Logo
>

Dolar AS Naik Tipis, Investor Cermati Arah Perundingan Iran

Kenaikan ini dipicu oleh pemulihan teknikal setelah fase pelemahan sebelumnya, di tengah perhatian investor yang tertuju pada dinamika perundingan damai antara Washington dan Teheran

Ditulis oleh Pramirvan Datu
Dolar AS Naik Tipis, Investor Cermati Arah Perundingan Iran
Ilustrasi Mata Uang Dolar Amerika. Foto: Dok KabarBursa.com

KABARBURSA.COM - Dolar Amerika Serikat menunjukkan penguatan terhadap sejumlah mata uang utama. Kenaikan ini dipicu oleh pemulihan teknikal setelah fase pelemahan sebelumnya, di tengah perhatian investor yang tertuju pada dinamika perundingan damai antara Washington dan Teheran.

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa konflik antara Amerika Serikat-Israel dan Iran berada di ambang akhir. Gedung Putih turut memancarkan optimisme, mengisyaratkan peluang pertemuan lanjutan kedua pihak yang direncanakan berlangsung di Pakistan pada akhir pekan, sebagaimana dilaporkan Reuters  Jumat 17 Apriil 2026 pagi WIB.

Meski demikian, perbedaan mendasar masih membayangi. Seorang pejabat Iran menegaskan bahwa jurang kepentingan antara kedua negara belum sepenuhnya terjembatani, khususnya terkait ambisi nuklir Teheran, walaupun sejumlah kemajuan dalam dialog telah tercapai.

Di pasar valuta asing, euro tergelincir dari puncak tertinggi tujuh pekan di USD1,1823 dan terakhir tercatat melemah 0,1 persen ke level USD1,1782. Pergerakan ini mencerminkan tekanan moderat terhadap mata uang tunggal Eropa.

Indeks Dolar AS (DXY), yang merefleksikan kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, naik 0,2 persen ke posisi 98,19. Sebelumnya, indeks tersebut sempat menyentuh titik terendah sejak akhir Februari sebelum berbalik arah, mencatatkan laju penguatan harian terbesar dalam dua pekan terakhir.

Namun, dalam lanskap yang lebih luas, indeks DXY masih mencatatkan tren penurunan selama delapan sesi beruntun sebelumnya. Pelemahan itu menggerus sebagian besar penguatan yang sempat terbentuk akibat eskalasi konflik Timur Tengah, seiring meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko setelah munculnya harapan gencatan senjata.

Pelaku pasar tetap bersikap waspada. Ketidakpastian dinilai belum sepenuhnya mereda, mengingat gencatan senjata antara Amerika dan Iran masih bersifat temporer dan dijadwalkan berakhir pekan depan. Selain itu, prospek inflasi global terus menjadi variabel krusial yang membayangi pergerakan mata uang.

Analis Brown Brothers Harriman, Elias Haddad, menilai penguatan dolar saat ini lebih mencerminkan rebound teknikal ketimbang perubahan fundamental. Ia memproyeksikan kondisi makro mata uang dalam beberapa bulan mendatang cenderung netral, dengan sentimen tetap dipengaruhi perkembangan jalur diplomatik. Penguatan dolar pada Kamis pun diperkirakan memiliki ruang yang terbatas.

Sementara itu, analis Ameriprise, Anthony Saglimbene, melihat pasar mulai menjauh dari skenario ekstrem yang sebelumnya membayangi. Investor kini perlahan menyesuaikan ekspektasi menuju kondisi yang lebih moderat dan terukur.

Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,2 persen ke level 159,21 yen. Pergerakan ini turut dipengaruhi pernyataan Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama, yang mengungkapkan kesepakatan antara Jepang dan Amerika Serikat untuk meningkatkan komunikasi terkait stabilitas nilai tukar, menyusul pertemuan dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent.

Dari sisi fundamental, data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan ketahanan yang relatif solid. Klaim awal tunjangan pengangguran turun 11.000 menjadi 207.000 pada pekan yang berakhir 11 April—lebih baik dari estimasi ekonom sebesar 215.000—mengindikasikan pasar tenaga kerja yang tetap resilien.

Di Eropa, poundsterling melemah 0,2 persen ke USD1,3534 setelah sempat menyentuh titik terendah sejak pertengahan Februari. Meski demikian, pelemahan tersebut sempat terpangkas setelah data menunjukkan ekonomi Inggris tumbuh lebih kuat dari perkiraan pada Februari, yakni meningkat 0,5 persen secara bulanan.

Di kawasan Asia, yuan offshore China diperdagangkan di level 6,8231 per dolar AS, melemah sekitar 1 persen. Mata uang ini sebelumnya sempat menguat, didorong data yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi China mencapai 5 persen pada kuartal pertama—melampaui ekspektasi berkat dukungan ekspor dan stimulus kebijakan.

Dolar Australia, yang kerap dipandang sebagai barometer sentimen risiko global, sempat menyentuh level tertinggi empat tahun di USD0,7197 sebelum berbalik melemah ke USD0,7159. Data ketenagakerjaan yang sejalan dengan ekspektasi turut menjaga peluang kenaikan suku bunga oleh Reserve Bank of Australia pada Mei, dengan probabilitas pasar diperkirakan mencapai 70 persen.(*)

Dapatkan Sinyal Pasar Saat Ini

Ikuti kami di WhatsApp Channel dan dapatkan informasi terbaru langsung di ponsel Anda.

Gabung Sekarang

Jurnalis

Pramirvan Datu

Pram panggilan akrabnya, jurnalis sudah terverifikasi dewan pers. Mengawali karirnya sejak tahun 2012 silam. Berkecimpung pewarta keuangan, perbankan, ekonomi makro dan mikro serta pasar modal.