Logo
>

Disrupsi Selat Hormuz bikin Minyak Mendidih Hampir 5 Persen

Konstelasi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel berhadapan dengan Iran disebut-sebut sebagai gangguan paling masif

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Disrupsi Selat Hormuz bikin Minyak Mendidih Hampir 5 Persen
Ilustrasi minyak dunia. Foto: dok Pertamina

KABARBURSA.COM - Harga minyak dunia meroket pada Kamis, dipicu meningkatnya keraguan pasar bahwa jalur diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran mampu segera meredam disrupsi pasokan energi dari kawasan Timur Tengah yang masih dilanda konflik berkepanjangan.

Minyak mentah berjangka Brent—acuan global—ditutup melonjak USD4,46 atau sekitar 4,7 persen ke level USD99,39 per barel, menurut laporan Reuters dari New York, Jumat 17 April 2026 pagi WIB. Di sisi lain, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) sebagai patokan Amerika Serikat turut menguat signifikan, naik USD3,40 atau 3,7 persen menjadi USD94,69 per barel.

Konstelasi geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel berhadapan dengan Iran disebut-sebut sebagai gangguan paling masif terhadap rantai pasok minyak dan gas global sepanjang sejarah modern. Episentrum gangguan terletak di Selat Hormuz—arteri vital yang mengalirkan sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair dunia.

Tersendatnya jalur tersebut memicu penyusutan pasokan global secara progresif. Negara-negara konsumen kini bertumpu pada cadangan yang kian tergerus. Setiap hari tanpa normalisasi pelayaran memperuncing tekanan di pasar energi internasional.

Analis PVM, John Evans, menyuarakan skeptisisme terhadap prospek resolusi cepat. Ia menilai setiap sinyal positif kerap dikontraskan oleh perkembangan yang berseberangan, menciptakan lanskap ketidakpastian yang sulit diredam.

Sumber dari Iran mengindikasikan bahwa negosiator kedua negara mulai menurunkan ambisi. Alih-alih kesepakatan damai komprehensif, fokus kini bergeser ke perjanjian sementara guna menahan eskalasi konflik.

Di tengah dinamika tersebut, Presiden AS Donald Trump kembali mengklaim bahwa kesepakatan dengan Iran berada di ambang realisasi. Namun, pernyataan serupa sebelumnya terbukti tidak mampu menggugah respons signifikan di pasar minyak. Bahkan, pengumuman gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon nyaris tak menggerakkan harga.

Disrupsi pasokan mulai menekan cadangan energi global, khususnya bahan bakar jet di sejumlah kawasan Asia dan Afrika. Analis ING memperkirakan sekitar 13 juta barel per hari aliran minyak terdampak akibat terganggunya akses melalui Selat Hormuz.

Data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah sebesar 913 ribu barel pada pekan lalu—berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memproyeksikan kenaikan 154 ribu barel. Stok bensin dan bahan bakar distilat juga menyusut, didorong peningkatan ekspor AS ke negara-negara yang berupaya mencari substitusi pasokan dari Timur Tengah.

Analis TP ICAP, Scott Shelton, menilai meskipun belum terjadi eskalasi militer langsung, volume kapal yang melintasi Selat Hormuz masih jauh dari normal. Kondisi ini mempercepat erosi cadangan global, yang kini mulai terasa dampaknya bahkan di Amerika Serikat.

Dalam perkembangan mutakhir, pejabat Amerika dan Iran tengah mempertimbangkan kelanjutan dialog damai di Pakistan dalam waktu dekat—bahkan berpotensi digelar secepat akhir pekan ini.

Sumber yang memahami posisi Teheran menyebut Iran membuka peluang untuk kembali mengaktifkan jalur pelayaran di sisi Oman Selat Hormuz, dengan syarat tercapai kesepakatan guna mencegah konflik lanjutan pasca gencatan senjata dua pekan yang dimulai sejak 8 April.

Namun demikian, blokade Amerika terhadap pelabuhan Iran setelah kegagalan perundingan sebelumnya berpotensi memperparah gangguan pasokan. Meski begitu, sejumlah kapal tanker yang dikenai sanksi dilaporkan masih mampu menembus jalur tersebut.

Di sisi lain, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa Washington tidak akan memperpanjang relaksasi sanksi terhadap sebagian ekspor minyak Iran dan Rusia—sebuah langkah yang berpotensi menambah tekanan pada keseimbangan pasokan energi global.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.