KABARBURSA.COM - PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) melalui keterbukaan informasi kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mengumumkan adanya transaksi afiliasi berupa pembagian dividen oleh anak usahanya, PT Agro Multi Persada (AMP).
Nilai dividen yang dibagikan tidak kecil, mencapai Rp1,29 triliun. Lantas, berapa potensi cuan yang didapat TAPG dari nilai dividen tersebut?
Jika dilihat dari Struktur kepemilikan saham, TAPG menguasai 94,93 persen saham AMP. Sari total dividen sebesar Rp1,29 triliun, potensi dana yang mengalir ke TAPG mencapai sekitar sekitar Rp1,22 triliun.
Sementara, sisanya akan diterima oleh pemegang saham minoritas, yaitu PT Tri Nur Cakrawala (1,97 persen), PT Triputra Investindo Arya (1,91 persen), dan PT Daya Adicipta Mustika (1,19 persen).
Nilai Rp1,22 triliun tersebut bukan angka yang kecil.
Jika dibandingkan dengan laba bersih TAPG pada kuartal pertama 2026 sebesar Rp767 miliar, maka dividen dari AMP bahkan setara dengan sekitar 159 persen laba bersih kuartalan perusahaan.
Meski secara akuntansi transaksi ini tidak memberikan dampak material terhadap operasional maupun kondisi keuangan karena masih berada dalam satu grup usaha, dari sisi likuiditas kas tambahan dana tersebut tentu memperkuat fleksibilitas perusahaan.
Artinya, TAPG memiliki ruang yang lebih besar untuk mendanai ekspansi, mengurangi utang, atau bahkan mempertahankan kebijakan dividen kepada pemegang sahamnya di masa mendatang.
Fundamental Masih Menunjukkan Kualitas
Tambahan kas tersebut datang ketika kondisi fundamental TAPG sebenarnya masih berada dalam jalur yang sehat.
Pada kuartal pertama 2026, perusahaan membukukan:
- Pendapatan Rp2,49 triliun
- Laba usaha Rp656 miliar
- Laba sebelum pajak Rp915 miliar
- Laba bersih Rp767 miliar
Meski angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencapai Rp1,07 triliun, secara historis TAPG masih mampu menjaga profitabilitas di level yang sangat baik.
Kualitas tersebut juga tercermin dari berbagai rasio keuangan. Return on Assets (ROA) masih berada di 4,80 persen, Return on Equity (ROE) mencapai 6,19 persen, sedangkan EBITDA masih sangat solid di kisaran Rp833,6 miliar.
Interest Coverage Ratio bahkan mencapai 41,89 kali, menunjukkan kemampuan perusahaan membayar beban bunga masih sangat kuat.
Valuasi TAPG juga relatif menarik. Dengan EPS kuartalan Rp37,26 dan PER sekitar 50,99 kali, perusahaan memang tidak dapat dikatakan murah dibandingkan sebagian emiten perkebunan lainnya. Namun premium valuasi tersebut selama ini didukung oleh konsistensi laba dan efisiensi operasional.
Pasar Memilih Berhati-Hati
Menariknya, sentimen positif tersebut belum langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga saham. Pada sesi perdagangan berjalan, TAPG justru berada di level Rp1.495, turun 20 poin atau 1,32 persen dari penutupan sebelumnya di Rp1.515.
Saham sempat dibuka di Rp1.545 dan bahkan menyentuh harga tertinggi Rp1.575, sebelum tekanan jual membawa harga turun hingga Rp1.480. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp31,7 miliar dengan volume 208,59 ribu lot, sementara rata-rata harga transaksi berada di level Rp1.520.
Saat ini, sepertinya investor lebih memilih melakukan profit taking, terutama setelah harga sempat bergerak menguat di awal perdagangan. Kondisi ini cukup lazim, mengingat pembagian dividen oleh anak usaha memang lebih banyak dipandang sebagai optimalisasi kas internal dibandingkan katalis yang secara langsung meningkatkan laba konsolidasi.
Namun dari perspektif yang lebih panjang, cerita TAPG masih memiliki daya tarik. Tambahan potensi kas sekitar Rp1,22 triliun memberikan bantalan likuiditas yang lebih tebal bagi perusahaan.
Dikombinasikan dengan fundamental yang masih menghasilkan laba ratusan miliar rupiah setiap kuartal dan rasio keuangan yang sehat, TAPG tetap berada dalam posisi yang relatif nyaman dibandingkan banyak emiten di sektor perkebunan.(*)
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.