Logo
>

Mengapa IHSG Terus Bergantung pada Saham-Saham Prajogo?

Dominasi saham grup Prajogo Pangestu kembali mengangkat IHSG. Apa dampaknya bagi struktur pasar dan investor?

Ditulis oleh Moh. Alpin Pulungan
Mengapa IHSG Terus Bergantung pada Saham-Saham Prajogo?
IHSG kembali ditopang saham grup Prajogo Pangestu. Simak analisis konsentrasi transaksi, peran blue chip, dan risiko pasar. Gambar dibuat oleh AI untuk KabarBursa.

KABARBURSA.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat ditutup menguat1,21 persen ke level 6.204,62 pada perdagangan Kamis, 29 Mei 2026, meski keesokanharinya kembalimenurun. Namun di balik kenaikan tersebut, struktur penggerak pasar menunjukkan cerita yang berbeda.

Alih-alih ditopang secara merata oleh saham-saham berfundamental kuat dari berbagai sektor, reli IHSG justru masih bertumpu pada segelintir saham konglomerasi, khususnya kelompok emiten yang terafiliasi dengan pengusaha Prajogo Pangestu.

Data perdagangan hari itu menunjukkan nilai transaksi seluruh pasar (all market) mencapai Rp18,98 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp11,42 triliun atau lebih dari 60 persen terkonsentrasi hanya pada 10 saham dengan nilai transaksi terbesar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa kenaikan IHSG belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan yang merata di seluruh pasar saham.

Researcher Komunitas Pintar Saham, Skydrugz27, menilai pergerakan IHSG masih sangat dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan pada sejumlah saham tertentu.

“Jadi kalau investor bertanya kenapa IHSG bisa hijau, jawabannya sederhana. IHSG hari ini lebih banyak ditarik saham Prajogo, bukan karena seluruh pasar sudah pulih merata,” tulis Skydrugz27 dalam analisisnya yang dilihat Ahad, 31 Mei 2026.

Prajogo Jadi Pusat Gravitasi Pasar

Dominasi paling mencolok datang dari kelompok saham Barito. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menjadi saham dengan nilai transaksi terbesar mencapai Rp2,68 triliun. Meski demikian, saham ini justru ditutup turun 3,16 persen ke level Rp1.840.

Sementara itu, PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) membukukan transaksi Rp1,96 triliun dan melonjak 25 persen hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA).

PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat nilai transaksi Rp1,30 triliun dengan kenaikan 23,79 persen. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyumbang transaksi Rp1,02 triliun dan naik 24,75 persen, sedangkan PT Petrosea Tbk (PTRO) mencatat transaksi Rp832,55 miliar setelah melesat 22,19 persen.

Jika digabungkan, lima saham tersebut menghasilkan nilai transaksi sekitar Rp7,81 triliun. Angka itu setara sekitar 41 persen dari total transaksi seluruh pasar pada hari tersebut. Besarnya porsi tersebut membuat kelompok Prajogo menjadi pusat gravitasi utama perdagangan saham domestik.

Di sisi lain, saham-saham yang selama ini dianggap sebagai representasi fundamental pasar justru belum menunjukkan daya dorong yang sama. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat transaksi Rp1,48 triliun, tetapi harga sahamnya turun 2,93 persen menjadi Rp5.800.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) membukukan transaksi Rp485,77 miliar dengan kenaikan tipis 0,97 persen ke level Rp4.170. Secara gabungan, transaksi BBCA dan BMRI hanya mencapai sekitar Rp1,96 triliun atau sekitar 10 persen dari total transaksi pasar.

Kondisi serupa terlihat pada sejumlah saham ekonomi lama (old economy) lainnya. PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) mencatat transaksi Rp600,38 miliar dan naik 10,29 persen. PT Astra International Tbk (ASII) membukukan transaksi Rp564,70 miliar dengan kenaikan 0,98 persen, sementara PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) mencatat transaksi Rp485,43 miliar dan naik 1,29 persen.

Meski saham-saham tersebut masih aktif diperdagangkan, kontribusinya belum mampu menandingi dominasi kelompok Barito dalam membentuk arah indeks.

Apa Artinya bagi Investor?

Fenomena ini memberikan sinyal penting bagi investor. Kenaikan IHSG tidak selalu berarti mayoritas saham sedang berada dalam tren yang sama. Dalam kondisi tertentu, pergerakan beberapa saham berkapitalisasi besar dapat menciptakan ilusi bahwa pasar sedang pulih secara menyeluruh, padahal likuiditas dan minat investor masih terkonsentrasi pada sejumlah emiten tertentu.

Bagi pelaku pasar, kondisi seperti ini sering disebut sebagai reli dengan breadth yang sempit. Artinya, indeks bergerak naik, tetapi jumlah saham yang benar-benar menjadi motor penggerak masih terbatas.

Situasi tersebut tidak selalu negatif. Namun, banyak analis menilai reli yang lebih sehat biasanya ditandai oleh partisipasi yang lebih luas dari berbagai sektor, termasuk perbankan, konsumer, telekomunikasi, hingga industri.

Karena itu, pertanyaan yang kini mulai muncul bukan lagi apakah IHSG mampu naik, melainkan apakah kenaikan tersebut dapat bertahan ketika saham-saham konglomerasi tidak lagi menjadi satu-satunya mesin penggerak pasar.

Jika pemulihan mulai menyebar ke kelompok blue chip dan sektor riil lainnya, reli pasar berpotensi menjadi lebih kokoh. Sebaliknya, jika konsentrasi transaksi tetap terkunci pada segelintir saham, maka ketergantungan IHSG terhadap kelompok tertentu akan terus menjadi perhatian investor dalam beberapa waktu ke depan. (*)
 

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Moh. Alpin Pulungan

Asisten Redaktur KabarBursa.com. Jurnalis yang telah berkecimpung di dunia media sejak 2020. Pengalamannya mencakup peliputan isu-isu politik di DPR RI, dinamika hukum dan kriminal di Polda Metro Jaya, hingga kebijakan ekonomi di berbagai instansi pemerintah. Pernah bekerja di sejumlah media nasional dan turut terlibat dalam liputan khusus Ada TNI di Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Subianto di Desk Ekonomi Majalah Tempo.

Lulusan Sarjana Hukum Universitas Pamulang. Memiliki minat mendalam pada isu Energi Baru Terbarukan dan aktif dalam diskusi komunitas saham Mikirduit. Selain itu, ia juga merupakan alumni Jurnalisme Sastrawi Yayasan Pantau (2022).