AS, sementara ringgit Malaysia dan baht Thailand menguat setidaknya 5 persen.

    Seperti The Federal Reserve dan bank sentral lainnya, BI menghadapi tekanan untuk mendukung percepatan pertumbuhan ekonomi pemerintah. Di kawasan, Bank of Thailand dan Bangko Sentral ng Pilipinas mengejutkan pasar pada 40 persen rapat kebijakan mereka tahun ini, seiring perbedaan tingkat pelonggaran moneter, menurut Lavanya Venkateswaran, ekonom OCBC.

    Lavanya menilai BI kemungkinan memangkas suku bunga 25 bps pada Rabu. Fokus BI pada pertumbuhan tetap berhati-hati karena inflasi masih terjaga. Jalur menuju suku bunga lebih rendah telah tersinyal, namun waktu pelaksanaannya bergantung pada volatilitas mata uang. Dengan rapat kebijakan bulanan, BI memiliki ruang fleksibilitas lebih besar terkait waktu pemangkasan.

    Semakin Tidak Terduga

    Sebagian investor khawatir BI dapat kembali mengubah arah kebijakan dalam waktu dekat, kata Kai Wei Ang dan Rahul Bajoria, analis BofA Securities. Meski demikian, lemahnya permintaan domestik dan perlambatan pertumbuhan kuartal III membuat BI diperkirakan tetap mempertahankan bias pelonggaran.

    Gubernur BI Perry Warjiyo, pada 12 November, menaikkan proyeksi pertumbuhan 2025 sedikit di atas titik tengah 4,7–5,5 persen, dari 4,6–5,4 persen. Ia juga menegaskan pemangkasan suku bunga tambahan menuju 2026 masih mungkin, meski waktu dan besarnya sangat bergantung pada stabilitas rupiah serta risiko inflasi.

    Bahkan jika ekonomi membutuhkan dorongan, kebijakan tidak selalu berbentuk penurunan suku bunga. Saat mempertahankan suku bunga Oktober lalu, Warjiyo meluncurkan langkah-langkah untuk mendorong bank menyalurkan biaya pinjaman lebih rendah kepada nasabah.

    Nomura memprediksi BI akan menahan suku bunga Rabu ini, mengutip kewaspadaan tinggi terhadap risiko eksternal. Rupiah melemah 0,7 persen terhadap dolar AS bulan ini, seiring arus keluar modal asing yang menghapus seluruh masukannya ke obligasi pemerintah sepanjang tahun.

    Selain itu, BI perlu mencermati inflasi. Harga pangan bergejolak naik 6,6 persen pada Oktober secara tahunan, mendorong inflasi utama ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir.(*)

    Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

    Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

    Gabung Sekarang

    Jurnalis

    Pramirvan Datu

    Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.